Kesalehan Sosial


Jumat, 23 September 2016 - 02:50:44 WIB
Kesalehan Sosial Ilustrasi.

Seringkali terjadi kekeliruan pemahaman antara kesalehan sosial dan kebaikan. Padahal, meskipun memiliki konsep yang hampir sama, namun sebenarnya keduanya adalah hal yang berbeda.

Seseorang yang telah me­lakukan kesalehan sosial su­dah tentu melakukan suatu ke­baikan. Namun tidak berlaku sebaliknya.

Sederhananya, kesalehan sosial adalah suatu perbuatan di­lakukan yang memiliki dam­pak positif berkelanjutan, atau kesalehan sosial akan me­nimbulkan hal-hal positif yang sifatnya terus-menerus. Jika tidak, maka baru sebatas pada melakukan kebaikan saja.

Dampak positif ber­kelan­jutan ini penting sekali mak­nanya, karena perbuatan yang dilakukan dapat mengubah kehidupan orang lain menjadi lebih baik. Sementara berbuat kebaikan saja tidak mengubah keadaan.

Contohnya seperti ini, jika seseorang memberikan maka­nan kepada orang miskin, itu baru dapat dikatakan sebagai kebaikan saja. Kenapa? karena setelah orang tersebut selesai makan, pada suatu saat ia akan lapar lagi. Tidak ada peru­bahan nasib di dalam kehi­dupan­nya. Meskipun pihak yang memberi makanan akan mendapatkan pahala di dalam buku amal nya dan telah ber­buat baik menurut pandangan manusia, namun pada prin­sipnya ia belumlah melakukan suatu perbuatan yang dapat dikategorikan se­bagai kesa­lehan sosial.

Kenapa? Karena secara garis besar si orang miskin tersebut nasibnya tidak akan berubah oleh karena amal kebaikan seseorang tersebut. Setelah diberikan makanan si orang miskin tersebut akan tetap saja miskin. Standar kehidupannya tidak berubah. Kesehatannya tetap tidak terjamin. Apalagi jika dikait­kan dengan nasib keluarganya secara keseluruhan.

Kecuali jika orang miskin tersebut di beri pendidikan atau di beri modal untuk berusaha. Atau perbuatan-perbuatan baik lainnya yang bisa menimbulkan dampak positif secara terus-menerus.

Dengan melakukan hal ini, walaupun belum tentu juga akan merubah nasib si orang mis­kin tersebut, na­mun seti­daknya dia memiliki peluang untuk mengubah na­sib. Dengan pemberian modal dan bimbingan usaha, si orang miskin akan mendapatkan sesuatu yang lebih berarti sehingga dalam jangka pan­jang bisa saja nasibnya akan mengalami perubahan ke arah yang lebih baik.

Pada satu masa tertentu, pihak yang melakukan ke­salehan sudah merasa cukup memberikan bimbingan dalam melakukan usaha. Si orang miskin yang sudah berubah nasibnya tetap dapat me­lan­jutkan usahanya. Kehi­du­pan­nya menjadi lebih baik. Pendi­dikan anaknya akan lebih terjamin.

Bisa jadi suatu pihak yang diberi bantuan tersebut juga melakukan kesalehan sosial yang serupa kepada orang miskin lainnya. Sehingga suatu saat dia pun dapat berperan dalam mengubah nasib seseorang. Atau keber­hasilannya dalam berusaha diteruskan oleh keturunannya.

Inilah yang disebut dengan kesalehan sosial. Sebuah per­buatan baik yang memiliki dampak positif berkelanjutan.

Contoh di atas sama mak­sudnya dengan idiom “give a man a fish and he will eat for a day, teach a man to fish and he will eat for a lifetime”. Beri seseorang ikan maka dia akan makan untuk hari itu saja, beri dia kail maka ia bisa makan seumur hidupnya.

Mengapa Kesalehan Sosial Penting?

Kesalehan sosial menjadi penting untuk dipahami dika­renakan konsep kesalehan sosial yang seringkali ter­cam­pur adukkan dengan ke­bai­kan, sehingga kita tidak dapat mem­bedakan antara kebaikan dan kesalehan sosial. Padahal pe­mahaman konsep ini akan memberikan sudut pandang yang lebih jelas dalam me­maknai sebuah perbuatan. Dan juga memberikan kita sebuah sudut pandang yang lebih baik ketika akan membantu sesama.

Seperti yang sering terjadi, banyak kalangan baik dari pemerintah ataupun swasta  berbuat kebaikan, namun ti­dak memiliki dampak positif sesudahnya. Terlihat dari luar sepertinya telah menolong masyarakat banyak, namun yang ditolongnya tetap saja tidak mampu berubah ke arah yang lebih baik. Sehingga kehidupan masyarakat banyak begitu-begitu saja dari dulu hingga sekarang.

Kita ambil satu con­toh, dulu pemerintah pe­rn­ah menggulirkan Program Ban­tuan Langsung Tunai (BLT) se­bagai kom­pen­sasi dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak di tahun 2008. Disini pe­merintah memberikan BLT sebesar Rp 100.000 per bulan kepada 19,1 juta warga miskin begitu harga BBM dinaikkan.

