RENCANA SEKOLAH SEHARI PENUH

Pusat Jangan Lupakan Sosialisasi Anak di Masyarakat


Kamis, 11 Agustus 2016 - 04:18:45 WIB
Pusat Jangan Lupakan Sosialisasi Anak di Masyarakat Siswa Sekolah Dasar di Kota Padang saat bermain bersama di Ruang Terbuka Hijau Imam Bonjol, Selasa (9/8). Jika kebijakan sekolah penuh diterapkan, aktivitas di luar sekolah ini akan dialihkan ke halaman sekolah. (JEFRI RAJIF)

PADANG, HALUAN — Wacana baru Menteri Pendidikan Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy untuk sekolah sehari penuh, perlu penyesuaian dan kajian lebih mendalam lagi jika akan benar-benar diterapkan. Apalagi di sekolah-sekolah yang ada di pinggiran kota.

“Peluang pengembangan diri anak untuk cerdas secara sosial di tengah-tengah ma­sya­rakat masih tinggi pe­luang­nya. Pembelajaran tidak bisa dilakukan seluruhnya di sekolah,” ujar Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Suma­tera Barat, Syamsurizal, pada Haluan, di ruangannya, Rabu (10/8).

Jika yang ditekankan da­lam penerapan aturan baru ini adalah karakter anak, Syam­su­rizal cenderung lebih me­milih pembelajaran dilakukan di tengah masyarakat. Bukan­nya ditumpuk seluruh kegia­tan di sekolah.

“Di kehidupan masya­rakat kita, anak-anak pulang cepat, mereka pergi mengaji ke surau. Sorenya berbaur dengan teman-teman untuk bermain dan berolahraga. Banyak pelajaran yang mem­bangun di sana,” ujarnya.

Lanjutnya, pola kehi­dupan di ibukota seperti Jakarta, tidak cocok untuk menjadi acuan pengambilan sebuah kebijakan yang me­wakili selu­ruh nusantara. Jika di sana orangtua masih be­kerja saat anak pulang se­kolah, di be­berapa daerah, banyak orang­tua yang di rumah dengan berbagai ma­cam pekerjaan­nya. Orang­tua yang bertani atau be­ternak, sepulang seko­lah anaknya bisa ikut mem­bantu menggembalakan ter­nak. Jika di sekolah sampai sore, tidak ada waktu untuk membantu keluarga.

Syamsurizal menam­bah­kan, sebelum menetapkan kebijakan ini, harusnya fa­si­litas yang ada di sekolah-sekolah harus mendapat per­hatian khusus. “Jangan lihat sekolah yang ada di pusat kota, di pinggiran, masih banyak sekolah yang minim fasilitas,” jelasnya.

Jika akan bersekolah hi­ng­ga sore, sarana seperti ruang makan, tempat istira­hat, jumlah WC, serta ling­kung­an yang bersih harus tersedia. Jika tidak ada yang seperti itu, Syamsurizal sang­si siswa akan betah di sekolah.

Ia berharap, jika ke de­pan­nya akan membuat se­buah kebijakan, hendaklah mengajak pakar serta Ka­dis­dik yang ada untuk mengkaji bersama konsepnya. Se­hing­ga bisa didapat tanggapan-tanggapan membangun da­lam curah pendapat yang diadakan.

Terkait hal ini, Pengamat Pendidikan dari Universitas Negeri Padang, Atmazaki, menilai bahwa kon­sep sekolah sehari penuh sebenarnya sa­ngat baik, apa­lagi di­terap­kan untuk SD dan SMP. Pada masa-masa itu perkembangan anak begitu cepat dan perlu dibimbing secara intensif. Akan tetapi konsep tersebut saat ini hanya bisa dilakukan di sekolah tertentu. Hal itu karena tidak semua sekolah di Indonesia memiliki fasilitas yang cukup.

“Fasilitas itu tidak hanya ruangan, tetapi juga guru yang akan membimbingnya. Mes­ti­nya ada ruangan, la­pangan, peralatan, dan guru yang akan membimbingnya. Kalau itu memadai, anak tidak perlu lagi les di luar. Les di luar itu sama dengan melecehkan sekolah,” ujar Atmazaki ke­pada Haluan, Rabu (10/8).

Menurut Atmazaki, ban­yak­nya pro kontra di masya­rakat terkait hal itu timbul karena menteri belum mem­punyai konsep yang jelas tentang wacana sekolah se­hari penuh ini. Semestinya menteri mendiskusikan ter­lebih dahulu dengan para pakar pendidikan dan meran­cang konsepnya. Setelah itu, baru wacana tersebut diberi­tahukan kepada masyarakat. “Setelah anak disuruh di sekolah seharian, lalu me­ngapa? Belum jelas kan?” kata Atmazaki.

Bila sekolah sehari pe­nuh benar-benar diterapkan di kemudian hari, kegiatan siswa pada siang hari mesti diorganisir dengan baik. Siswa tidak lagi belajar for­mal seperti di pagi hari. Tambahan jam sekolah itu bisa digunakan sebagai wak­tu siswa mengerjakan PR sehingga di rumah siswa bisa bercengkrama dengan ke­luarga dan tidak lagi memi­kirkan PR. Selain itu, juga bisa diisi dengan belajar berbagai keterampilan atau kegiatan lainnya yang bisa membentuk karakter. Karak­ter itu, kata Atmazaki, diben­tuk melalui sosialisasi. Se­me­n­tara terkait guru yang akan membimbing di siang hari bisa dimanfaatkan dari guru yang ingin menambah jam pelajaran untuk sertifikasi.

“Yang jadi persoalan itu sekarang, kita seringkali mengumpulkan anak, tapi tidak jelas apa yang akan dilakukan. Nah kemungkinan yang akan terjadi adalah anak-anak ribut; berkelahi. Padahal ingin membentuk karakter. Kalau seandainya bisa diorganisir dengan baik oleh sekolah, akan sangat bagus hasilnya,” kata At­mazaki melanjutkan.

Kemudian guru besar Uni­versitas Negeri Padang ini mengatakan bahwa pem­bentu­kan karakter itu tidak bisa diajarkan, tetapi dicon­toh­kan. Guru tidak akan bisa mem­bentuk karakter siswa bila tidak menjadi teladan. Di samping itu, juga mengingat­kan bahwa pembentukan ka­rak­ter itu dimulai dari rumah, dikembangkan di sekolah, dan diterapkan di dalam ma­sya­rakat. (h/mg-uje/mg-sas)

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]