Sapi Pesisir Menuju Kebun Binatang


Selasa, 13 September 2016 - 03:05:56 WIB
Sapi Pesisir Menuju Kebun Binatang Ilustrasi.

Populasi sapi potong/pedaging di Sumatera Barat berdasarkan data statistik provinsi Sumatera Barat tahun 2015 tercatat lebih kurang 397.548 ekor yang tersebar di 19 Kabupaten dan Kota, dan populasi terbanyak ditemukan di Kabupaten Pesisir Selatan sebanyak 83.277 ekor (BPS Provinsi Sumatera Barat, 2016). Dari total populasi sapi di Pesisir Selatan ini, diperkirakan 90% di antaranya adalah sapi pesisir.

Sapi pesisir termasuk lima plasma nutfah sapi asli Indo­nesia setelah sapi bali, sapi aceh, sapi sumbawa dan sapi madura. Penetapan sapi pe­sisir sebagai rumpun asli tertuang dalam Peraturan Mentri Per­tanian (Permentan) nomor 8/permentan/OT.140/9/2011 tentang Perwilayahan Sumber Bi­bit Ternak. Pe­nentuan wila­yah sumber bibit tersebut di­dasarkan atas ada tidaknya plas­ma nutfah sapi lokal yang se­cara genetik potensial untuk di­kem­bang­kan dan dibu­di­daya­kan.

Karakteristik sapi pesisir tergolong unik, yakni me­miliki bobot badan kecil, tubuh pendek, kaki ramping, punuk kecil, dan jinak. Se­dangkan sapi jantan memiliki kepala pendek, leher pendek dan besar, belakang leher lebar, ponok besar, kemudi pendek dan membulat. Sapi betina memiliki kepala agak panjang dan tipis, kemudi miring, pendek dan tipis, tanduk kecil dan mengarah keluar. Sapi jantan dewasa (4-6 tahun) hanya memilki bobot badan 160 kg.

Masyarakat Sumatera Barat menyebutkannya sebagai “ja­wi ratuih” yang berarti sapi yang jumlahnya banyak dan kecil-kecil. Ciri spesifik lain­nya adalah ukuran tanduk pendek mengarah keluar se­perti tanduk kambing, sapi Pesisir memiliki warna coklat muda sampai coklat tua, atau sampai hitam. Sekitar mata, mulut dan sebelah dalam kaki-kakinya, perut bagian bawah berwarna lebih muda.

Sapi Pesisir ini memiliki nilai ekonomi yang cukup penting baik bagi masyarakat maupun pemerintah lokal. Perdagangan sapi pesisir ini mencapai 12.000 ekor/tahun, khusus untuk hari raya Idul Adha pengeluaran sapi ini mencapai 8.000 – 9.000 ekor/tahun. Akibat besarnya jumlah sapi ini yang dipotong/dibawa ke luar, maka populasinya cenderung menurun. Penu­runan populasi sapi lokal (Pesisir) ini salah satunya disebabkan oleh kebijakan pemerintah dalam membatasi volume impor sapi bakalan.

Kebijakan pemerintah un­tuk membatasi impor sapi tentu akan berdampak terha­dap pemotongan sapi lokal. Impor sapi dalam jumlah besar bukan berarti kita tidak men­du­kung swasembada daging sa­pi. Impor sapi dilakukan un­tuk memberi kesempatan pe­ningkatan populasi sapi lokal.

Jika impor dibatasi semen­tara kebutuhan daging me­ningkat, dapat berakibat terja­dinya pemotongan sapi lokal secara besar-besaran, termasuk betina produktif. Mengatasi kekurangan kebutuhan daging nasional dengan cara impor memang akan berakibat pada ter­kurasnya devisa Negara ser­ta mengurangi daya saing pe­ter­nak lokal, dan ter­gang­gunya ke­daulatan pangan bangsa. Oleh sebab itu, untuk menga­tasi impor ternak/da­ging dalam jangka panjang dibutuhkan kebijakan peme­rintah untuk meningkatkan mutu genetik dan populasi ternak lokal yang ada di masyarakat.

