Sudahlah, Jangan Pikirkan Lagi Mamak Orang


Kamis, 08 September 2016 - 02:23:02 WIB
Sudahlah, Jangan Pikirkan Lagi Mamak Orang Ilustrasi.

Suatu ketika dalam acara pertemuan perantau di Jakarta, seorang laki-laki berumur sekitar 60-an menjadi pemateri tentang keminangkabauan. Ia mengurai soal kemunduran Minangkabau, degradasi moral, rendahnya pemahaman anak-anak Minangkabau terhadap nilai-nilai adat dan lemahnya semangat beragama anak-anak muda Minangkabau.

Pemateri itu oleh pembawa acara disebut sebagai tokoh Minangkabau saat itu. Ma­salah-masalah tersebut kata pemateri, disebabkan oleh peran mamak yang tak lagi berfungsi di tengah-tengan masyarakat. Sehingga untuk mengembalikan kejayaan ma­sa lalu Minangkabau hal sa­ngat penting dilakukan adalah mengembalikan peran mamak dalam kehidupan masyarakat Minangkabau.

Tentu saja mendengar urai­an pemateri tersebut, membuat saya kaget dan tertawa geli. Saat sesi tanya jawab tiba, saya bertanya, peran mamak mana dan mamak siapa yang tidak berfungsi? Lalu saya lanjutkan, pemateri punya berapa orang kemenakan? Dan berapa orang yang pemateri (sebagai ma­mak) ajari mereka tentang adat dan berapa pula diserahkan ke pesantren untuk belajar aga­ma? Pertanyaan terakhir saya waktu itu, seberapa kuasa pemateri dalam mengatur ke­hidupan mereka?

Ia menjawab dengan nada retorik luar biasa. Intinya berkilah. Katanya bahwa peran mamak yang dimaksud adalah peran ninik mamak selaku pemangku adat. Karena tak ingin berdebat, saya tidak menanggapi jawabannya. 

Dalam cerita lainnya, de­ngan seorang teman yang baru saja selesai bertengkar dengan saudara tua laki-laki istrinya (mamak rumahnya). Katanya, saudara laki-laki istrinya itu telah ikut campur dalam ma­salah keluarganya. Masalah berawal ketika saudara laki-laki istri menganjurkan agar mereka tidak merantau dan menetap di rumah si istri mengingat orang tua istri su­dah uzur.

Teman itu mengatakan pada mamak rumahnya agar tidak mencampuri urusan keluarganya. Sebab yang bertanggungjawab dalam rumah tangga dan ke­lang­sungan hidup anak-anak ada­lah dia sendiri. Akhirnya ter­jadi pertengkaran. Lalu sejak itu –tepatnya lima tahun lalu- ia meninggalkan rumah.





Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM