Bersahabat dengan Erdogan


Senin, 08 Agustus 2016 - 03:51:35 WIB
Bersahabat dengan Erdogan Ilustrasi.

Kita baru saja mendengar kudeta yang berlangsung di Turki, pada tanggal Rabu (27/7). Militer Turki, dilansir oleh detik.com, menyebutkan bahwa 8.651 personel militernya telah terlibat upaya kudeta, atau 1,5 persen dari total jumlah personel militer Turki. Disebutkan militer, 35 pesawat, 37 helikopter, 74 tank dan tiga kapal telah digunakan oleh para pelaku kudeta.

Terlepas dari kudeta yang bisa disebut prematur karena berlangsung kurang dari 24 jam, dan bahkan intelijen yang ‘dipaksa’ oleh Erdogan untuk mengakui kelemahannya da­lam mengantisipasi kudeta dan kemudian langsung men­ciduk 60 ribu tentara, polisi, hakim, pe­gawai negeri dan tenaga pen­di­dik, yang tentu saja ditindak tegas, mulai dari dipecat, diskorsing, di­tahan atau diselidiki po­lisi, para pembaca ha­rus me­nga­kui bah­wa apa­pun motifnya, Erdogan ber­ha­sil mencapai tujuannya deng­an menjaga stabilitas dan membuktikan bahwa peme­rin­ta­han sipil dengan mayoritas AKP bisa ‘berguna’ dan ber­jalan dengan semestinya.

Semua pemimpin Turki yang dipilih secara demokratis selalu terancam dari waktu ke waktu, yang salah satu pen­yebab­nya adalah kudeta mi­liter. Adnan Menderes diga­n­tung oleh kudeta militer tahun 1960 yang disebut-sebut se­bagai kudeta paling berdarah, Süleyman Demirel di­guling­kan dua kali sebagai hasil kudeta 1971 dan 1980 coups, dan Necmettin Erbakan juga dipaksa turun pada saat ku­deta tahun 1997 .

Erdogan, yang sudah ber­kuasa selama 2 periode, juga tidak lepas dari ancaman peng­gulingan ini. Sebelum kudeta yang berlangsung pada Juli 2016 ini, ada dua operasi yang bisa dibilang menjadi cikal bakal kudeta prematur ini. Pertama adalah operasi Er­gene­kon, yang mana berhasil digagalkan setelah polisi me­ne­mukan 2000 bahan peledak di sebuah rumah yang dimiliki oleh mantan pe­jabat tinggi mi­liter pada ta­hun 2007, ya­ng mana pe­le­dak ter­se­but di­gu­na­kan untuk menyerang sebuah ge­dung pe­ng­a­­dilan di A­n­kara pada ta­hun 2007. Ope­rasi yang kedua adalah operasi Sledgehammer, ope­rasi yang dijalankan pada tahun 2003 dimana bahan peledak ditemukan di dua masjid di Istanbul yang ber­hasil dijinakkan. Hasilnya, pada April 2010, penyelidikan dilangsungkan di 10 provinsi dan menangkap 49 perwira militer.

Terlepas dari tuduhan bah­wa Erdogan ingin memperkuat kekuasaannya dengan mela­kukan penangkapan, kita harus mengetahui bahwa an­ca­man kudeta di Turki bukan peristiwa yang berlangsung begitu saja, namun sudah menjadi praktek selama ber­tahun-tahun, yang mana mi­liter menggunakan alasan untuk menjaga sekulerisme yang dimulai oleh Attaturk. Tulisan ini akan mengajak pembaca untuk melihat alasan mengapa Erdogan bisa bert­a­han dan mencapai apa yang sebelumnya tidak bisa dicapai pe­ndahulunya, yakni me­mim­pin dengan ‘tenang’.

Seperti Indonesia dengan Dwifungsi ABRI era Soeharto, militer memiliki institusi politiknya sendiri yang ber­nama MGK atau Milli Gü­venlik Kurulu, dalam bahasa Indonesia adalah Dewan Ke­amanan Nasional. Dalam kon­s­titusi hal ini diizinkan sejak tahun 1961, dan dengan ini militer mampu memiliki per­panjangan tangan dalam pe­me­rintah. Dengan MGK, se­tiap keputusan yang akan direkomendasikan parlemen kepada presiden harus men­dapatkan izin MGK, dan MGK juga mendapatkan hak pre­rogatif lainnya seperti hakim konstitusi dan membatalkan upaya amandemen konstitusi.