Saat ini peternak lebih menyukai sapi impor seperti Brahman, Brangus dan Sim­men­­tal dibandingkan dengan sapi lokal. Sementara itu minat masyarakat memelihara sapi pesisir mulai berkurang kare­na ukuran tubuhnya yang relatif kecil. Kondisi ini me­nyebabkan persentase popu­lasi sapi lokal terhadap sapi impor mengalami penurunan. Pada tahun 2009 populasi sapi lokal masih dominan menca­pai 70%, namun pada tahun 2011 perbandingan per­sen­tase populasi sapi lokal dan sapi impor menjadi 25:75.

Program pemerintah de­ngan mengintroduksikan sapi impor yang ukuran tubuh dan bobot badannya lebih besar secara langsung telah me­ngubah penampilan sapi lo­kal. Oleh karena per­cepatan pe­ning­katan po­pu­la­si dan pro­duk­si ternak dapat diwu­jut­kan me­lalui salah satu ca­ranya yaitu  aplikasi tek­nologi Inseminasi Buatan (kawin suntik) maka sangat memungkinkan ternak lokal dikawinkan dengan bangsa sapi lain (crossbreeding).

Jika hal ini terjadi maka habislah sumberdaya genetik ternak lokal. Untuk mem­pertahankan plasma nutfah sapi pesisir maka selayaknya introduksi sapi impor diiringi dengan kebijakan untuk men­jaga kelestarian potensi ternak lokal dan perlu adanya ma­najemen pengelolaan popo­lasi secara benar dan tepat.

Sapi pesisir ini masih dipe­lihara masyarakat secara tra­disional, dimana masyarakat peternak melepaskan/meng­gembalakan ternak di semak belukar, sawah bekas panen, di pinggir jalan, di bawah pohon kelapa, bahkan sampai di pekarangan rumah. Dengan cara pemeliharaan seperti ini, perkawinan terjadi secara acak di lapangan sehingga diduga telah terjadi perkawinan biak-dalam (inbreeding/kawin kera­bat) yang cukup tinggi yang berakibat pada semakin kecil­nya ukuran sapi ini sebagai­mana dilaporkan oleh Sarbaini tahun 2004 (Profesor Ilmu Pemuliaan Ternak Fakultas Pe­ternakan Unand) bahwa da­lam kurun waktu 1983 – 2003 telah terjadi penurunan bo­bot badan sapi pesisir sebe­sar 36,25% untuk yang jantan dan 25,76% untuk yang beti­na.

Apabila hal ini dibiarkan te­rus, tidak mustahil sapi pe­sisir ini lambat laun menja­di sapi sebesar kambing dan tentu saja hal ini tidak kita ingin­kan. Ukuran tubuh sapi pesisir ini paling kecil di antara sapi lokal Indonesia lainnya na­mun memiliki daya adaptasi yang baik dan tahan terhadap beberapa jenis pe­nyakit dan parasit. Oleh ka­rena beberapa hal dike­mu­kakan di atas maka sapi Pe­sisir harus kita perta­hankan kebera­da­annya dan seka­li­an kita per­baiki produk­ti­vitas­nya dengan in­troduksi tek­no­logi pe­mu­lia­an se­perti selek­si dan pe­nga­­turan perka­wi­nan.

Populasi sapi Pe­­sisir ini cenderung me­nurun dimana pada tahun 2011 po­pulasi sapi pesisir tercatat 76.111 ekor menurun tajam diban­ding populasi 2010 yang mencapai 93.881 ekor  (Di­pertahorbunnak Ka­­bu­paten Pesisir Selatan, 2012), uku­ran tubuhnya yang sema­kin kecil, sa­pi ini me­mi­­li­ki po­ten­si yang cukup be­­sar ba­ik se­­ba­gai pe­masok kebutuhan da­ging bagi ma­syarakat Su­ma­te­ra Barat mau­pun sebagai sumber pen­da­patan bagi pe­ternak dan pe­merintah da­erah, maka per­baikan mutu genetik sa­­pi Pe­sisir perlu dilakukan dan per­hatian/kebijakan pe­me­­rintah perlu lebih diting­kat­kan.

