Satu lagi, ‘Lumbung’ Awak Terbakar


Rabu, 21 September 2016 - 03:12:34 WIB
Satu lagi, ‘Lumbung’ Awak Terbakar

Irman Gus­man ditangkap. Malam me­ma­suki dini hari, sepasang pengusaha gula dari kategori “war­ga turunan” me­nitipkan di atas meja sebuah bingkisan sederhana semacam oleh oleh atau buah tangan dari Padang. Mungkin maksudnya tanda terima kasih atau buah keakraban dari rasa ber­saudara dari tamu yang amat ia kenal. Bingkisan itu tak ditolak oleh “sanak kita” (Irman Gusman) , malang­nya “termasukkan” ke kamar tidur.

Dalam hitungan detik, bebe­rapa mobil menerobos halaman rumah dinas yang temaram ca­haya. Seregu “pasukan” KPK menggebrak dan memerintahkan Irman dan keluarga untuk me­ngeluarkan lagi bingkisan tadi. Ternyata isinya sepuluh pak uang kertas seratus ribu- Seratus juta.

Irman ditagkap dalam ka­tegori OTT – Operasi Tangkap Tangan – Sebuah status yang memalukan dan menegakkan bulu roma. Dia dituduh menerima uang “rosok” dari pengusaha gula yang suami isteri sepasang tadi. Tak dapat berkata “Bu” atau “Ba”. Karena sebelumnya KPK telah mengendus percakapan lewat penyadapan telepon.

Sudah dapat diguga,”Anggang lalu, Atah jatuah. Anak raja ditimpanya.” Irman Gusman, orang awak “kelas atas” yang selama ini kita bangga-banggakan tertarung, tertelungkup terti­lantang di depan mata orang banyak – memalukan. Hanya seratus juta ? Kok ke iya juga akan tersesat, agak berdegaplah ang­kanya. Sekian ratus miliar atau sekian T yang dua belas nol di belakagnya. Ini, setaus juta.

Niscayalah awak akan ber­tanya-tanya. Benar-benarkah ini, atau sandiwara? Irman Gusman seperti diketahui adalah keluarga yang kaya raya. Seratus juta, (maaf) barangkali seharga belanja beli permen cucunya saja. Tak mung­kin dia “silap” dengan jum­lah yang sejemput itu. Tak mungkin.

Terlepas dari kedewasaan menghargai “langkah hukum”, dia yang orang awak yang terta­rung di kerikil kecil. Memang kerikil kecil yang sering menja­tuhkan orang. Batu besar dapat dielakkan. Se­bagai orang Minang kita tak boleh tertawa-tawa, gem­bira di atas jatuhnya dunsanak kita. Belum tentu “biduak ka karam. Kenapa nokhoda segera diganti.” Ten­teramkan nafas. Merenung dan mengambil hik­mah boleh boleh saja. Tapi, jagan SMS – Senang Melihat orang Susah”.

Jangan seperti adat orang-orang di tingkat pusat itu. Seperti yang kita dengar dan lihat. Begitu malapetaka menimpa, mereka semua bermai-ramai ikut me­nginjak-injak dan meludahi. Padahal, sebelum ini mereka mengaku teman atau rekannya. Sama duduk. Sama minum. Sama tertawa. Tapi, begitu si kawan jatuh, semua berlomba-lomba, menjauh dari tagan Irman yang tergapai menjamba. ***

 

Oleh: ALWI KARMENA



Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com


[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]




TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 30 Desember 2019 - 00:05:35 WIB

    STREET FOOD MEMPERSATUKAN

    STREET FOOD MEMPERSATUKAN DALAM  sepekan terakhir pak Bupati Sutan Riska meresmikan dua pusat jajanan yang beliau beri nama "Street Food", yaitu Tradisional Street Food di Pulau Punjung dan Kakilima Street Food di Sungai Rumbai. Dalam beberapa waktu.
  • Jumat, 21 Juni 2019 - 22:50:23 WIB

    Inventarisasi dan Identifikasi Sebaran, Upaya Mewujudkan Rumah Gadang dalam Kesatuan Basis Data

    Inventarisasi dan Identifikasi Sebaran, Upaya Mewujudkan Rumah Gadang dalam Kesatuan Basis Data RUMAH Gadang, tidak hanya menjadi identitas masyarakat Minangkabau yang sarat akan makna dan filosofi, namun juga menjadi salah satu bentuk sumber daya budaya yang memiliki signifikansi; dari sisi arsitektur, teknis struktur,.
  • Sabtu, 15 Oktober 2016 - 23:06:17 WIB

    BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau

    BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau “Kok tidak landang jo landi, dimano kiambang diam. Kok indak utang dibayia, dimano dagang ka tajua” .
  • Sabtu, 13 Agustus 2016 - 02:43:31 WIB
    GELIAT PEPBSI MERIAHKAN HUT RI

    Bagi-bagikan Sariak, Menggelorakan Persatuan

    Bagi-bagikan Sariak, Menggelorakan Persatuan Peringatan HUT Ke­mer­dekaan RI ke-71, tinggal me­nu­ng­gu hari. Berbagai persiapan kegiatan untuk memeriahkan mo­men­tum bersejarah itu, telah mulai dilakukan berbagai kelompok dan lapisan ma­sya­rakat. Semua, semat.
  • Jumat, 22 Juli 2016 - 12:30:46 WIB

    Pohon Tumbang di Depan Gerbang UNP, Satu Unit Mobil Minibus Rusak

    Pohon Tumbang di Depan Gerbang UNP, Satu Unit Mobil Minibus Rusak PADANG, HALUAN--Satu pohon tumbang di tepi jalan dekat Gerbang UNP setelah diterpa hujan dan angin kencang, Jumat (22/7). Pohon besar tersebut sempat menghambat jalur lalu lintas menuju Tabing. YOLA SASTRA.

BERITA TERKINI Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM