Kuping Kiri, Suporter Bola Garis Keras, dan Syekh Siti


Sabtu, 06 Agustus 2016 - 01:21:36 WIB
Reporter : Tim Redaksi
Kuping Kiri, Suporter Bola Garis Keras, dan Syekh Siti Ilustrasi.

“Aku kira seekor jangkrik masuk dan membikin rumah di kuping kiriku,” ujar Jibi puluhan tahun yang lampau.  Hari ketika ia mengucapkan kalimat itu adalah hari terakhir Jibi menjadi anak baik. Ia berusia tujuh tahun dan sehari sebelumnya, sekelompok orang dari kota kecamatan, dengan dipandu oleh Mat Aji, menggedor pintu rumahnya, menjemput kedua orangtuanya dan membawa mereka ke sebuah tempat yang jauh dan tak pernah kembali.

Keesokan harinya, pagi sebelum Jibi mengeluhkan kuping kirinya, Mat Aji kembali ke kampung dan menjawab pertanyaan Jibi tentang nasib kedua orangtuanya dengan singkat: roh tujuh jenderal menuntut balas kepada orangtuamu dan kamu jangan lagi bertanya apa-apa. Setelah hari itu, orang-orang melarang anak-anaknya bermain dengan Jibi dan kelak ia akan tahu bahwa ia adalah seorang anak yang dijauhi malaikat kematian.

Orangtua Jibi adalah orang perantauan. Orang-orang bilang mereka berasal dari provinsi yang jauh dan datang ke kampung itu untuk merampas dan membagikan tanah beberapa Haji kepada para buruh. “Sesuai perintah undang-undang,” ujar mereka. Mat Aji salah satu dari beberapa Haji itu. Setelah kepergian orangtua Jibi, para Haji memperoleh kembali tanah mereka dan para buruh kembali menjadi buruh.

Jibi bertahan hidup dan tumbuh dengan memakan apa saja yang ia temukan di jalanan, atau sesuatu yang ia ambil diam-diam dari dapur warga kampung, dan pada hari-hari di mana ia tidak beruntung, ia memakan sembarang dedaunan, cacing, dan bahkan tanah. Kadang-kadang, secara sembunyi-sembunyi, para buruh yang dulunya menggarap tanah sitaan para Haji, memberinya sedikit makanan sambil mewanti-wanti agar Jibi tidak menceritakan hal itu kepada siapa pun, khususnya Mat Aji.

Hari-hari yang keras itu, ditambah siksaan dengingan di kuping kirinya menjadikan Jibi seorang anak yang gampang marah dan tak kenal takut. Ia mulai sering terlibat perkelahian, baik dengan anak sepantarannya maupun yang lebih tua darinya, baik anak kampung itu atau anak dari kampung sebelah. Dalam setiap perkelahian, Jibi kerap berteriak kepada musuh-musuhnya agar memukul kepalanya, agar jangkrik dalam kuping itu segera keluar dan tak lagi memberi Jibi penderitaan yang seakan tak tertanggungkan. Namun begitu mereka memukul, sekujur tubuh Jibi tiba-tiba berubah menjadi senjata yang menakutkan: kebal, keras, dan menyakitkan.

Menjelang umur lima belas, Jibi pergi dari kampung tanpa berpamitan kepada siapa pun. Kelak, dalam salah satu kepulangannya, Jibi bersaksi bahwa satu-satunya alasan kepergiannya adalah karena di kampung tersebut, dan di kampung-kampung sebelahnya, tak ada lagi orang yang memiliki cukup nyali untuk melawannya dalam sebuah perkelahian. “Untuk apa aku hidup tanpa adanya perkelahian?” katanya.

Kalimat yang ia maksudkan retoris itu ia ucapkan di sebuah warung setelah ia berhasil menahan beberapa orang untuk tetap duduk dan mendengarnya berbicara. “Aku pergi ke kota propinsi dan menemukan sebuah medan perang yang sempurna. Kalian tahu di mana medan perang itu?” Semua yang ada di warung menggeleng. Dan dengan tertawa penuh kebanggan, Jibi meneruskan ceritanya. “Di stadion ketika berlangsung pertandingan bola.”

Orang-orang di kampung tersebut memang telah lama mendengar keributan yang kerap mengiringi pertandingan sepak bola di kota dan mereka tak pernah terlalu menghiraukannya, namun gestur tubuh Jibi ketika menceritakan hal itu membuat mereka merasa ngeri.

“Tak ada satu pun pertandingan yang tidak berakhir dengan tawuran antar suporter. Mereka orang-orang keras dan mereka rela mati membela klub kesayangan mereka. Aku sebenarnya tidak peduli dengan bola. Aku bahkan tak tahu satu pun nama pemain bola. Tapi aku adalah suporter garis keras. Aku hanya ingin berkelahi. Itu saja.” Sejak saat itu, terdorong oleh imajinasi yang dihasilkan dari cerita Jibi, mereka menjauhkan diri dari berita apa pun tentang sepak bola.

