Menyoal Sekolah Seharian


Sabtu, 13 Agustus 2016 - 04:21:20 WIB
Menyoal Sekolah Seharian Ilustrasi.

Muhadjir Effendy secara tampak luar langsung menelurkan program baru: full day school yang langsung heboh ditolak rakyat. Untunglah Sang Menteri langsung mengkaji ulang statement itu karena kalau tidak, kita khawatir bahwa melalui sekolah seharian ini, menteri pendidikan sudah menjadi menteri perindustrian. Sebab, hanya idustri yang berlaku seharian, tak pernah sekolah seharian.

Memang, sekolah se­ha­rian boleh jadi beririsan dengan pernyataan yang su­dah jamak kita dengar, long life education. Akan tetapi, ada garis pem­batas yang tegas di sana. Bahwa pen­didikan sama sekali tak sama dengan persekolahan.

Pendidikan lebih pada jiwa dan kemauan, sementara seko­lah lebih pada tubuh dan pemaksaan. Pendidikan ada­lah ruang merdeka, sekolah hanyalah institusi. Maka itu, ketika pendidikan dikerucut­kan hanya diperoleh dari seko­lah, pada saat itu, kita sebenar­nya sudah mengingkari haki­kat kedirian kita. Sebab, ideal­nya, segala ruang adalah tempat yang asyik untuk belajar. Segala waktu adalah saat yang tepat untuk belajar. Semesta adalah inspirasi untuk pembe­lajaran dan sekolahlah salah satunya, bukan satu-satunya. Bahwa sekolah berhak menge­luarkan ijazah itu hanyalah hal lain, bukan substansi dari pendidikan.

Justru, jika mengekor pada asal katanya, bahasa Latin, yaitu schola(e), skhole, scola, skhola, sekolah harusnya ha­nya­lah waktu senggang, di mana kegiatan utama seorang anak adalah bermain dan me­nik­mati hidup, bukan meng­ha­biskan waktu dengan kesi­bu­kan yang menyiksa. Itulah mengapa pada tahun 197 SM, Plato mengajak anak-anak mengisi waktu senggangnya (schola) di sebuah academe (taman). Di buat di taman karena sekolah adalah bagian dari bermain. Academe inilah yang kemudian diluaskan menjadi akademi saat ini.

Perlu Dikritisi

Kini ada wacana membuat sekolah seharian dan ini agak­nya masih dikaji untuk kelak diaplikasikan. Sekilas ide ini memang cemerlang, tetapi ada banyak hal yang perlu dikritisi supaya jangan sampai kejau­han. Sebab, melalui wacana ini, kita sudah meneguhkan bahwa segala pembelajaran hanya akan diperoleh dari sekolah. Konsekuensinya jelas, yaitu sepanjang hari, siswa akan tinggal di sekolah sehingga rumah bukan lagi ruang ber­keluarga, tetapi sekadar ruang untuk tidur saja.

Dengan kata lain, sekolah bukan lagi skhole (waktu senggang). Justru rumah yang kini diubah menjadi skhole. Inilah yang perlu kita kritisi. Betul, bahwa di balik wacana ini ada niat luhur. Diketahui, misalnya, bahwa pada saat ini, kesibukan orang tua sangat luar biasa. Anak sudah keluar dari sekolah pada pukul 13.00, tetapi orang tua baru akan pulang pada pukul 16.00. Khusus di kota yang dikepung kemacetan, orang tua bahkan bisa tiba larut malam ketika anak-anak sudah pulas. Ini mengandung arti bahwa perte­muan anak dan orang tua tidak lagi intens.

Bahkan lagi, di balik ke­tidakintensan pertemuan itu akan bermuara pada adanya rentang waktu di mana anak sendirian dan kesepian di rumah. Waktu kesepian inilah yang mau dicegah pemerintah dengan cara menerapkan full day school. Artinya, niat dari wacana ini sangat luhur. Luhur karena secara tak langsung, kita menolak agar anak tidak antisosial. Hanya saja, perlu dipahami bahwa niat baik tidak selalu menelurkan hasil baik, apalagi kalau dilakukan dengan cara yang tidak baik. Lihatlah, misalnya, sekolah kita sejauh ini, yang sangat jauh dari kondisi yang nyaman.

Sekolah lebih sering terde­ngar sebagai muasal dari per­sekongkolan, pertengkaran, penganiayaan, bahkan pemer­kosaan. Khusus di sekolah yang menerapkan metode yang serupa dengan full day school, seperti sekolah ber­asrama, kita bahkan sering mendengar berita-berita keke­rasan di mana senior me­ngintimidasi dan menyiksa yang junior. Ini terjadi karena pertemuan di antara siswa sangat intens sehingga ada rasa bosan dan jenuh. Apalagi sejauh ini, sekolah masih sangat jauh dari kata keke­luargaan sehingga pertemuan seringkali menimbulkan per­teng­karan, bukan kelekatan.

