(TANGGAPAN ATAS TULISAN HOLY ADIB)

Berbahasa Itu Bukan Berlogika Saja


Selasa, 16 Agustus 2016 - 03:59:05 WIB
Berbahasa Itu Bukan Berlogika Saja Ilustrasi.

Saya sepakat dengan Holy Adib terkait tulisannya yang berjudul “Logika Berbahasa” di harian ini, Haluan pada 12 Agustus kemarin. Bahwa bahasa memang pada momen-momen tertentu hanyalah alat untuk mengantarkan pesan. Ketika penerima pesan sudah paham dan sepengertian dengan pemberi pesan, di situ bahasa sudah selesai.

Akan tetapi, tak selamanya bahasa sesederhana itu. Baha­sa tak bisa dicukupkan sebagai alat pengantar pesan saja. Ketika bahasa digunakan ha­nya sebagai alat pengantar pesan, di saat itu, kita tak perlu lagi mengkaji, bahkan tak perlu ada jurusan bahasa di universitas.

Hanya saja, karena bahasa itu adalah bagian dari cara hidup dan karena itu menjadi bagian terintegrasi dengan budaya, di saat itulah kita membutuhkan kajian lebih banyak tentang bahasa. Pada posisi seperti ini, bahasa tak lagi sesederhana pengantar pesan. Seperti kamus Sutardzi Calzoum Bachri, bahasa tak bisa lagi dicukupkan sebagai dan bahkan bukan alat. Dalam kredonya, dia mengatakan bahwa kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Kata tidak seperti pipa yang mengalirkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri.

Bahasa memang harus me­muat logika di dalamnya. Sederhana saja, tak ada pema­haman kalau tak ada logika. Dengan kata lain, berbahasa juga berlogika. Contohnya, saya tak tahu berbahasa Jer­man. Andai ada orang Jerman berkomunikasi dengan saya dengan bahasa Jerman, tentu saja saya tak akan paham. Karena memang, logika kami tersumbat oleh bahasa. Akan tetapi, logika tak selamanya urusan bagaimana kita ber­pikir logis atau tidak. Logika justru lebih condong sebagai urusan konsensus dan kese­pakatan. Karena itu, bahasa adalah kesepakatan.

Kesepakatan

Kita menyebut warna ben­dera kita paling atas, misalnya, sebagai merah bukan karena orang Inggris menyebutnya red. Kita menyebutnya merah karena kita sepakat bahwa warna yang menyerupai darah itu adalah merah. Kalau diru­nut dari segi kelogisan, dari­manalah dasar logikanya red menjadi merah? Itu masih sederhana karena hanya satu kata diterjemahkan ke dalam satu kata. Bagaimana kalau dari dua kata menjadi satu kata, atau, dari satu kata men­jadi dua kata, seperti hospital menjadi rumah sakit?

Belum lagi kalau kita me­ngait­kan bahwa ternyata hos­pital dan hospitality mempu­nyai arti yang berbeda. Hos­pital adalah rumah sakit, se­mentara hospitality adalah keramahtamahan. Di sinilah nyata bagi kita bahwa bahasa itu ternyata tak melulu urusan kelogisan. Bahasa itu juga adalah urusan kesepakatan. Bahasa itu juga kesemena-menaan, arbitrer. Karena kese­me­na-menaan, tak ada keha­rusan bahwa silaturahmi harus dibahasa-Inggriskan menjadi hospitality.

Di sinilah saya menyambut bahwa kalmia saya mengi­rimkan SMS (short messages service) adalah kalimat yang benar. Benar bukan berarti harus logis karena bahasa tak selalu urusan logis. Betul bahwa secara logika, memang tak ada nalarnya seseorang mengirimkan layanan. Laya­nan, ya, layanan. Akan tetapi, karena ini sudah kesepakatan, bahasa ini menjadi benar. Lagipula, bukankah fitur SMS itu sudah dibendakan? Dan, kalau ditarik ke arah logis, bukankah logis kalau kita mengatakan bahwa benda itu bisa dikirimkan?

Sekali lagi, adalah me­mang perlu menengok logika dalam berbahasa. Tetapi, baha­sa itu dinamis, bebas, dan fleksibel. Sementara logika sangat statis dan kaku. Mak­sud saya, logika bukan urusan utama dalam berbahasa. Itulah sebabnya kita tak terkejut ketika ada, misalnya, kalimat: seminar itu membicarakan kasus korupsi. Bisakah semi­nar membicarakan kasus ko­rup­si? Tidak bisa! Tetapi, salahkah kalimat itu? Kalau ditakar dari kelogisan, ya, salah. Tetapi, kalau ditakar dari pemahaman kita seka­rang, kalimat itu tak salah karena otak kita sudah sama-sama ditautkan pemahaman yang sama. Itulah konsensus.