Pada kepulangan Jibi yang selanjutnya bertahun-tahun kemudian, ia bercerita tentang tiga orang yang mati di tangannya dalam sebuah tawuran antar suporter dan ia mengeluhkan bahwa perkelahian-perkelahian semacam itu tidak lagi mampu memuaskannya. “Hanya remaja-remaja tolol yang mau berkelahi demi klub sepak bola,” katanya.

Dan pada kepulangan yang itu pula ia mendapati  Mat Aji telah meninggal seusai digigit kalajengking di sawah dan sejumlah buruh di masa pembagian lahan yang masih hidup mendapatkan keberanian untuk bercerita kepada Jibi tentang keberuntungan dan betapa malaikat maut menjauhinya.

“Mat Aji yang mengundang para pembunuh itu ke sini. Mat Aji bukan orang yang jahat. Ia hanya mendendam lantaran kehilangan tanah. Dan dendamnya hanya ditujukan kepada orangtuamu. Ia bisa saja menyebut kami sebagai anggota BTI dan itu sudah cukup menjadi alasan bagi para pembunuh itu untuk menghabisi kami. Tapi Mat Aji tidak melakukannya. Ia juga iba kepadamu dan karenanya kamu dibiarkan hidup. Tapi itu adalah masa lalu. Sewaktu Mat Aji masih hidup, kami begitu ketakutan meski Mat Aji bersumpah tidak akan berbuat buruk kepada kami. Banyak orang juga berlaku buruk kepadamu meski berulang kali Mat Aji mengatakan bahwa kamu tidak berbahaya. Kami hanya ketakutan, sama seperti tiap penduduk kampung ini.”

“Aku tidak peduli dengan itu semua,” jawab Jibi.

“Lalu kenapa kau pulang ke kampung ini?”

“Aku hanya ingin pulang. Tak ada alasan lain.”

“Apa kuping kirimu masih mendenging?”

“Kuping kiriku masih mendenging dan hanya sebuah perkelahian yang mampu meredakannya.”

Jibi kembali pergi dan tak mengatakan ke mana lagi tujuannya. Dan sekian tahun kemudian, ia datang dengan penampilan yang jauh berbeda dari penampilan-penampilannya sebelumnya. Bila dulu ia kerap berpakaian selayaknya preman, kini ia tampak mengenakan jubah, bersorban, dan memelihara jenggot. “Panggil aku Syekh Siti,” katanya.

“Seperti yang kubilang dulu, tawuran di stadion dan sekitarnya dengan suporter klub bola lain hanyalah mainan anak-anak. Dan yang kini kulakukan adalah permainan sesungguhnya bagi lelaki dewasa,” tambahnya.

“Apa yang kini kaulakukan Jibi?”

“Syekh Siti, bukan Jibi. Tidakkah kaulihat pakaianku?”

“Maaf. Jadi apa yang kini kaulakukan Syekh Siti?”

“Kalian orang-orang tolol! Apakah televisi belum masuk ke sini?”

“Tivi sudah masuk, Syekh. Sudah lama.”

“Kalau begitu lihat berita.”

Pada waktu itulah, salah satu dari mereka berkata, “ya, aku sepertinya pernah melihatmu di tivi. Apakah kau yang ikut membubarkan dan memukuli peserta diskusi buku Tan Malaka?”

“Ya. Itu aku. Kau pintar.”

“Memangnya kenapa diskusi itu dibubarkan dan pesertanya dipukuli?”

“Itu bukan urusanku. Yang menjadi urusanku adalah bagaimana caranya aku bisa memukuli orang. Tak peduli alasannya.”

“Oh...”

“Suatu hari, bisa saja kami datang ke kampung ini dan menghancurkannya.”

“Kenapa?”

“Sudah kubilang, aku tak perlu tahu alasannya. Tapi mungkin saja pemimpin kami akan berkata kepada wartawan bahwa orang-orang PKI pernah tinggal di sini,” kata Syekh Siti kalem dan seolah lupa pada alasannya meninggalkan kampung itu ketika usianya lima belas.

Setelah mengucapkan kalimat tolol itu, Syekh Siti pergi dan membiarkan para pendengar yang ia tahan di warung tersebut melongo. Sejak itulah orang-orang kampung dilanda ketakutan setiap kali melihat orang berjubah dan bersorban.

“Apakah kuping kiri orang itu berdenging keras?”

 

Cerpen Oleh : DADANG ARI MURTONO



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com
BERITA TERKAIT

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM