Minang Mart dan Kedai Minang


Rabu, 03 Agustus 2016 - 04:17:36 WIB
Minang Mart dan Kedai Minang Ilustrasi.

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumatera Barat (Sumbar) berencana mengganti nama Minang Mart menjadi Kedai Minang. Menurut Wakil Gubernur Sumbar, Nasrul Abit, Minang Mart diganti karena merek itu sudah dipakai oleh pengusaha asal Minang di Bandung dan sudah didaftarkan ke Kemenkumham beberapa hari setelah Minang Mart diluncurkan di Padang (Harianhaluan.com, 31 Juli 2016).

Saya menyambut baik peng­­gantian nama tersebut karena saya pernah mengu­sul­kan penggantian nama Mi­nang Mart menjadi Kedai Mi­nang atau Warung Minang dalam artikel saya yang ber­judul “Minang Mart dan Un­dang-Undang Bahasa” (Ha­luan, 19 Juli 2016). Dalam artikel itu, saya menerangkan bahwa penamaan Minang Mart tidak sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2009 tentang Bendera, Bahasa, dan Lam­bang Negara, serta Lagu Ke­bang­saan, karena mart adalah kata dari bahasa Inggris. Da­lam pasal 36 ayat 3 UU terse­but dicetuskan: Bahasa Indo­nesia wajib digunakan untuk nama bangunan atau gedung, jalan, apartemen atau permu­kiman, perkantoran, kompleks perdagangan, merek dagang, lembaga usaha, lembaga pen­didikan, organisasi yang didi­ri­kan atau dimiliki oleh warga negara Indonesia atau badan hukum Indonesia.

Akan tetapi, penggantian na­ma itu belum layak di­apre­siasi. Alasan Pemprov Sumbar mengganti Minang Mart men­jadi Kedai Minang bukan ka­rena kesadaran dan kepatuhan terhadap UU No­mor 24 Tahun 2009, melain­kan karena nama Minang Mart sudah di­gu­nakan pihak lain. Itu alasan yang mem­pri­ha­tinkan.

Yang sangat saya sesalkan, Pemprov Sumbar bahkan beru­saha mempertahankan nama Minang Mart. Upaya tersebut adalah membujuk pengusaha pengusaha Minang yang me­makai nama Minang Mart untuk mencabut merek usaha itu di Kemenkumham agar nama Minang Mart bisa dipa­kai oleh Pemprov Sumbar. Sementara menunggu nama Minang Mart dicabut, Pem­prov Sumbar mengajukan na­ma Kedai Minang sebagai nama alternatif (Antara­sum­bar.com, 19 Juli 2016). 

Intinya, Pemprov Sumbar tak memedulikan UU Nomor 24 Tahun 2009. Sikap tersebut tidak elok dan tidak etis bagi Pemprov Sumbar yang meru­pakan perpanjangan tangan pemerintah pusat. Padahal, UU tersebut diusulkan oleh peme­rin­tah, lalu dibahas dan dise­tujui oleh DPR.

Sebenarnya, sebelum ada UU Nomor 24 Tahun 2009, ada Permendagri Nomor 40 Tahun 2007 tentang Pedoman Bagi Kepala Daerah dalam Pelestarian dan Pengem­ba­ngan Bahasa Negara dan Ba­hasa Daerah. Dalam pasal 2 Permendagri tersebut ditu­liskan: Kepala daerah ber­tugas melaksanakan: a. peles­tarian dan pengutamaan peng­gunaan bahasa negara di daerah. Kemudian, dalam pa­sal 3 bagian b diperikan, dalam melaksanakan tugas-tugas, sebagaimana dimak­sudkan dalam pasal 2, kepala daerah menerbitkan petunjuk kepada seluruh aparatur di daerah dalam menerbitkan bahasa di ruang publik, terma­suk papan nama instansi/lembaga/badan usaha/badan sosial, petunjuk jalan dan iklan, dengan pengutamaan penggunaan bahasa negara.

Cukup dengan landasan Permendagri tersebut, seha­rusnya Pemprov Sumbar tidak menyematkan kata dari baha­sa Inggris pada penamaan Minang Mart. Tapi, apa mau dikata, jangankan Permen­dagri, UU pun tak diindahkan oleh Pemprov Sumbar.

Satu hal lagi yang mem­prihatinkan dari penggantian nama Minang Mart tersebut adalah komentar sejumlah wartawan di grup Koalisi War­tawan Anti Kekerasan (KWAK) Sumbar, sebuah grup wartawan di WhatsApp. Beberapa orang wartawan di grup itu mem­pertanyakan, kenapa hanya nama Minang Mart yang saya kritik. Padahal, banyak tempat usaha dan merek dagang lain di Sumbar yang juga meng­gunakan kata-kata bahasa Inggris, seperti nama peru­mahan, atau merek dagang, seperti Kentucky Fried Chicken, atau nama toko yang ada embel-embel supermarket, minimarket, dan plaza.