Belum lagi karena ini, siswa menjadi orang yang haus belajar sehingga me­ngabaikan pentingnya keke­luargaan. Aki­batnya, niat luhur kita agar siswa tak menjadi sosok yang anti­sosial justru mendadak antisosial. Rumah sebagai tempat per­tama pendidikan akan ter­tanggalkan sehingga ayah-ibu hanya dicukupkan sebagai sponsor, bukan kepala ke­luarga. Ini akan mengon­disikan sekolah semakin men­­­dominasi dan rumah se­makin terintimidasi. Khusus bagi guru, mereka akan lebih tersik­sa lagi.

Guru misalnya akan lebih berkeluarga dengan siswa yang adalah anak-anak orang lain, tetapi malah berjauhan de­ngan anak-anaknya sendiri ka­rena harus seharian di se­kolah. Se­kali lagi, niat di balik full day school ini sangat baik. Be­lum lagi kalau patokan kita ada­­lah mengorbitkan siswa men­­jadi mesin-mesin pekerja yang te­rampil. Ryan dan Others, mi­salnya, dalam pene­li­­tian­nya telah menemukan bah­­wa pene­rapan metode full day school akan memberikan efek positif karena siswa lebih ba­­nyak belajar daripada ber­main.

Untuk Apa?

Akan tetapi, relevankan metode ini diterapkan, te­rutama kepada anak-anak sekolah dasar? Atau, jangan-jangan tujuan pendidikan di kita sudah bergeser menjadi lebih pada mencetak orang-orang yang haus bekerja? Kalau sudah begini, kita se­makin pantas khawatir, sebab dengan begini, pendidikan bagi kita hanyalah pabrik. Pabrik yang membuat label mana barang yang siap pakai, mana yang tidak. Dan, sebagai pabrik, produknya adalah membuat manusia menjadi robot. Orientasinya adalah kerja, bukan lagi karya.

Padahal, manusia sejati­nya dilahirkan untuk berkarya, bukan bekerja. Memang, an­dai saja metode ini diterapkan pada anak SMA, barangkali kita masih bisa mengamini, tetapi kalau untuk anak seko­lah dasar yang secara biologis masih membutuhkan perkem­bangan dan permainan, apa­kah ini bisa diterima? Sekali lagi, kita harus khawatir karena kelak, melalui ini, ternyata kita sedang merancang anak men­ja­di manusia dengan tipikal pekerja, penyendiri, dan pemi­kir. Ini pantas dikhawatirkan sebab manusia dengan tipikal individualis seperti ini sangat berpotensi besar menjadi orang-orang psikopat, radi­kalis, dan egois.

Tolehlah ke Barat dan Ero­pa kalau tak percaya! Berapa banyak anak muda yang men­da­dak menjadi “psikopat”, padahal terkenal pintar di sekolahnya? Lalu, apakah kita ingin melahirkan anak-anak seperti ini? Sekarang saja, pada posisi sekolah masih setengah hari, siswa sudah terbebani. Bayangkan kalau harus sekolah selama seharian! Dan, malangnya, orang-orang terbebani kelak akan menjadi beban karena mereka ini bisa mendadak meledak, men­da­dak psikopat, mendadak bu­nuh diri, dan mendadak mem­bunuh orang lain. Belum lagi kalau kita menoleh, kuri­kulum seperti apa yang akan dibuat untuk ini?

Apakah harus tiap ganti menteri, maka harus ganti pula kurikulum? Kapan kita selesai dengan kurikulum? Apakah pendidikan itu serupa bongkar pasang mesin, trial and error, seakan manusia hanya pakai baterai, bisa dicabut, bisa dipasang? Yang lebih pen­ting, apakah kita harus me­nang­galkan pendidikan ke­luarga dari sekolah, seakan ilmu hanya ada di balik din­ding kelas? Saat ini sudah zaman digital. Segala ilmu bisa diperoleh, bahkan tidak pergi ke sekolah sekalipun! Alih-alih seharian, jika hanya untuk urusan kognitif, sekolah sama sekali tak dibutuhkan. Bukti nyatanya, bukankah siswa saat ini lebih memercayai lembaga bimbel ketimbang sekolah?

Jadi, Pak Menteri, sudah, tak usah malu, tariklah ide ini dan tak usah ngotot mem­­­per­juangkannya lagi, ke­cuali ka­lau Bapak Meng­artikan Ke­menterian Pen­di­dikan seba­gai Kementerian Peridustrian! (*)

 

Oleh: RIDUAN SITUMORANG

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 29 Agustus 2016 - 02:27:48 WIB

    Menyoal Efektivitas Paket Ekonomi

    Menyoal Efektivitas Paket Ekonomi Beberapa waktu lalu, presiden membentuk task force untuk mengawal implementasi Paket Kebijakan Ekonomi I-XII hingga ke daerah. Pasalnya, dunia usaha mengeluhkan lambatnya implementasi paket-paket stimulus tersebut sehingga d.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]