Thawalib Harus Ikuti Perubahan


Sabtu, 06 Agustus 2016 - 01:34:41 WIB
Thawalib Harus Ikuti Perubahan Pengurus Yayasan Thawalib saat menggelar pertemuan mem¬bahas perkembangan Thawalib di masa datang

PADANGPANJANG, HA­LUAN — Perguruan Tha­walib Padangpanjang ingin kembali meraih kejayaannya. Alumni bersama pengelola yayasan sepakat untuk men­cari solusi bersama agar Tha­walib mampu me­lahirkan tokoh agama ter­kenal seperti dulu.

Hanya saja, ketika Ha­luan mencermati kondisi kekinian, Perguruan Tha­walib sepertinya masih jalan di tempat. Dalam beberapa waktu belakangan ini, Tha­walib seolah-olah hanya sebagai “sekolah pelarian”. Tidak diterima di sekolah ne­geri barulah mereka masuk ke Thawalib.

Tidak hanya itu saja. Di tubuh pengelola lembaga pendidikan Islam legendaris ini sempat te­r­jadi dualisme kepemimpinan yang tentu menimbulkan kebi­ngungan santri dan orangtua. Selain itu, pengelola juga banyak yang sudah uzur.

“Perguruan Thawalib Pa­dang­panjang sesungguhnya memiliki peran besar dalam perjuangan me­rebut kemerdekaan dan merintis sistim berhalaqah menjadi sistem pendidikan klasikal yang dite­rapkan saat ini,” kata Ketua Alumni Perguruan Thawalib Pa­dangpanjang Pusat di Jakarta, Yan Ichsas pada acara halalbihalal dan pengukuhan Dewan Pembina Yayasan Perguruan Thawalib, Minggu lalu.

Harus Berubah

Diakui Yan Ichsas, dia risih dengan kondisi almamaternya. Tidak terdengar lagi ulama yang lahir dari Thawalib.

Pengusaha sukses yang ber­domisili di ibukota itu me­nga­takan, ketika mencermati para po­litisi, pengusaha maupun pe­nguasa yang berlatar belakang agama, umumnya sukses dunia dan akhiratnya. Mereka tidak tergerus oleh zaman yang semakin tidak menentu seperti korupsi dan politik praktis lainnya.

Thawalib selama ini, adalah “dapur” tempat memasak para ulama maupun cendekiawan mus­lim yang bertebaran di negara ini. Namun dalam beberapa dekade terakhir, api di tungku itu mulai meredup. 

Kondisi itu tidak boleh dibiar­kan berlarut-larut. Thawalib harus segera berubah agar  tidak tergilas oleh perubahan itu sendiri tanpa mengabaikan keunggulan yang tidak dimiliki sekolah lain. Ha­rapan itu tertumpang kepada Guspardi Gaus.

“Saya berharap kepada Gus­pardi Gaus sebagai Pembina Yayasan Perguruan Thawalib dapat mencurahkan perhatiannya dan juga bisa menganggarkan bantuan untuk Thawalib dari APBD Sumbar, seperti halnya bantuan yang diberikan untuk sekolah sekolah lain,” katanya.

Dualisme Kepemimpinan

Ketua Yayasan Pendidikan Islam Thawalib, Abdul Rahman Yusuf menyebut, pengukuhan Pembina Yayasan Perguruan Tha­walib ini dilakukan untuk meng­gantikan pembina yang uzur sekaligus pembaharuan di yayasan.

Dia juga menyampaikan, sebe­lum ini memang terjadi dualisme kepemimpinan yang me­nye­bab­kan penurunan kinerja ya­yasan dalam pendidikan. Se­karang kedua kubu itu sudah islah.

“Dengan dikukuhkannya De­wan Pembina Yayasan Thawalib, diharapkan dapat membawa peru­bahan yang lebih baik. Sehingga Thawalib yang telah banyak me­lahirkan ulama itu kembali me­nunjukkan kiprahnya,” katanya.

Siap Emban Amanah

Ketua Pembina Yayasan Tha­walib yang baru, Guspardi Gaus mengatakan, sebagai ketua ter­pilih yang diberikan amanah membina Yayasan Thawalib yang juga  almamaternya, akan berusaha maksimal dan berharap dukungan dan kebersamaan semua.

“Amanah adalah beban moral yang harus dipikul. Sekarang suasana Thawalib sudah sangat kondusif. Kita berharap agar ada perubahan di Thawalib sehingga mampu mambangkik batang ta­ran­dam,” kata Guspardi yang juga anggota DPRD Sumbar ini.

