(Tanggapan Atas Tulisan Riduan Situmorang)

Memandang dari Kacamata Bahasa


Kamis, 18 Agustus 2016 - 03:45:03 WIB
Memandang dari Kacamata Bahasa Ilustrasi.

Setiap orang akan memandang sesuatu dengan pengetahuan yang ia miliki. Pengetahuan menuntun cara berpikir. Sebagai orang yang setiap hari bergumul dengan kata-kata, baik lisan maupun tulisan, saya melihat segala sesuatu melalui kacamata bahasa. Kacamata itu melekat kuat di depan mata saya sehingga tak bisa saya lepaskan karena kacamata tersebut terbuat dari endapan pengetahuan yang saya miliki.

Seperti lazimnya kaca­mata, kacamata bahasa yang saya pakai pun memiliki lensa. Lensa tersebut terbuat dari logika yang bahannya, antara lain kepatutan dan kecocokan. Oleh sebab itu, kata-kata yang lahir dari pikiran saya—yang mungkin saja tak beraturan—mesti melalui kacamata terse­but sebelum digelincirkan oleh lidah dan meluncur dari mulut saya. Karena kacamata itu pula, setiap kata-kata yang saya dengar akan tampak ka­bur dan salah kaprah saat sampai di otak saya jika tak sesuai dengan kacamata baha­sa dan lensa logika tersebut.

Pada 12 Agustus 2016, saya menulis artikel di Haluan dengan judul “Logika Berba­hasa”. Dalam artikel itu saya membahas kekeliruan peng­gunaan frasa dan kata yang pemakaiannya tidak sesuai dengan logika, yakni SMS, HRD, dan sales. Melalui kaca­mata bahasa, saya memandang bahwa sering kali frasa dan kata digunakan secara tidak tepat oleh kebanyakan orang. Saat menggunakan singkatan SMS (Short Message Service), orang kerap menyebut bahwa dia mengirim SMS untuk mak­sud mengirim pesan singkat. Padahal, SMS bukanlah pesan singkat, melainkan layanan pesan singkat. Begitu juga dengan orang yang mengirim lamaran kepada HRD (Human Resources Development) atau orang yang menyebut orang yang bekerja di bagian HRD sebagai HRD. Padahal, HRD (Pengembangan Sumber Daya Manusia) itu bukan orang, melainkan bidang atau unit kerja di perusahaan. Keke­li­ruan pemakaian yang sama juga terjadi pada kata sales. Banyak orang yang menyebut orang yang bekerja di bagian pemasaran sebagai sales, bu­kan salesman atau pemasar (penjual) dalam bahasa Indo­nesia. Padahal, sales adalah penjualan.

Tulisan saya itu dibalas oleh Riduan Situmorang de­ngan judul “Berbahasa Itu Bukan Berlogika Saja” (Ha­luan, 16 Agustus 2016). Ia berpendapat, logika tak sela­ma­nya urusan bagaimana kita berpikir logis atau tidak. Logi­ka justru lebih condong seba­gai urusan konsensus dan kesepakatan. Karena itu, ba­ha­sa adalah kesepakatan.

Riduan kemudian mem­bantah pendapat saya yang menyatakan bahwa menyebut “mengirim SMS” dengan mak­sud mengirim pesan adalah kekeliruan logika berbahasa. Menurutnya, kalimat ”saya mengirimkan SMS (short messa­ges service)” adalah kalimat yang benar. Benar bukan ber­arti harus logis karena bahasa tak selalu urusan logis. Betul bahwa secara logika, memang tak ada nalarnya seseorang mengirimkan layanan. Laya­nan, ya, layanan. Akan tetapi, karena ini sudah kesepakatan, bahasa ini menjadi benar.

