RELAWAN DI PERLINTASAN KERETA API

Ini Urusan Nyawa, Tidak Mungkin Kami Biarkan


Selasa, 02 Agustus 2016 - 03:44:58 WIB
Ini Urusan Nyawa, Tidak Mungkin Kami Biarkan RELAWAN Perlintasan. Jefri, salah seorang pengojek yang juga merupakan relawan perlintasan kereta api di kawasan Pasia Nan Tigo. Setiap hari, dirinya dan Persatuan Ojek Pasia Nan Tigo bergantian menjadi relawan di perlitasan tersebut. (HUDA PUTRA)

Pagi menjelang siang, raungan Sibinuang terdengar sayup dari kejauhan. Tak lama, seorang pria segera bergegas berdiri di tengah jalan untuk menghalangi pengendara yang berlalu lalang di kawasan Pasia Nan Tigo. Kepalanya menoleh ke arah kiri dan belakang jalur kereta memastikan waktu kedatangan si ular besi. Dengan isyarat tangannya, ia mengatur lalu lintas kendaraan agar terhindar dari bahaya.

Pria tersebut bernama Jefri (32). Ia salah seorang pe­ngo­­jek di Simpang Muaro Penjalinan. Dirinya bersama rekan seprofesi lainnya yang ter­ga­bung dalam Persatuan Ojek Pasia Nan Tigo, ber­peran sebagai relawan per­lintasan kereta api di ka­wasan tersebut. Setiap hari, dirinya dengan para pengo­jek lain bergantian menjadi pa­lang hidup perlintasan tersebut.

“Ini urusan nyawa, tidak mung­kin kami biarkan saja. Ini semua murni karena kesadaran kami akan pentingnya keselamatan masyarakat yang melintasi ka­wasan ini, kita tidak tau siapa yang melintas, bisa saja itu ke­luarga kita kan,” ungkap pria yang sudah tiga tahun mengojek ter­sebut saat ditemui Haluan, Senin (1/8) di salah satu warung di depan pangkalan.

Lebih lanjut dirinya mengata­kan, seluruh pengojek yang bera­da di pangkalan tersebut meru­pakan relawan perlintasan kereta. Semua dilakukan tanpa imbalan dan paksaan, “Kalau ada yang di pangkalan biasanya akan lang­sung membantu saat kereta akan lewat. Mereka juga sudah hafal jam-jam kereta melintas. Kadang siapa yang duluan mendengar akan memberi tahu atau langsung saja menghentikan pengendara motor dan mobil yang akan le­wat,” ujarnya.

Bahkan demi keselamatan masyarakat yang melintas, ter­kadang para pengojek terpaksa mengabaikan keselamatan diri sendiri. “Kadang suara klakson kereta api sering terlambat, se­hingga saat berbunyi ternyata sudah dekat, sehingga kami harus segera berlari untuk mencegah orang melintas. Padahal jalanan sedang ramai,” ungkap pria beranak dua tersebut.

Hal selaras diungkapkan Ri­ko (32) pengojek lainnya, pria yang telah sepuluh tahun ber­profesi pengojek ini bercerita bahwa kawasan tersebut belum pernah terjadi kecelakaan, “Al­hamdulillah, disini belum pernah terjadi kecelakaan kereta sejak ada pangkalan di sini. Kawan-kawan yang lain (pengojek) ka­dang dari selesai subuh sudah ada di pangkalan. Jadi mereka sejak pagi hingga sore pasti ada di sini,” ungkapnya.

Pihaknya berharap dan me­minta, agar masinis kereta dapat mem­bunyikan klakson dari jauh sehingga dirinya dan teman-teman yang lain tidak kesulitan. Selain itu dirinya selalu meminta para pengendara yang meng­gunakan mobil untuk membuka kaca mereka saat akan lewat perlintasan untuk keselamatan

“Kami bahkan pernah ke sta­siun untuk memberitahukan hal tersebut. Perlintasan di sini kan tikungan, jadi kita tidak begitu nampak kereta dari jauh. Untuk itu kami berharap bahwa masinis membunyikan klakson dari jauh, sehingga terdengar oleh kami. Sedangkan bagi pengendara, bukalah kaca mobil, jadi bisa terdengar saat kami meminta untuk berhenti, nanti kalau sudah lewat perlintasan, silahkan nai­kan kembali,” jelasnya.

Dirinya juga bercerita bagai­mana beberapa tahun lalu, dia dan teman-teman berusaha meng­hentikan kereta api yang tengah melaju dari Pariaman karena ada sebuah mobil pengangkut semen yang rusak di perlintasan. “Waktu itu kami langsung ke perlintasan di Singgalang, kami berusaha memberi tahu masinis bahwa ada kendaraan rusak di perlintasan, akhirnya beberapa meter sebelum perlintasan Pasia nan Tigo kereta berhasil berhenti,” ceritanya.

Selain itu pengalaman mena­rik lainnya, dirinya pernah meng­hentikan paksa iringan mobil pejabat yang tengah lewat, karena saat itu dirinya telah mendegar klakson kereta api dari jauh. “Pernah waktu itu ada iringan mobil pejabat, kebetulan ken­daraan polisi yang di depan sudah lewat namun pas giliran mobil pejabat terdengar suara klakson kereta. Kami langsung saja meng­hentikan mobil tersebut. Polisi di mobil tersebut sempat keluar tapi inikan demi keselamatan mereka juga,” ujarnya.

Lebih lanjut, dirinya menga­takan, peran warga sekitar perlin­tasan juga sangat besar selama ini dalam menjaga keselamatan pe­ngendara yang lalu lalang, dirinya mencontohkan, sejumlah pemilik kedai yang berada di perlintasan juga membantu memberitau jika ada kereta yang melintas.

Salah satunya adalah Elni (55), salah seorang pedagang lontong di sekitar perlintasan. Setiap pagi terkadang dirinya turut menjadi relawaan kalau seadainya pengo­jek tidak ada. “Kadang saya juga ikut membantu. Soalnya saya jam 06:00 WIB sudah buka warung,” ungkap ibu yang telah berdagang sejak tahun 2005 tersebut.

Dapat Sirup

Dua tahun belakangan ini, para pengojek di Pasia nan Tigo mendapatkan santunan berupa sirup dari PT KAI saat menjelang lebaran. Kendatipun demikian, Riko dan teman-teman yang lai­nya tetap bersyukur, “Kita jadi relawan ini ikhlas, karena demi keselamatan orang banyak,” ung­kap Riko 

Pihaknya pernah mengajukan untuk mendapatkan palang pintu, namun menurutnya belum men­dapakan respon. “Mungkin ka­rena posisi perlintasan ini. Kalau ada palang berarti harus ada pos yang mengontrol kan, kalau ma­nual lebih baik tidak usah karena malah lebih susah,” terangnya.

Selain itu pada musim lebaran kemarin pihak KAI juga me­nempatkan seorang petugas untuk membantu. “Dua hari sebelum hingga sepuluh hari setelah lebe­ran. Tapi petugas hanya sendiri, jadi kami tetap membantu,” sam­bungnya. (*)

 

Laporan: HUDA PUTRA

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]