Optimasi Peran Ekonomi Ulayat Suku


Sabtu, 17 September 2016 - 01:55:42 WIB
Optimasi Peran Ekonomi Ulayat Suku Ilustrasi.

Banyak cerita yang mampir ke telinga saya, cerita berjenis keluhan yang menguap-nguap, kegelisahan yang tak terperi, atau kemuakan yang sudah menjadi-jadi, terkait tata cara pengelolaan dan penggunaan tanah ulayat sukunya masing-masing pascadilanda komersialisasi dan kapitalisasi lahan yang belakangan ini marak untuk komoditas sawit.

Moral hazard melanda ke­be­ningan ajaran adat terkait faktor produksi bernama ta­nah ulayat suku. Distorsi peng­gunaan hasil produksi dari lahan ulayat suku mengun­tungkan segelintir elit yang berlindung dibalik stratafikasi kultural. Dengan kata lain, manusia-manusia yang di­hebatkan secara kultural dan me­miliki kuasa tertinggi atas peng­gunaan lahan mendadak men­jadi elit-elit ekonomi na­ga­ri, meski terkesan mem­ba­ngun tawa di atas kemis­ki­nan sebagian anggota suku­nya.

Fenomena semacam ini konon bermula ketika commo­dities booming terjadi di sebagian besar daerah Suma­tera Barat, yang kemudian membuat banyak  lahan ulayat suku yang disulap menjadi perkebunan komersial. Firma-firma sawit yang dimotori oleh petinggi-petinggi suku berdiri dengan lahan ulayat sebagai sasaran utamanya. Pada mula­nya, harapan sebagian anggota suku melejit tinggi, karena diperkirakan akan men­da­tangkan pasiv income, teru­tama bagi kalangan anggota suku yang kurang mampu dan berada dibawah garis kemis­kinan. Saya kira, harapan yang sama bermunculan di pelupuk para penguasa daerah, mulai dari level provinsi dan kabu­paten kota karena akan mem­perlancar cita-cita pemerataan distribusi pendapatan bagi masyarakat Sumbar. Namun apa lacur, sampai hari ini ha­nya segelintir yang mema­nen.

Berkaca kepada kasus-kasus yang terjadi seputaran Yayasan Tanjung Mandiri di Kanagarian Manggopoh Ka­bu­paten Agam, memang tak bisa dipungkiri bahwa rasa keadilan yang terkoyak di antara para anggota suku yang jumlahnya berkisar 2000an kepala. Ada penampakan kehi­dupan yang sangat timpang antara para punggawa adat yang menguasai hasil perkebunan sawit di tanah tanah ulayat suku mereka. Mobil mentereng di tengah nagari, rumah menjulang bak istana raja, gaya hidup yang sudah jauh meninggalkan para sanak kemanakannya. Semen­tara para anggota suku ke­banyakan kenyang memakan janji dan petuah yang berke­dok menenangkan. Konflik diredam untuk mengamankan faktor produksi suku yang sudah terlanjur dimonopoli. Tak sedikit yang hidup miris, menggais rejeki dari pagi sampai malam bahkan tak cukup untuk menghidupi keluarga. Rumah berpondok, terjorok jauh dari keramaian dan benar-benar hidup dalam ke-apa-ada-an. Miris.

Saya mendengar keluhan, mendengar berbagai cerita soal konflik internal yang datang dan pergi silih berganti secara sporadis, dan bahkan sempat menyaksikan ketim­pangan ekonomi  yang begitu dalam pascakapitalisasi lahan ulayat suku Tanjung di sana. Komentar saya ketika itu masih sama, yakni miris. Permisifitas masyarakat suku mencipakan semacam pembiaran massif terhadap ketidakadilan distri­busi hasil lahan ulayat suku. Namun saya memutuskan me­milih diam, menahan jari saya untuk menulis mengingat konflik horizontal yang mung­kin akan terjadi, yakni konflik dan pertentangan diantara sesama mereka, ribuik antaro awak samo awak, begitu petuah beberapa pihak yang juga me­milih diam selama ini, meski banyak Tanya yang mengen­dap di kepalanya.

loading...

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]