Riset Indonesia Belum jadi Pilihan


Sabtu, 13 Agustus 2016 - 05:11:29 WIB
Riset Indonesia Belum jadi Pilihan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mu­hammad Nasir

PADANG, HALUAN — Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mu­hammad Nasir mencatat hilirisasi produk penelitian di Indonesia masih rendah. Saat ini 58 persen sumber teknologi utama masih berasal dari luar negeri. Tak hanya itu, 59 persen industri tidak pernah melakukan kerja sama riset dengan perguruan tinggi dan masih mempergunakan riset peneliti asing. Keadaan ini diperparah dengan jumlah jurnal terakreditasi tempat menampung hasil penelitian ini juga sangat terbatas. Ini menyulitkan peneliti dan per­guruan tinggi.

“Contohnya saja, untuk juru­san bahasa dan sastra saja dari 67 jurnal yang dibutuhkan Indonesia hanya memiliki 15 jurnal. Pada bidang ekonomi dari 225 kebu­tuhan, jurnal yang tersedia hanya 17. Di bidang teknik, dari 534 jurnal yang dibutuhkan, hanya lima yang tersedia. Padahal hasil penelitian tanpa publikasi, tentu tak berarti,” ucap M Nasir saat memberikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Pascasarjana Unand yang bertemakan Kebija­kan Peningkatan Publikasi Keka­yaan Intelektual, Hilirisasi dan Komersialisasi Riset di Con­vention Hall, Jumat (12/8).

Nasir juga melihat 56 persen industri tidak memiliki unit riset dan development. Kondisi ini akan menghambat hilirisasi pro­duk penelitian, karena industri sendiri tidak berniat mengem­bangkan produknya. Peneliti harus meningkatkan lagi kua­litasnya sehingga tidak kalah dengan Singapura dan Korea.

Menurutnya, jika melihat negara maju seperti Cina, jumlah peneliti Indonesia memang masih kalah. Saat ini perbandingannya dari satu juta penduduk hanya 1.071 yang merupakan peneliti. Kemudian, produktifitas peneliti masih berada di angka 0,02. Jika membandingkan perguruan ting­gi di Indonesia dengan jumlahnya yang mencapai 4.264 perguruan tinggi, Cina masih kalah karena hanya memiliki sekitar 2.000 perguruan tinggi. Namun dari sisi dosen dan mahasiswa, negara tirai bambu ini lebih unggul. Jika Indonesia hanya memiliki 232. 414 dosen, Cina memiliki sekitar 1,5 juta dosen. Jika Indonesia memiliki 6,5 juta mahasiswa, Cina memiliki 35 juta mahasiswa.

“Pendidikan di Indonesia didominasi universitas, Cina lebih banyak menerapkan pen­didikan vokasi. Ini sebabanya tenaga kerja mereka lebih cepat diserap,” ucap Nasir.

Mengatasi segala permasaha­lan ini, mantan Rektor Universitas Diponegoro ini menargetkan adanya peran swasta dalam unit riset, meningkatkan jumlah pe­neliti dan kualitas peneliti, me­ningkatkan jumlah S2 dan S3 serta meningkatkan relevansi dan produktifitas peneliti.

“Tahun 2020, kami targetkan peran swasta terhadap riset men­capai 70 persen dan 2019 jumlah peneliti bisa mencapai 1.600 orang. Ini merupakan langkah-langkah strategis yang harus dilakukan,” tuturnya.

Melihat rendahnya peman­faatan riset ini, Universitas An­dalas, kata Rektor Unand Tafdil Husni juga mengalami hal yang sama. Mengatasi hal ini, pihaknya bersama dengan Lembaga Pene­litian dan Pengembangan Masyarakat (LPPM) merancang lahirnya Science Park dan Techno Park di Unand, yang nantinya akan bermuara ke Bappenas.

“Saat ini beberapa penelitian kita sudah mulai dikomersilkan dan dimanfaatkan. Ke depan harus ditingkatkan,” ucap Tafdil.

Science Park adalah kawasan yang dikelola untuk me­ngem­bangkan hasil riset menjadi pro­duk pasar yang memiliki nilai tambah tinggi. Dengan begitu, Unand bisa menggandeng peme­rintah daerah bersama kalangan dunia usaha dalam melakukan hilirisasi dan komersialisasi riset.

Hingga kini, Tafdil mencatat dengan 912 peneliti yang dimiliki Unand mengantarkan Unand pada klaster mandiri pada bidang pene­litian.

Dari 2.057 artikel yang di­tampilkan sebanyak 843 artikel sudah terindeks scopus dan Indo­nesia berada di rangking 11 di Indonesia untuk publikasi ilmiah ini.

“Kami baru-baru ini menerap­kan skim hibah bagi guru besar. Hibah ini bisa didapat guru besar setelah melalui penilaian yang dibantu oleh Dikti,” ucap Tafdil.

Begitu juga untuk dana pe­nelitian, Unand meningkatkan jumlah dana dari Rp15,5 miliar menjadi Rp35,1 miliar.

Turut hadir dalam kuliah umum ini, Dirjen Litbang Kem­ristek Prof M Dimyati, Plt Ketua Kopertis Wilayah X yang juga Rektor ISI Padang Panjang, Novesar Jamarun, Rektor UNP Ganefri, Rektor UNU Sumbar Rudi Kusuma MP, mantan rektor Unand Musliar Kasim dan Wery Darta Taifur.  (h/eni)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 01 Maret 2016 - 11:41:28 WIB
    Baristand Industri Padang

    Tingkatkan Inovasi Riset Terapan

    PADANG, HALUAN — Balai Riset Standardisasi (Ba­ris­tand) Industri Padang yang memiliki wilayah kerja di Sumbar, Jambi, Bengkulu Riau dan Kepri menegaskan komitmen untuk melakukan inovasi-inovasi riset terapan. Diharapkan .

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]