Bersama Membangun Nagari


Kamis, 11 Agustus 2016 - 04:16:29 WIB
Bersama Membangun Nagari Ilustrasi.

DENGAN banyaknya laki-laki pergi merantau dari bumi Minangkabau ke manapun di gugusan Nusantara dan bahkan ke berbagai pelosok dunia ini, Nagari-nagari asal di Minangkabau dan Sumatera Barat khususnya banyak yang tak tergabahi dan terbiarkan begitu saja.

Praktis di setiap Nagari di Sumbar banyak sawah-ladang, parak, kebun, lalu kolam dan tebat ikan, pinggir sungai, danau dan laut, serta kaki dan pinggang-pinggang gunung, bahkan surau dan rumah-rumah kediaman sendiri yang seperti terlantar, sementara hidup di rantau kerja keras bersitungkin, siang maupun malam, untuk sebahagian hasilnya kalau ada  dikirim pulang.

Ke depan, ada bagusnya kalau orang Minang juga me-mikirkan bagaimana mem­bangun Nagari dan kampung halaman sendiri dengan me­lakukan kerja sama yang se­imbang dan serasi antara yang di kampung dengan yang di rantau, sehingga Nagari dan kampung halaman cerah dan terpelihara kembali. Untuk itu ada langkah-langkah men­dasar yang kita bangun dan hidupkan kembali, khususnya hubungan yang serasi antara yang di ranah dengan yang di rantau, sehingga Nagari dan kampung halaman tidak ha­nya digarap dan digabahi oleh mereka yang tinggal di ranah, di Nagari dan kampung hala­man saja, tetapi juga bersama-sama dan seia-sekata dengan yang tinggal di rantau. Dengan demikian, apa-apa yang mau digarap dan dikerjakan di kampung, tidak digarap dan diambil keputusan sendiri, tetapi dipe­riakan dengan me­reka yang di rantau, terutama hal-hal yang besar-besar yang me­nyangkut mengenai kepen­tingan bersama.

Anggapan bahwa para pe­ran­­tau selama ini dianggap bu­kanlah warga dari Nagari, ka­re­nanya tidak terdaftar di Na­gari, kiranya perlu dibenahi kem­bali. Apalagi, dengan telah ma­kin gampangnya hu­bu­ngan transportasi darat, laut dan udara, pulang balik dari ra­nah dan rantau setiap hari ka­pan saja, tambah lagi de­ngan hu­bungan media sosial elek­­tronik, yang prak­tis ti­dak ada lagi jarak waktu dan tempat, waktunya kita seka­rang dan ke depan mem­persatukan kem­bali se­mua warga dari Nagari yang sama se­bagai ke­lompok war­ga da­ri Nagari yang sa­ma, walau tinggal­nya ada yang di ranah dan ada yang di rantau. Apa lagi seka­rang, di mana­pun kita ber­do­mi­sili di wila­yah NKRI ini, se­ti­ap warga punya KTP-e yang sa­­ma. De­ngan KTP-e yang sa­ma itu maka kita ting­gal me­nam­bahkan informasi ten­tang daerah dan Nagari asal ki­ta, khususnya kita yang bera­sal dari provinsi Sumatera Barat.

Dengan bersatunya kem­bali warga Minang dari Nagari masing-masing yang sama, maka kita sudah bisa me­mu­lai langkah de­ngan mem­ba­ngun Na­gari yang sa­ma se­cara ber­­sa­ma-sa­ma, ba­ik yang di ra­nah mau­pun yang di ran­tau. Mela­lui me­­dia so­sial elek­tronik se­­­­cara ber Na­­­­gari, se­cara te­r­or­ga­nisasi ki­­ta bisa me­nyu­­sun lang­kah-lang­kah ber­sama ke de­­pan, di bi­dang apa­pun, baik so­s­ial, eko­no­mi, pen­di­dikan, aga­ma, budaya, sam­pai po­litik sekalipun, baik dengan pe­rencanaan berjang­ka pen­dek, menengah dan panjang se­kalipun. Dari pe­ren­canaan yang digagas secara bersama itu, kita bisa me­nentukan target-target apa yang ingin dicapai, yang seka­ligus juga bisa mengetahui dan men­deteksi tingkat keber­hasilan kita dalam kita mem­bangun Nagari sendiri secara bersama-sama dan ter­orga­nisasi itu.