Kemudian, ada seorang wartawan yang berkomentar di grup itu bahwa penggunaan kata mart pada Minang Mart bisa jadi karena ada kajian unsur bisnis untuk menarik minat pembeli. Untuk hal-hal seperti itu, wajar penggunaan istilah asing.

Berikut jawaban saya atas pertanyaaan dan komentar tersebut: Nama usaha apa pun yang berasal dari dalam negeri mesti mengutamakan peng­gunaan kata-kata dari bahasa In­donesia. Pengembang peru­ma­han yang memakai nama bahasa Inggris itu jelas salah. Banyak nama perumahan yang menggunakan nama Indo­nesia dan perumahannya ba­gus, laris, dan terkenal. Hal ini pernah ditulis sebagai berita oleh Kompas pada 29 Sep­tember 2009 dengan judul Konsumen Terpaksa “Me­ngu­nyah” Properti Bermerek Asing. Berikut saya kutipkan bebe­rapa paragraf  berita tersebut:

Penamaan merek berbau asing pada properti yang dibangun para pengembang kembali marak terjadi dalam satu setengah dekade terakhir. Menurut pengajar Bahasa Indonesia di berbagai ins­tansi, Anwari Natari, membaca fenomena tersebut tak lebih se­bagai kepen­tingan mar­keting belaka. Selain itu, para pe­ngembang masih menganggap elegansi identik dengan ba­hasa asing.

Anwari menilai kembali maraknya penamaan produk barang dan jasa dengan baha­sa asing, sangat mem­pri­ha­tin­kan. Seolah-olah, istilah asing lebih keren dibanding is­tilah Indonesia. Padahal, ka­ta An­wa­ri, merek berbau In­donesia tak kalah elok. Bah­kan, pro­duk properti dengan na­ma lo­kal justru diburu orang. Se­but saja “Kota Baru Parah­ya­ngan” yang sukses merebut ha­ti para investor, baik yang ber­darah Sunda maupun nu­san­tara.

Jadi, bukan soal saya tidak mengkritik nama perumahan, hotel, bangunan usaha, dan merek-merek produk yang memakai kata-kata dari bahasa Inggris, melainkan karena hal itu tidak memungkinkan un­tuk ditulis dalam satu artikel. Halaman artikel di koran untuk sekali terbit hanya bisa me­nam­pung 1.400 hingga 1.500 kata paling banyak. Saya akan membahas hal tersebut dalam satu artikel khusus.

Saya baru membahas pena­ma­an Minang Mart karena Mi­nang Mart menjadi perha­tian banyak pihak sejak dilun­cur­kan. Kalau Pemprov Sum­bar mau mengubah nama ter­se­­but dengan alasan kepa­tu­han terhadap UU, hal itu bisa men­jadi contoh bagi yang lain. Ka­lau pun belum ada yang mau mencontohnya, seti­dak­nya Pemprov Sumbar sudah mem­berikan contoh. Sayang­nya, hal itu tidak dilakukan oleh Pemprov Sumbar. Jadi, jika ada pelaku usaha dari ka­langan swasta di Sumatra Barat yang tidak memakai bahasa In­do­nesia dalam mem­beri nama tem­pat usaha atau produknya, hal itu wajar saja karena pe­me­rintah daerahnya tidak mem­berikan contoh yang baik.

Sementara itu, mengenai penggunaan merek produk berbahasa Inggris, seperti Kentucky Fried Chicken (KFC). Merek dagang KFC ia­lah merek dagang dari luar ne­ge­ri, yang tidak mungkin diu­bah ketika masuk ke Indo­ne­sia. Hal itu juga berlaku bagi pe­ru­mahan, hotel, atau produk la­in yang berasal dari luar negeri.

Perihal nama toko yang ada embel-embel minimarket, su­per­market, atau plaza, tiga kata tersebut sudah diserap ke dalam bahasa Indonesia dan bentuk katanya sudah sesuai dengan kaidah bahasa Indo­nesia. Minimarket dan super­market diserap secara utuh, bukan sepenggal-sepenggal. Demikian juga dengan plaza yang sudah masuk KBBI.

Kata mart tidak bisa diserap ke dalam bahasa Indonesia karena ada padanannya dalam bahasa Indonesia, yakni pasar. Konsep pasar sudah lama ada dalam budaya masyarakat In­do­nesia. Sedangkan kata pla­za, supermartket, dan mini­market diserap ke dalam baha­sa Indonesia sebab Indonesia secara budaya tidak memiliki konsep plaza, minimarket, dan supermarket tersebut. Karena konsep pasar yang demikian diadopsi oleh pengusaha di Indonesia, dengan serta merta bahasanya juga diserap, ke­cuali kalau ada padanannya.