Menurut Prof. Sarbaini “Dalam kurun waktu sekitar 20 tahun (1983-2004) sapi pesisir telah mengalami penu­runan rataan bobot badan dan uku­ran-ukuran tubuh, misal­nya sapi jantan umur 3 – 3,5 tahun menurun sebesar 28% penu­runan bobot hidup dan ukuran-ukuran tubuh sapi Pesisir sekitar 35%”. Hal ini diduga disebabkan antara lain oleh tingginya kejadian biak dalam (inbreeding). Hal lain yang menyebabkan semakin menu­runnya bobot badan dan uku­ran tubuh sapi Pesisir adalah terjadi seleksi negatif, dimana peternak cenderung menjual sa­pi berukuran lebih besar teru­tama saat hari raya Idul Adha.

Pengeluaran ternak ber­kua­litas baik dengan menyi­sakan ternak berkualitas buruk untuk  pembibitan akan menu­runkan mutu genetik  ternak. Selain itu penurunan populasi sapi Pesisir diduga berkaitan dengan sistem pemeliharaan yang ekstensif tradisional, tingginya pemotongan ternak produktif, keterbatasan pakan, penyusutan luas padang peng­gembalaan dan penurunan mutu genetik.

Tidak dapat diingkari, pe­muliaan sapi Pesisir di Suma­tera Barat menghadapi masalah antara lain: (a) belum ada peternakan yang khusus untuk pemuliabiakan sapi Pesisir baik yang dikelola oleh swasta mau­pun pemerintah, (b) ham­pir semua populasi ternak sapi ada di peternakan rakyat kecil yang hanya memiliki 2 – 3 ekor sapi, dan (c) kebijakan ang­ga­ran pemerintah daerah ku­rang/ti­dak mendukung pro­gram pe­mu­liaan/pembibitan sapi pesi­sir.

Berdasarkan pada berba­gai hal dikemukakan di atas, untuk meningkatkan pro­duktivitas sapi pesisir dalam menunjang keberhasilan swa­­­­sembada daging sapi 2019 dan meningkatkan ke­se­jah­teraan peternak maka per­baikan mu­tu genetik sapi Pe­sisir mutlak dilakukan dan di­ikuti dengan perbaikan pakan dan ma­na­jemen. Pro­gram perbaikan produk­tivi­tas sapi pesisir secara ber­kelanjutan hanya bisa dila­kukan pada stasiun pem­bibitan milik pemerintah yang didukung dengan kebi­jakan anggaran multi years.

Jika terjadinya pemoto­ngan sapi Pesisir secara besar-besaran dan tidak terkontrol, termasuk memotong sapi beti­na produktif menyebabkan angka kelahiran sapi Pesisir akan terus berkurang maka kemungkinan untuk me­ning­katnya populasi sapi Pesisir sangat tipis. Malah yang ada kita akan semakin sulit untuk menemukan sapi lokal karena populasi yang terus terkuras dan mutu genetik sapi lokal yang semakin menurun karena sistem perkawinan yang tidak terkontrol.

Ditambah lagi jika per­kawinan sapi pesisir dengan sapi yang berbeda bangsa (Crossbreeding) maka hi­lang­­lah keaslian genetik sapi pe­sisir sebagai plasma nutfah dari Sumatra Barat. Sehingga bukan hal yang tidak mung­kin suatu saat nanti anak cucu kita hanya bisa mene­mukan sapi pesisir di “kebun bi­­natang” karena sapi-sapi lo­kal Pesisir akan menjadi he­wan yang langka dan dilin­dungi jika program perbaikan mutu genetik dan perbaikan pro­duktivitas sa­pi pesisir tidak segera ter­wujud. (*)

 

LINDRI MUTIA SARI, S.Pt, MP
(Penerima Beasiswa Bakrie Graduate Fellowship)

 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]