Ibaratnya, seperti mem­bangun Negara juga, jika Na­gari­pun juga dibangun dengan cara dan perspektif yang sama, semua ketinggalan dan ke­janggalam yang kita lihat seperti sekarang ini di Nagari akan berubah men­jadi Nagari yang maju, megah dan meng­gairahkan. Wali Nagari tidak lagi hanya seba­gai wakil Camat dan Bupati di Nagari, tetapi benar-benar pemimpin yang berwibawa di Nagari yang hidup bersama dengan yang lain-lainnya. Wali Nagari tidak lagi tinggal menunggu perin­tah dari ata­san, dari Camat dan Bupati, tetapi memiliki ide dan ini­siatif sendiri, dan selalu me­ngajak dan membawa serta anak nagari untuk bersama membangun Nagari itu. De­ngan itu pula pemimpin tradi­sional Nagari, baik ninik-mamak, alim-ulama, cerdik-pandai maupun bundo kan­duang dan para pemuda sen­diri, semua bersama-sama membangun Nagari di bawah pimpinan Wali Nagari bersama dengan unsur kepemimpinan tradisional Tungku nan Tigo Sajarangan itu, yang juga dibelai oleh Bundo Kanduang dan dibela oleh para pemuda.

Supaya ide besar ini bisa digerakkan secara bersama, bagaimanapun, perlu ada kese­pakatan bersama yang be­ruang-lingkup Sumatera Ba­rat. Idenya bisa dibicarakan dalam sebuah Musyawarah Bersama untuk kemudian di­tuang­kan ke dalam kesepa­katan bersama dalam bentuk Peraturan Daerah Sumatera Barat. Dengan kita sekarang tengah mempersiapkan ter­ben­tuknya Provinsi DIM (Da­erah Istimewa Mi­nang­kabau), pengganti Pro­vinsi Su­ma­tera Barat yang ada se­karang, ma­ka ide mem­bangun Na­gari secara kolektif ber­sama itu akan sekaligus menjadi bahagian yang esensial dari sis­tem dan struktur pe­me­rintahan Pro­vinsi DIM yang akan kita lahirkan itu. Intinya, dengan DIM kita di sam­ping tetap meru­pakan bahagian yang tak ter­pisahkan dari NKRI, seka­ligus juga menerapkan aja­ran budaya lokal Minang­kabau, yaitu ABS-SBK: Adat Basandi Syarak, Syarak Ba­sandi Kita­bullah, yang tidak hanya untuk disebut-se­but, tetapi benar-benar dipraktekkan secara sen­diri-sendiri dan bersama-sama dengan sanksi dan kon­sekwensi yang sama se­perti dengan undang-undang kene­garaan dan daerah sendiri – seperti yang prakteknya juga berlaku di DI Aceh sekarang. Dengan menerapkan ajaran ABS-SBK maka kita tidak hanya dilindungi oleh ajaran Pancasila dan UUD1945 teta­pi tidak kurangnya juga oleh adat dan agama kita sendiri, yaitu Islam.

Dengan prinsip: “Bersama Membangun Negeri dan Naga­ri” itu mudah-mudahan Suma­tera Barat dengan budaya Minangkabaunya akan segera terangkatkan kembali. Tidak lagi berada pada tingkat kedu­dukan Ketiga dari Bawah da­lam konteks Indonesia seka­rang ini, yang memalukan dan memilukan itu, tetapi seku­rangnya Ketiga dari Atas, yang jika perlu yang Teratas dari se­mua provinsi di NKRI ini. Dan kita harus bangga men­jadi orang Mi­nang yang seka­ligus Muslim yang hi­dup kita selalu di ba­wah lin­du­ngan­Nya.

Mari kita ker­ja keras dan ker­ja­sa­ma untuk itu! Se­moga Allah me­ridhai, amin! ***

 

Dr. MOCHTAR NAIM

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]