Tak ada alasan yang bisa di­benarkan dalam kacamata ba­hasa untuk menggunakan ka­ta mart pada Minang Mart, ter­­masuk komentar yang me­nga­­takan bahwa penggunaan na­ma Minang Mart wajar saja ka­rena ada unsur kajian bisnis un­tuk menarik pelanggan. Sa­ya menduga kata mart dipa­kai oleh Pemprov Sumbar karena pe­ngaruh terkenalnya nama Al­fa Mart. Padahal, ada nama to­ko swalayan lain yang juga ter­kenal, yang memakai nama ber­bahasa Indonesia. Di Sum­bar saja contohnya. Ada toko sw­a­layan terkenal, yakni Citra Swa­layan. Citra Swalayan meru­pa­kan salah satu toko swalayan ter­besar di provinsi ini. Besar dan berkembangnya Citra Swa­layan membuktikan bahwa na­ma yang meng­guna­kan ba­hasa Indonesia menarik dari se­gi bisnis. Jadi, masa­lahnya bu­kan terletak pada nama, me­lain­kan pada segi bisnisnya.

Simpulan dari semua hal di atas: ketika negara-negara lain mulai melaksanakan penga­jaran bahasa Indonesia, di dalam negeri ada sejumlah orang yang malah tidak mau memartabatkan bahasa bangsa sendiri. Menurut Kepala Ba­dan Pengembangan dan Pem­bi­naan Bahasa Kemendikbud, Dadang Sunendar, ada 233 lembaga internasional dari 35 negara yang melaksanakan pengajaran bahasa Indonesia, baik di universitas maupun lembaga pendidikan lainnya, dan jumlahnya mungkin terus meningkat. (Pikiran Rakyat, 17 Juli 2016). (*)

 

HOLY ADIB
(Wartawan dan Pengamat Bahasa Indonesia)
 

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 12 Agustus 2019 - 20:30:57 WIB

    Rang Minang di Norwegia Bersyukur, Pelaku Penembakan di Masjid Al-Noor Salah Tanggal

    Rang Minang di Norwegia Bersyukur,  Pelaku Penembakan di Masjid Al-Noor Salah Tanggal HARIANHALUAN.COM-Saat luka kemanusiaan atas aksi penembangan di dua masjid di Kota Christchurch, Selandia Baru belum kering, seorang lagi ekstrimis supremasi kulit putih berulah. Kali ini, seorang pria melepaskan tembakan di .
  • Jumat, 31 Mei 2019 - 20:37:54 WIB

    TRADISI ORANG MINANG MENGINTAI MALAM QADAR

    TRADISI ORANG MINANG MENGINTAI MALAM QADAR TRADISI orang Minangkabau mengintai malam qadar sudah ditanamkan oleh orang tua-tua dahulu. Setelah Ramdhan masuk orang tua – tua dulu sudah memberi aba- aba kepada anak cucu kemenakan melalui malin adat. .
  • Ahad, 02 Desember 2018 - 00:04:30 WIB
    CATATAN RINGAN BHENZ MAHARAJO

    Arcandra, Dialektika Minang dan Investasi

    Arcandra, Dialektika Minang dan Investasi Negeri ini penuh pituah dan dialektika. Bulek aia dek pambuluah, bulek kato dek mufakat. Orang-orang Minang memilih jalan berdealektika untuk menyelesaikan kusut, serta mencari kata mufakat. Debatnya bukan tak berkeruncingan,.
  • Senin, 29 Oktober 2018 - 08:54:43 WIB

    Minangkabau, Harga Diri, dan Jalan Keluar

    Minangkabau, Harga Diri, dan Jalan Keluar Banyak orang yang berkata, terutama para generasi tua Minangkabau, bahwa orang Minangkabau zaman sekarang telah kehilangan identitasnya. .
  • Selasa, 02 Oktober 2018 - 10:04:18 WIB

    Begini Kisah Lailla, Perantau Minang di Palu yang Selamat dari Terjangan Tsunami

    Begini Kisah Lailla, Perantau Minang di Palu yang Selamat dari Terjangan Tsunami Keajaiban  itu nyata dialami  Lilla Anggaraini (35), perempuan asal Situjuah Godang, Kecamatan Situjuah Limo Nagari, Kabupaten Limapuluh Kota  yang sudah lama merantau di  Palu, Sulawesi Tengah, kota yang kini  luluhlant.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]