Semilir Angin TdS 2016


Rabu, 03 Agustus 2016 - 04:16:31 WIB

Sebentar lagi, ajang yang dicita-cita bisa se­gegapgempitanya Tour de France akan kem­bali dihelat.  Tour de Singkarak(TdS), de­mikian perhelatan itu biasa diujar warga. Even berhadiah total Rp2,5 miliar ini bisa di­sebut sebagai ajang olahraga termahal di Sum­bar .

Bagi Sumbar, ini sebenarnya hadiah, ken­dati masih ada yang menebar umpat di setiap su­dut. Bagaimana tidak. Ketika daerah lain melihat gempitanya ajang ini dan mena­nam­kan niat untuk melakukan hal serupa, sebut saja tour de Siak di Riau sana, Tour de Flores di NTT sana, kita di Sumbar seperti tak acuh.

Menteri Pemuda dan Olahraga saja, sampai “iri” dengan pemberian hadiah dari Kementerian Pariwisata kepada public Sumbar. Imam Nahrowi sudah mengam­panyekan pelaksanaan Tour de Indonesia, seperti yang telah digelar rutin di Sumbar lewat TdS-nya. Begitu antusiasnya mereka ketika rang awak di daerahnya sedang  menikmati suguhan pebalap sepeda dunia, berpacu mengayuh sepeda.

Lalu, bagaimana dengan Sumbar? Yach, sudah berupaya pekan terakhir, sejumlah host (tuan rumah pelaksana)yang akan jadi pelepasan pebalap di setiap etape, nyaris tak ada gaung-nya. Ntah kenapa. Daerah seperti menganggap ajang ini sebagai ajang tumpang lewat. Duitnya duit pusat, pelaksananya juga pusat hingga hal-hal kecil sekalipun.

Tapi apakah kita harus abai dengan kondisi yang serba pusat tadi. Tentu seba­liknya. Kita harus fleksibel dan makin kreatif. Bukan duduk menanti, hendaknya mela­kukan sesuatu. Yah, sesuatu yang punya nilai untuk menyelaraskan program pusat yang ditumpangkan ke Sumbar ini.

TdS di Sumbar, kali ini seperti kencang nya laju pebalap, cepat berlalu. Pemerintah da­erah yang akan dilalui pebalap, baik star mau­pun finish seperti gagap. Tak tahu me­lakukan apa. Silahkan hitung, berapa ba­nyak baliho terkait TdS di daerahnya. Belum lagi bran­ding kendaraan roda empat yang ber­siliweran di jalan. Tapi kini? Nyaris tak ada.

Waktu tersisa, apakah mungkin mela­ku­kan lompatan yang bisa membuat daerah men­jadi lebih gempita.Sistem kebut ini se­per­ti bisa menjadi pembeda. Tapi sanksi se­be­narnya. Dalam proses sosialiasi, perlu wak­tu yang cukup panjang untuk menge­lo­la­nya. Itu belum lagi terkait dengan efek­tiv­i­tas pesan. Target yang jelas, dan lain seba­gai­nya yang menjadi standar ukuran proses so­sialisasi yang benar, bukan dipak­sakan me­lalui dua hari ini.

Sedih juga sebenarnya ketika mendengar kabar dari Payakumbuh untuk melibatkan pelajar untuk meramaikan momen pelepasan pebalap di etape pertama. Besar kemung­kinan, tak ada pelajar yang menghebohkan dunia maya ini. Ntah bagaimana jadinya nanti pelaksanaan iven ini jika daerah tak segera mengambil langkah jitu.

TdS sendiri sudah masuk dalam agenda nasional, bahkan internasional. Sayang jika hal ini dibiarkan menghilang, bak semilir angin. Pemerintah pusat sendiri masih getol jelang ajang ini. TdS merupakan magnet yang diharapkan akan dapat menarik wisatawan untuk datang ke Sumbar. Sejak awal perhe­la­tannya, TdS diakui sudah mendongkrak kun­jungan wisata ke daerah itu. Sejalan de­ngan semakin melonjaknya kunjungan wi­sata, putaran uang juga kian kencang. Ujung­nya, membuat angka kemis­kinan turun.

Pa­da ajang ini, Menteri Pariwisata direncanakan akan membuka langsung start di Kabupaten Solok. TdS sendiri akan dimulai pada 6 Agustus dan berakhir pada 14 Agustus mendatang. (*)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]