Sekarang mari kita ana­lisa. Apakah kebijakan pe­merintah adalah suatu ke­baikan? Ya, tentu saja baik. Keluarga yang tidak mampu tentu akan me­rasa senang dan sedikit ter­tolong dengan ada­nya ja­tah ban­tuan untuk se­tiap bu­­lan­nya. Paling tidak, menurut pe­me­rintah, beban ekonomi yang timbul karena harga BBM naik akan sedikit terobati.

Namun apakah kebijakan tersebut adalah kesalehan sosial? Belum tentu.

Belajar dari pengalaman yang sudah-sudah, program BLT tidak mengurangi angka kemiskinan. Yang ada pe­nyalurannya cenderung tidak tepat sasaran. Ada banyak warga masyarakat yang mala­han ingin terdata sebagai keluarga miskin agar bisa ikut menikmati BLT tersebut. Ang­ka kemiskinan malah jadi membengkak.

Maka memberikan BLT sebesar Rp100.000 perbulan kepada warga miskin di In­donesia bukanlah solusi da­lam mengatasi kesulitan eko­nomi masyarakat. Kebijakan tersebut hanyalah untuk me­nenangkan masyarakat. Na­mun setelah BLT tersebut ha­bis digunakan, apakah ma­syarakat menjadi semakin baik kehidupannya? Jawabannya tidak. Maka BLT hanyalah suatu perbuatan kebaikan, namun bukanlah kesalehan sosial.

Bahkan bisa jadi program BLT tersebut bu­kanlah ke­bai­kan, karena si­fatnya tidak men­didik dan bi­sa jadi malah men­jerumuskan ma­syarakat ke ju­rang ke­mis­ki­nan yang le­bih dalam lagi. Karena dengan BLT masyarakat hanya ter­gantung dengan uang tunai, kalau tidak ada uang tunai bagaimana?

Lalu apa yang seharusnya dilakukan oleh pemerintah jika ingin melakukan kesa­lehan sosial? Sederhana saja, berikanlah kebijakan yang memang dapat mengentaskan kemiskinan. Caranya dengan membantu masyarakat miskin untuk membangun pondasi ekonominya dengan kuat dan tidak bergantung kepada uang tunai saja. Bisa dengan me­ngu­sahakan bantuan dalam bentuk modal usaha, namun tidak dalam berupa uang tunai saja. Namun dibarengi dengan pembinaan dan pengawasan, sehingga penggunaan ban­tuan modal tersebut dapat digunakan secara optimal.

Jika itu dilakukan dan dapat mengubah nasib ke­luarga miskin Indonesia, itulah kesalehan sosial pemerintah

Pemahaman ini penting sekali tidak hanya sebagai masyarakat yang ikut me­ngawasi kebijakan-kebijakan pemerintah dan swasta yang melibatkan orang banyak. Namun juga penting sekali untuk dipahami oleh Anda sebagai pengambil kebijakan.

Karena sesuai dengan ha­dits, setiap orang adalah pe­mim­pin. Dan pastinya seorang pemimpin selalu dihadapkan pada situasi menjatuhkan pilihan. Bisa jadi pilihan yang sangat besar yang menentukan nasib orang lain, atau pilihan yang menentukan nasib diri sendiri. Apapun itu, ingatlah selalu konsep kesalehan sosial. Jatuhkan pilihan pada opsi yang akan membawa dampak positif secara berkelanjutan.

Kesalehan Sosial dan Amal Jariah

Jika dihubungkan dengan ajaran Islam, yang paling dekat dengan konsep ke­salehan so­sial adalah amal jariah.

Salah satu hadits Ra­sulullah SAW yang tentunya sangat akrab di telinga para mukmin adalah: “Apabila meninggal anak cucu Adam (maksudnya manusia), maka terputuslah amalnya ke­cuali tiga hal saja, yaitu sedekah jariah, ilmu yang diambil man­faatnya oleh manusia, dan anak yang saleh yang selalu berdoa untuknya” (HR. Ahmad).

Pada kesempatan lain b­e­liau juga pernah bersabda: “Se­sungguhnya amal saleh yang akan menyusul seorang mukmin setelah dia meninggal dunia kelak ialah ilmu yang dia ajarkan dan sebarkan, anak saleh yang dia tinggalkan, mushaf Alquran yang dia wa­riskan, masjid yang dia b­a­ngun, rumah tempat sing­gah para musafir yang dia diri­kan, air sungai (atau irigasi) yang dia alirkan, dan sedekah yang dia keluarkan di kala sehat dan masih hidup. Semua ini akan menyusul dirinya ketika dia meninggal kelak” (H.R. Ibnu Majah dan Baihaqqi).

Dari kedua hadits di atas dapat dilihat sebenarnya kon­sep kesalehan sosial sudah lama diajarkan oleh Ra­su­lullah. Bahkan kesalehan so­sial ter­sebut mendapatkan peng­har­gaan yang teramat be­sar di dalam Islam. Kesalehan sosial yang didefinisikan sebagai amal jariah dalam Is­lam akan selalu mendapatkan pahala yang ti­dak akan putus, walaupun orang yang me­lakukan kesalehan sosial ter­sebut telah meninggal dunia. Pahalanya tetap akan terus mengalir. (*)

 

OKKI TRINANDA MIAZ

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]