Pada akhir artikel saya berjudul “Logika Berbahasa”, saya menyebutkan bahwa saya tak bermaksud mengatur mu­lut orang untuk menu­tur­kan sesuatu karena tidak seorang pun yang bisa melakukan hal itu. Saya hanya ingin mengajak orang untuk menggu­na­kan logika sebelum memakai kata, bukan sekadar mengandalkan pendengar mengerti dengan maksud perkataan pembicara. Oleh karena itu, meski pene­rima pesan mengerti bahwa yang dimaksud pembicara dengan mengatakan mengirim SMS adalah mengirim pesan, perkataan seperti itu salah apabila dipandang melalui kacamata bahasa. Pada para­graf pertama artikel saya itu, saya menuturkan bahwa fungsi bahasa telah sampai apabila pendengar mengerti dengan yang dikatakan oleh pem­bicara. Akan tetapi, berbahasa dengan hanya menggunakan fungsi tersebut belum cukup karena perlu juga fungsi bahasa sebagai sarana berpikir dan alat melatih logika.

Klausa “saya mengirim SMS” jelas salah bila di­pan­dang dari kacamata bahasa dan tidak patut dan tidak cocok dengan lensa logika bahasa.

Namun menurut Riduan, klausa salah nalar itu betul. Ia kemudian mencontohkan kali­mat lain, yakni “seminar itu membicarakan kasus korupsi”. Ia mengakui bahwa kalimat itu salah jika ditakar kelogi­sannya. Tetapi, kalau ditakar dari pemahaman kita sekarang, kalimat itu tak salah karena otak kita sudah sama-sama ditautkan pemahaman yang sama. Itulah konsensus. Demi­kian ditulis Riduan. Kon­sensus apa? Yang dikon­sen­sus­kan itu apa? Bukankah konsensus bahasa adalah ten­tang kata, bukan konsensus pemakaian kata? Yang saya ni­lai keliru dalam artikel saya se­belumnya itu soal peng­gu­naan kata, bukan kata atau frasa.

Oleh karena itu, saya heran kalau Riduan justru men­con­tohkan kekeliruan logika ber­bahasa seperti frasa mena­nak nasi karena yang dimasak adalah beras sehingga menjadi nasi, dan frasa rumah sakit karena tak ada rumah yang sa­kit. Saya tidak mem­per­soalkan struktur frasa itu. Saya bahkan sepakat bahwa frasa seperti menanak nasi dan rumah sakit itu benar. Mena­nak nasi ber­arti menyebutkan hasil dari me­nanak beras, seperti halnya fra­sa menjahit ba­ju, hasil dari menjahit kain. Se­mentara frasa ru­mah sakit me­nunjukkan manfaat “rumah tem­­pat mera­wat orang sakit”, sa­­ma halnya de­ngan frasa ru­mah makan yang berarti bah­wa rumah tem­pat orang makan atau tempat orang menjual makanan. Frasa se­per­ti itu merupakan kon­sensus yang sudah dipakai sejak lama oleh pendahulu kita. Kon­sen­sus kata atau struktur frasa tak bisa diubah. Namun, peng­gu­naannya bisa berubah-ubah dan bukan me­rupakan kon­sen­sus.  

Jadi, logika Riduan keliru ka­rena menilai bahwa frasa se­perti menanak nasi, men­jahit baju, dan rumah sakit adalah aturan main logika. Se­benar­nya, logika Riduan su­dah ke­liru—kalau tak so­pan di­sebut cacat nalar—sebelum dia me­nulis artikel balasan itu. Itu ter­bukti da­lam isi artikel­nya ka­rena mengira saya mem­ba­has logi­ka kata atau frasa. Pa­da­hal, artikel saya itu jelas mem­ba­has logika pemakaian kata.

Orang yang bisa berbicara dengan kata-kata dan otaknya masih normal, seharusnya bisa menggunakan logika penggu­naan kata atau logika berba­hasa. Berbeda dengan orang bisu yang memakai bahasa isyarat. Bagi orang bisu, logika kata-kata tak berlaku. Saya tidak mengerti bahasa isyarat, tapi saya yakin bahwa bahasa isyarat juga memiliki struktur bahasanya agar pesan pem­bicara sampai kepada pen­dengar. ***

 

HOLY ADIB
(Pengamat Bahasa Indonesia)
 

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]