Tidak hanya politik, tapi secara ekonomi mi­­liter Turki. Menurut Akye­þilmen,  hanya dibutuhkan 20 me­nit untuk me­lo­los­kan anggaran un­tuk militer Turki. Tidak ha­nya itu, militer Tu­r­ki memiliki or­ga­nisasi ya­ng bernama OYAK atau  Ordu Yardýmlaþma Kurumu, yang di-Indonesia-kan berarti Ba­dan Pensiun Tentara. yang dalam undang-undang me­netap­kan OYAK sebagai ba­dan ekonomi privat yang ber­diri terpisah dari pemerintah untuk menyediakan pensiun, yang tentu saja membuat tran­spa­ransi badan tersebut di­ragu­kan. OYAK mencakup banyak aktivitas usaha mulai semen, otomotif, perbankan, asuransi dan sebagainya. De­ng­an begitu, OYAK memung­kinkan militer untuk mem­per­kaya diri mereka dengan sa­ham yang mereka miliki di perusahaan mereka sendiri atau perusahaan swasta lain.

Dominasi militer dalam pemerintahan Turki mem­perlemah sipil dalam berbagai aspek. Menurut Sarigil, pro­fesor dari Universitas Bilkent, Ankara, dengan OYAK, pe­me­rintah tidak bisa melakukan audit terkait bagaimana ang­garan yang didapatkan oleh militer digunakan oleh OYAK, yang berarti tidak hanya ke­sulitan mengawasi aktivitas yang menguntungkan militer melalui bisnis, namun juga pembiayaan operasi klan­destin, seperti paramiliter yang disponsori oleh militer, yang menggunakan instabilitas untuk mengg­oncang pem­erin­ta­han yang di­pilih se­ca­ra demokratis. Ya­ng kedua, dengan menempatkan diri me­reka sebagai penjaga nilai-nilai Attaturk, se­gala upaya parlemen un­tuk diizinkannya praktek-praktek agama dalam ke­hidu­pan sehari-hari, seperti jilbab, akan dipatahkan militer ka­rena segala upaya parlemen harus melalui MGK.

Yang menarik adalah, se­gala upaya Erdogan untuk mengu­rangi wewenang militer adalah dengan menggunakan Uni Ero­pa, yang mengingin­kan Turki mengimple­mnta­si­kan demo­krasi serta mengu­rangi keterli­batan militer di pemerintahan, dengan meng­guna­kan ba­ro­meter yang di­susun dalam Kri­teria Kopen­hagen. Dengan berga­bung ke Uni Eropa, Turki dapat mela­kukan perdagangan dengan negara-negara Eropa dengan lebih mudah dan sekaligus menjadi model bagi Uni Eropa dalam menghadapi isu imi­grasi yang berlangsung akhir-akhir ini.

Pada tahun 2003, sebagai bagian dari paket kebijakan reformasi, parlemen menga­ju­kan usul untuk mengurangi peran MGK menjadi hanya sekedar badan penasihat apo­litis. Beri­kutnya penangkapan perwira-perwira yang dituduh membelot sepanjang tahun 2007-2012 karena keterl­ibatan dalam ope­rasi seperti Ergenekon dan Sled­ge­ham­mer membuat perlahan-perla­han militer ingin mengi­kuti proses reformasi dengan mela­kukan kompromi dengan AKP. Dengan pe­nang­kapan ter­sebut, Erdogan mam­pu men­ciptakan fak­sio­nalisasi di tu­buh mil­i­ter,d­en­g­an se­ma­­kin ba­­nyaknya per­wi­ra ya­ng men­d­u­kung AKP at­au para loyalis. Dan, den­g­an m­e­ng­gunakan dalih mi­liter, Er­do­gan juga men­da­patkan dukungan da­ri para Gulenis, yang juga me­miliki ang­gota­nya di militer, dan ber­kon­tri­busi dalam me­laporkan ak­ti­vitas kudeta se­pan­jang 2004-2007.

Terlepas dari ba­gai­mana Fethullah Gulen me­mu­tus­kan untuk me­nga­singkan diri di Amerika Serikat karena me­ngang­gap AKP, partai asal Erdogan, berkotribusi dalam upaya mengurangi demokrasi di Turki dengan melakukan pe­nang­kapan terhadap war­ta­wan dan aktivis, militer Turki punya bagian dalam menjus­tifikasi penggunaan kudeta demi kepentingan mereka. Bagi Erdogan, tidak mungkin memberikan kebebasan men­jalan­kan aktivitas beragama dan juga kebebasan sosial politik dengan intervensi militer, situasi yang sulit dilakukan dengan kuatnya pengaruh ideologi Attaturk, sebelum Erdogan berkuasa.***

 

ARINALDO HABIB PRATAMA
(Alumni Hubungan Internasional, Fokus Kajian Timur Tengah)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 06 Februari 2016 - 04:38:50 WIB

    Trans Padang, Belum Bersahabat untuk Kaum Difabel

    Trans Padang, Belum Bersahabat untuk Kaum Difabel KURANG dari sepekan lagi, Trans Padang resmi dua tahun jadi sarana transportasi publik di Padang sejak diresmikan penggunaannya 13 Februari 2014 lalu oleh Walikota Fauzi Bahar. .

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]