Perubahan Penting

H. Irwan Natsir, alumni Tha­walib yang juga seorang jurnalis dan Anggota Komite Perencana Pembangunan Bappeda Jawa Barat menyatakan, perubahan Dewan Pembina Yayasan Thawalib de­ngan masuknya sejumlah alumni tentu membawa harapan terhadap perbaikan Thawalib.

“Harapan kita untuk me­ngem­balikan lembaga pendidikan yang berusia 105 tahun itu menjadi lembaga pendidikan Islam ke­banggaan umat dan berkiprah me­la­hirkan alim ulama dan in­te­lektual Islam,” katanya.

Namun Thawalib saat ini meng­­hadapi situasi berbeda dengan 20 tahun silam. Saat ini se­jumlah pesantren baru ber­munculan di Padangpanjang dan di daerah lain di Sumbar. Ini artinya ada pesantren pem­ban­ding yang menjadi alternatif orang menimba ilmu agama.

Kemudian munculnya ikon-ikon khusus di sejumlah pe­santren, seperti program ung­gulan hafalan Quran dan lainnya, juga menjadi daya saing dalam pengelolaan pesantren termasuk bagi Thawalib.

Lalu, apakah Thawalib ke depan bisa menjadi lembaga pendidikan yang dibanggakan masyarakat Padangpanjang, men­jadi kebanggaan umat Islam Sum­bar? Jawaban bisa. Thawalib ke depan akan menjadi lembaga yang dipecayai kembali oleh umat Islam dengan beberapa catatan.

“Pertama adanya perubahan Dewan Pembina Yayasan. Pe­rubahan ini harus dimanfaatkan dengan baik. Formulasi pe­ru­bahan dengan agenda yang jel­as, adalah hal mendesak untuk di­buat dan dikerjakan,” katanya.

Kedua, bagaimana me­man­faatkan potensi Thawalib, ter­masuk alumni untuk perubahan. Mem­buka diri dan mengajak bahkan melibatkan berbagai pihak adalah langkah untuk mempercepat terjadinya peru­bahan.

Ketiga, dulu Thawalib lebih me­nge­depankan ketokohan. M­u­lai dari Dr Abdul Karim Ama­rullah atau Inyik DR, Buya Abdul Hakim terakhir Buya Mawardi Muhammad. Mereka memiliki reputasi keilmuan yang tidak diragukan dan memiliki karya buku yang hebat. Dengan figur ketokohan tersebut membuat pengelolaan Thawalib dipercaya oleh masyarakat.

Saat ini, harus diakui keto­kohan seperti dulu sudah tidak ada. Artinya pengelolaan Tha­walib dilakukan dengan pola kolektif kolegial. Bukan lagi bersandar kepada figur ketokohan seperti masa dulu.

Keempat, pelibatan ma­sya­rakat Padangpanjang melalui tokoh-tokoh formal dan informal perlu dilakukan. Sebab hal itu akan menjadi kekuatan. Thawalib secara lokasi berada di Padang Panjang. Sehingga dengan peli­batan akan melahirkan perasaan sama, bahwa Thawalib adalah asset Padangpanjang.

Terakhir, keunggulan Tha­walib seperti sekolah dengan 7 tahun, sikap mandiri, konsisten dan lainnya yang dulu hal itu menjadi ciri khas Thawalib perlu di­per­timbangkan untuk dilak­sanakan kembali. Sehingga akan menjadi pembeda sekaligus daya unggul Thawalib. (h/*)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 11 Juli 2020 - 14:51:25 WIB

    Melihat Geliat Thawalib Padang Panjang

    Melihat Geliat Thawalib Padang Panjang Selama kurun enam bulan terakhir publik disuguhkan dengan perkembangan Perguruan Thawalib Padang Panjang. Hampir setiap bulan, melalui pemberitaan media, dapat terlihat ada gairah kebangkitan kembali Perguruan Thawalib masa l.
  • Rabu, 17 Juni 2020 - 07:58:32 WIB

    109 Tahun Perguruan Thawalib dalam Mencetak Tafaquh Fiddin

    109 Tahun Perguruan Thawalib dalam Mencetak Tafaquh Fiddin Mulanya adalah pengajian tradisional di Surau Jembatan Besi Padang Panjang di akhir abad 19. Pengajian surau yang sekarang dikenal sebagai Masjid Jembes, Masjid Jembatan Besi, para murid berkumpul mengelilingi guru nya. Tidak.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]