Jujur saja, saya sangat tak bisa membayangkan jika baha­sa harus tunduk pada aturan main dari logika. Sebab, jika logika menjadi aturan, akan sangat banyak bahasa kita yang salah. Contoh, frasa rumah makan dan rumah sa­kit. Bisakah rumah melakukan kata kerja makan? Bisakah ru­mah mengalami sakit? Frasa anak emas, misalnya. Mung­kinkah emas punya anak? Ternyata, di sinilah keunikan bahasa. Bahasa tak harus tunduk pada permainan logi­ka. Logika tak bisa menge­pung bahasa. Bahasa itu harus imajinatif.

Tentu saja imajinasi jauh lebih luas daripada logika. Logika hanya jembatan, se­dang­kan imajinasi segalanya. Albert Einstein mengakui hal itu. Dia mengatakan bahwa logika hanya bisa mengantar kita dari A ke B, sedangkan imajinasi, apalagi kalau kita sudah sepakat untuk mewu­judkannya, akan mengantar kita ke mana-mana. Logika itu lurus, sementara imajinasi itu liat, liar, berkelok-kelok. Dan, berita bagusnya, baik logika maupun imajinasi berasal dari cangkang kepala kita: otak.

Harus Luwes

Kita ini adalah mahluk yang dimuliakan salah satunya karena otak. Jadi, tak salah dan memang harusnya begitu, bahwa kita harus meng­guna­kan imajinasi berbahasa. Ima­jinasi itulah yang bisa me­ngan­tarkan kita pada kesepa­haman, konsensus, lalu per­setujuan. Jadi, jangan terkejut ketika mendengar kalimat, memasak nasi, memasak teh, menjahi baju, mengisi bensin, dan masih banyak lagi. Sebab, kalimat-kalimat itu benar-benar sangat tak logis. Dan, adalah sangat lucu kalau kita kemudian mengganti kalimat itu menjadi memasak beras, memasak air, menjahit benang, mengisi tangki.

Satu hal lagi, saya sangat tak bisa membayangkan jika bahasa itu dibuat menjadi aturan kaku. Bayangkan kalau di pasar ketika kita mau mem­beli sesuatu, harus menga­wali­nya dengan kalimat pembuka, isi, lalu kata-kata penutup. Masa untuk membeli saja, maka kita harus merapalkan kalimat-kalimat yang tepat, lalu menimang-nimang, apa­kah kalimat ini sudah logis atau tidak? Yang ada, kalimat dari mulut kita malah menjadi kalimat yang dogmatis, statis, dan tidak lagi otentik. Lagi­pula, kalau ke pasar, tujuan kita mau berbahasa atau mau belanja? Maksud saya, ber­bahasa itu tidak selalu harus patuh pada aturan.

Bahasa itu harus luwes. Ada bahasa pasar, ada bahasa ja­lan, ada bahasa sahabat. Bah­wa bahasa memang harus ber­wibawa itu adalah hal lain. Sa­ngat tak elok, misalnya, atas na­­ma agar dekat, maka pidato ke­­negaraan dibuat menjadi ba­ha­sa pasar, bahasa jalanan, ba­ha­sa gaul. Di sinilah perlu yang na­manya konteks. Kalau uru­san formal, gunakanlah ba­ha­sa formal karena itu akan le­bih berwibawa. Kalau urusan in­­formal, jangan gunakan ba­ha­sa formal karena itu akan mem­­buat kita justru tak ber­wi­bawa.

Saya pikir, kalimat seperti ini, Oh, iya, saya sudah me­ngi­­rimkan SMS samamu tadi pagi, Bro, adalah kalimat in­formal dan sama sekali itu tak salah. Justru menjadi aneh ka­lau saya membuat kalimat ka­ku yang harus takluk pada kung­­kungan lo­gika. Pada akhir­nya saya hanya mau me­ngatakan bahwa berbahasa itu tak sama dengan berlo­gi­ka. Bahasa itu bukan budak untuk menaati pe­rin­tah-pe­rin­tah logika. Bahasa itu ada­­l­ah kesepahaman kita un­tuk menenggelamkan diri de­­ngan imajinasi-imajinasi! **

 

RIDUAN SITUMORANG
(Konsultan Bahasa di Prosus Inten Medan)
 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 06 Juni 2017 - 11:19:49 WIB

    UNP, Berbahasa Indonesialah!

    UNP, Berbahasa  Indonesialah! KEPALA Balai Bahasa Sumatra Barat, Agus Sri Danardana, menyayangkan penamaan gedung baru rektorat Universitas Negeri Padang (UNP) menggunakan bahasa Inggris: Rectorate And Research Center. Ya, mengapa gedung itu tidak diberi .
  • Selasa, 21 Maret 2017 - 16:15:47 WIB

    Ayo Berbahasa Minangkabau

    Ayo Berbahasa Minangkabau Kamis, 16 Maret 2017, situs www.cendananews.com › Lintas Nusa › Sumatera Barat memberitakan bahwa Pemerintah Provinsi Sumatra Barat (melalui Dinas Kebudayaan Sumatra Barat) akan membuat kebijakan tentang penggunaan bahasa.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]