Petani Kakao Butuh Sapi dan Bibit Sawit


Senin, 01 Agustus 2016 - 11:19:45 WIB
Petani Kakao Butuh Sapi dan Bibit Sawit Anggota Komisill DPRD Sumbar Evel saat melihat tanaman perkebunan kakao di Nagari Kubang, Kota Sawahlunto, Selasa (26/7). Petani kakao meminta bantuan berupa sapi untuk mengembangkan kakao, karena kotoran sapi dapat dijadikan pupuk dan kulit buah kakao dapat jadi makanan sapi. (RIVO SEPTI ANDRIES)

SAWAHLUNTO, HALUAN — Kakao masih menjadi komoditas unggulan di Sumatera Barat, salah satu wilayah yang fokus mengembangkan tanaman perkebunan tersebut adalah Sawahlunto. Kota Tambang tersebut dapat menghasilkan 1 ton kakao per bulan.

Hal ini disampaikan oleh Kabid Kehutanan dan Per­kebuanan Dinas Pertanian dan Kehutanan Kota Sawahlunto Erwin, saat kunjungan ang­gota DPRD Sumbar di Nagari Kubang, Kota Sawahlunto, kepada Haluan, Selasa (26/7).

Ia menjelaskan, kakao di Sawahlunto sudah diolah men­­jadi produk olahan beru­pa coklat dan bekerjasama dengan Dinas Perindustrian Sawah­lunto dari segi mesin pe­ngo­lahan. “Kami sudah bekerja sama dengan dinas lainnya salah satunya untuk pe­ngo­lahan kakao dengan dinas perin­dustrian. Kami juga be­rencana akan membuka gerai di Bandara Internasional Mi­nangkabau (BIM),” terangnya.

Ketua Komisi ll DPRD Sumbar Rahmat Saleh me­ngatakan, selama ini sudah ada bantuan dari provinsi berupa bibit kakao di berbagai daerah dan di Sawahlunto sudah masuk tahun kedua. “Untuk pendek saya melihat petani sudah memakai teknik tumpang sari, dan jangka panjang mereka tanam coklat lalu mereka juga meminta bantuan berupa sapi,” te­rangnya.

Rahmat menjelaskan, per­min­taan petani adanya ban­tuan berupa sapi karena he­wan tersebut dapat membantu pengembangan kakao dan kesejahteraan petani. DPRD pun menurutnya mendukung permintaan petani dan harus diajukan oleh SKPD terkait baik kepada Kota Sawahlunto dan tingkat provinsi.”Kami mendukung permintaan pe­tani, dan akan kami bahas dalam perubahan anggaran. Dan permintaan sapi ini juga bagus sapi dapat memakan kulit buah kakao dan ko­to­rannya juga menjadi pupuk,” ujarnya.

Tingginya Permintaan Bibit Sawit

Sementara di Kabupaten Sijunjung bibit kakao hanya dapat dikembangkan di wila­yah perkampungan bukan di kawasan hutan. Namun per­mintaan warga untuk bibit sawit justri meningkat.

Kasi Budidaya Per­lin­du­ngan Tanaman dan Per­ke­bunan Kabupaten Sijunjung Syafrialdi mengatakan, pada tahun 2015 ada bantuan dari pemrintah provinsi berupa bibit sebanyak 25 ribu. Untuk perkembangannya warga ha­nya dapat menanam di per­karangan rumah karena ba­nyak­nya hama sepeti kera. “Disini kakao banyak ditanam di sekitar pekarangan rumah, jika ditanam dikawasan hutan banyak kera yang akan me­rusak dan memakannya. Dan sini warga malah banyak yang mengajukan permohonan un­tuk meminta bibit sawit,” terangnya.

Ia menambahkan, sudah ada sekitar 150 hektare per­mohanan pembukaan lahan untuk kepala sawit di Ka­bupaten Sijunjung. Dua dae­rah yang banyak per­mintaan berada di wilayah Kambang Baru dan Kiliran Jao.

Ketua Komisi ll DPRD Sumbar Rahmat Saleh di­dampingi, anggota lainnya seperti Armiati, Suhemdi, Ah­mad Khaidir, Rahayu Purwati, Algazali, dan Evel men­je­laskan, di lapangan terkadang alat yang diberikan kepada petani tidak digunakan, ia mencotohkan gunting dan mesin fermentasi yang belum digunakan oleh petani. “Kami berharap basamo mako men­jadi, namun disini masih cen­deung perorang, salah satu saran kami adanya kelompok tani yang mempunyai ko­perasi. Dengan adanya ko­pe­rasi makan semua dilakukan secara bersama sa­ma,” pa­parnya.

“Kami pernah kunjungan ke Payakumbuh, disana ada hibah rumah potong hewan, inves­tasinya miliaran tapi tidak efektif. Dan kami selalu men­dorong SKPD terkait un­tuk membua kajian kajian terlebih dahulu,” tambahnya. (h/rvo)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]