Banjir, Beban Sebuah Kota


Selasa, 02 Agustus 2016 - 03:21:45 WIB

Pada awal abad ke 21, semua orang tidak ra­gu untuk mengatakan bahwa kota-kota men­jadi tempat yang semakin rentan ter­ha­dap ancaman bencana. Hal ini dapat kita buk­ti­kan sendiri di Kota Padang Tercinta. Sebagai se­buah kota yang pernah tercabik akibat gem­pa 2009 lalu, Padang tentu tengah ber­be­nah.

Pembangunan fisik yang tadinya hanya terpusat di kawasan pesisir pantai kini sudah mulai digeser ke arah timur, dekat ketinggian.  Kawasan perumahan makin banyak, bahkan perkantoran, baik pemerintahan maupun swasta dan gudang sudah lebih berdiri kokoh di sekitar jalan By Pass hingga ke arah Timur.

Risiko bencana meningkat pada kawasan perkotaan dimana terkonsentrasi sebagian besar kegiatan antropik, terlepas dari peningkatan pengetahuan dan upaya-upaya konstan yang diinvestasikan oleh para pengambil keputusan, pengelola risiko maupun para peneliti yang menjadi imbas atas pembangunan yang dilakukan.

Kota-kota merupakan ruang yang ideal untuk pembentukan risiko bencana, yang menggiring kita untuk menyadari bahwa pembangunan perkotaan dan pembentukan berbagai risiko adalah tidak terpisahkan. 

Banyak dari kota-kota utama Indonesia berada pada daerah berbahaya karena terpapar oleh aneka risiko bencana, baik yang bersifat teknologis karena adanya konsentrasi industri (polusi, kebakaran, ledakan, transport dari bahan B3, dan lain sebagainya), maupun yang bersifat natural (banjir, longsor, tsunami, gunung api, gempa bumi, dan lain sebagainya).

Apabila kita merujuk pada pengalaman ne­gara-negara Eropa seperti Perancis, maka kon­disinya sangat bertolak-belakang, di­mana ke­selamatan sipil merupakan hak individu yang agung yang harus dijamin. Isu mengenai keselamatan sipil sama pentingnya dengan pengakuan terhadap kebebasan individu dan kepemilikan pribadi (seperti hak atas tanah), masyarakat berhak menda­patkan perlin­dungan atas jiwa dan hak miliknya, dimana risiko bencana harus diminimalisir karena secara moral tidak dapat ditolerir.

Atas dasar ini, isu mengenai risiko bencana telah lama menjadi bagian dari kebijakan Pemerintah di Perancis, yang artinya bahwa Pemerintah ber­tang­gung­jawab penuh dalam hal penanganan bencana secara komprehensif.

Persoalan banjir di kota-kota besar Indonesia merupakan kombinasi antara faktor alam dan faktor antropogenik. Faktor pertama adalah hidroklimat tropis (hujan dengan intensitas tinggi dan yang berlangsung lama), sebagaimana yang terjadi pada tahun 1996 dan 2002 di Jakarta, misalnya.

Faktor lain adalah karakteristik geografis dengan ciri perkotaan yang kuat, bahkan terjadi overpopulation di beberapa pulau seperti Jawa dan Bali. Dalam banyak kasus, khususnya Jakarta, proses urbanisasi anarkis dan invasi lahan-lahan rawan banjir - di sempadan sungai adalah hal yang lazim.

Faktor lain yang turut memberikan kontribusi terhadap dampak bencana banjir adalah lemahnya kontrol terhadap peng­gunaan lahan (land use) pada zona-zona rentan banjir. Tentunya, faktor ini hanyalah salah satu dari banyak faktor lain yang menyebabkan tingginya risiko bencana, namun faktor tersebut menunjukkan ren­dah­nya efektivitas instrumen penataan ruang dalam mengatasi persoalan banjir.

Melihat kenyataan di atas, maka ke depan tam­paknya kompromi tidak terhindarkan da­lam pembangunan kota-kota Indonesia. Na­mun, kompromi harus diletakkan dalam fra­me kebijakan yang kuat dan sistematis da­lam perspektif jangka pendek dan jangka pan­jang, dimana kemampuan adaptasi, baik yang bersifat planned adaptation (melalui ini­sia­tif pemerintah) maupun autonomous adap­tation (melalui inisiatif masyarakat) perlu terus dikembangkan. (*)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Jumat, 01 April 2016 - 04:04:02 WIB

    Banjir, Wako, Kita

    Banjir, Wako, Kita Bencana banjir yang melanda wilayah pesisir Sumbar (Padang, Agam, Padang Pariaman, Kota Pariaman) pada 22/3/16, telah melumpuhkan aktivitas masyarakat dan menjadi head line media Sumbar sampai beberapa hari pascabencana..
  • Kamis, 24 Maret 2016 - 04:04:04 WIB

    Banjir, PR Berat Wako Padang

    Kota Padang sudah identik dengan banjir. Setiap kali hujan lebat dalam jangka waktu lama, beberapa lokasi di kota ini terendam banjir. Banjir yang terjadi Selasa (23/3) lalu, merupakan banjir yang terparah sejak 20 tahun lalu.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]