Jaksa Farizal Kocar-kacir Diuber Awak Media


Kamis, 22 September 2016 - 04:40:49 WIB
Jaksa Farizal Kocar-kacir Diuber Awak Media JAKSA Farizal diuber wartawan usai diperiksa KPK, Rabu (21/9)

JAKARTA, HALUAN — Kejadian unik di depan Gedung Komisi Pembe­ranta­san Korupsi (KPK) Jakarta, Rabu (21/9). Jaksa Farizal yang bertugas di Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sumbar, kocar-kacir diuber awak me­dia seusai diperiksa penyi­dik KPK. Farizal diperiksa sebagai saksi terhadap ter­sangka.  Setelah diperiksa sekitar 6 jam, Farizal keluar dari Gedung KPK. Awak media yang melihat Farizal kemudian meng­hampirinya untuk menanyakan seputar pemeriksaan dan kasus dugaan suap yang sedang men­jeratnya. Namun, Farizal berupaya menghindar sambil mengunci rapat mulutnya. Tak sepatahpun kata keluar dari mulut Farizal yang juga Kasi Penuntutan di Kejati Sumbar.

Farizal yang mengenakan kemeja polos berwarna krem tersebut, berupaya menerobos kerumunan wartawan untuk menu­ju gerbang depan Gedung KPK. Ia sempat mengeluh sakit dan meminta wartawan untuk tidak mengejarnya. “Aduh, kaki saya sakit,” kata Farizal, Rabu (21/9), sambil menundukkan kepala seperti dilansir kompas.com.

Farizal akhirnya berhasil me­nuju Jalan HR Rasuna Said. Ia pun berlari di tengah kemacetan pan­jang kendaraan. Para wartawan terus mengikutinya. Farizal sem­pat mengetuk kaca taksi yang sedang berhenti, dan meminta sopir untuk membukakan pintu.  Namun, meski sedang tidak ada penumpang, sopir taksi tersebut menolak membukakan pintu.

Farizal yang terlihat kebingu­ngan sempat menoleh ke kanan dan kiri untuk menghindari keja­ran wartawan. Akhirnya, ia kem­bali berlari menuju pintu keluar Gedung KPK, dan berhasil meng­hindari wartawan setelah ditolong oleh polisi yang bertugas. Oleh polisi dan petugas keamanan, Farizal kembali diajak masuk ke lobi depan Gedung KPK. Farizal meminta agar petugas keamanan membantu mencarikan taksi. Hingga satu jam kemudian, Fari­zal masih menunggu di lobi Gedung KPK.

Farizal merupakan tersangka penerima suap dalam penanganan kasus distribusi gula impor di Sumbar. Jaksa Farizal tiba di Gedung KPK sekitar pukul 11.48, dengan didampingi sejumlah jaksa dari Jaksa Muda Pengawasan dari Kejaksaan Agung (Keja­gung). KPK sebelumnya mengu­sut dugaan suap Rp365 juta kepada jaksa Farizal oleh Direktur Utama CV Semesta Berjaya, Xave­riandy Sutanto.  Xaveriandy merupakan terdakwa perkara Distribusi Gula tanpa label Stan­dar Nasional Indonesia (SNI) di Pengadilan negeri (PN) Padang, dimana Farizal dipercaya sebagai Ketua Tim Jaksa Penuntut Umum (JPU). Tujuan suap itu, agar Farizal membantu perkara pidana yang hingga kini sidangnya masih berjalan di PN Padang.

Sebagai Ketua Tim JPU, alih-alih berusaha membuktikan Su­tan­to bersalah di kasus penye­lundupan gula impor, Jaksa Fari­zal malah membantu Sutanto membuat eksepsi (nota keberatan) atas dakwaan yang dibuat oleh tim jaksa yang diketaui Farizal sendiri.

“Berkas perkara Xaveriandy memang diteliti oleh Jaksa Fari­zal, diarahkan tidak ditahan di pe­nyidik Polda Sumbar agar menjadi tahanan kota. Selanjut­nya berkas tersebut di P21 dengan tidak mem­perhatikan artinya kurang teliti untuk apakah sudah memenuhi syarat formil atau materiil.

Selanjutnya JPU Farizal ini tidak pernah mengikuti sidang dan menerima sejumlah uang.  Sementara jumlahnya Rp 60 juta empat kali terima. Tapi itu belum final. Farizal juga tidak informatif kepada anggota tim lainnya,,” kata Kapuspenkum Kejagung, M Rum di kantornya, Jl Hasannudin, Jaksel, Rabu (21/9) seperti dilan­sir detik.com.

Bukan hanya tak pernah me­ngikuti sidang, Jaksa Farizal justru membantu Sutanto yang berstatus terdakwa saat menyusul eksepsi. Padahal, eksepsi itu berisi semua bantahan terhadap surat dakwaan yang disusun jaksa penuntut umum. 

Kejagung pun menyerahkan proses hukum Farizal ke KPK. Bahkan, Rabu (20/9) siang, tim Kejagung sudah mengantarkan Farizal untuk diperiksa penyidik KPK.  “Kita serahkan kepada KPK. Kita tidak masuk ke arah yang menjadi domainnya KPK. Kita adalah pemeriksaan internal kita. Untuk mengetahui sejauh mana Farizal ini melaksanakan keten­tuan-ketentuan kita,” ungkap Rum.

“Sanksi berat ya kepegawaian ada. Bukan hanya dicopot, dipe­cat. Tapi FZ ini belum ditentukan karena pemeriksaan masih ber­lanjut. Detilnya belum bisa kita jelaskan,” ujar Rum saat ditanya soal sanksi bagi Jaksa Farizal.

Berdasarkan penelusuran detik­com, Senin (19/9), Sutanto yang menyuap Irman Gusman sehari-hari menjadi Direktur dari CV Rimbun Padi. Sutanto disidik atas pengembangan kasus yang dilakukan Polda Sumatera Barat terkait kuota impor dan telah menyita 30 ton gula dalam Gu­dang di Jalan 22 Jalan By Pass, Kota Tangah, Kota Padang. Gula yang diduga ilegal karena tak memiliki SNI itu bermerek Ber­lian Jaya.

Kasus itu telah dilimpahkan ke PN Padang pada awal Agustus 2016 dan dijerat pasal 113 UU Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan dengan ancaman pidana penjara paling lama 5 tahun dan atau denda paling banyak Rp 5 miliar. Sutanto kini sidang masih berlangsung dalam pembuktian.

Nah, terjerat kasus gula, jaksa tidak menahan Sutanto dan hanya dikenakan tahanan kota. Alih-alih tetap dalam Kota Padang, Sutanto dan istrinya malah ‘jalan-jalan’ ke Jakarta dan menyuap Irman Gusman dengan harapan bisa membantunya di kasus yang menjeratnya.

Diduga, ada kongkalikong antara jaksa dengan Sutanto. KPK menyebut jaksa menerima Rp365 juta untuk mengamankan kasus Sutanto di PN Padang. (h/ald)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]