MELIHAT WARGA KERINCI YANG TERLANTAR

Zainuddin Sebatang Kara di Pondok Derita


Jumat, 23 September 2016 - 02:58:58 WIB
Zainuddin Sebatang Kara di Pondok Derita WAJAH Zainuddin yang menghiba menerima bantuan sembako yang diberikan oleh jajaran Satlantas Polres Pasbar. Jajaran Polres Pasbar menitikkan air mata melihat nasib yang dialami oleh Zainuddin. (OSNIWATI)

Tidak bisa dibayangkan apa yang dialami oleh Zainuddin (44). Tidak memiliki rumah yang layak untuk ditempati. Hidup sebatang kara, tidak memiliki keluarga, tidak memiliki teman dan jauh dari kampung halaman. Sedih memang. Namun, Zainuddin tidak punya pilihan. Kondisi ini sudah dialami oleh Zainuddin selama tiga tahun.

Jika bertandang ke pondok buruk Zai­nuddin di Bancah Ta­lang Jorong Pasaman Baru, Nagari Lingkuang Aua  Kecamatan Pasaman, Kabupaten Pasaman Barat membuat siapapun prihatin. Karena kondisi pondok buruk Zainuddin tidak layak untuk ditempati. Ketika hujan datang, air masuk ke dalam ‘pon­dok derita’ tersebut. Sebab, atap­nya dari sisa terpal, diberi pe­nyangga kayu dan sisa atap seng yang didapat dari jalanan dan ber­lantai tanah. Jarak pondok tersebut dari rumah penduduk mencapai setengah KM karena sudah masuk ke perkebunan masya­rakat, bukan di pemukiman penduduk.

Untuk menghindari dingin­nya lantai tanah, Zainuddin me­nyusun kayu  sebagai divan untuk tempat tidur. Itu baru kondisi tempat tinggal Zainuddin yang sangat menyedihkan.

Selain itu, Zainuddin bak terbuang dirimba belantara. Dari logat yang keluar ketika berbicara sepertinya Zainuddin berasal dari Kerinci Jambi. Namun, tidak ada yang bisa memastikan hal ter­sebut, karena Zainuddin tidak memiliki kartu identitas apapun.

Dari keterangan Zainuddin, dia memiliki rumah dan kebun kelapa di Suriak Kerinci Jambi. Di pondok tersebut Zainuddin hanya ditemani oleh ayam dan kucing peliharaannya yang diberikan oleh orang yang kasihan. “Rumah saya di Suriak Kerinci Jambi. Tapi saya dibawa oleh orang ke sini, dan tinggal di kebun sawit ini,” jelas Zainuddin.

Entah siapa yang membawa dan menelantarkan Zainuddin di Pasaman Barat,  tidak ada yang tahu, tidak ada yang bisa memas­tikan. Penderitaan Zainuddin belum berakhir sampai disitu.

Selain jauh dari keluarga, tenaga Zainuddin juga diman­faatkan oleh pemilik kebun sawit tersebut untuk menolong merawat kerbun yang cukup luas. Zainud­din ditempatkan di area yang agak berawa-rawa dan dataran rendah. Tempat yang tidak layak. Jika membantu merawat kerbun sawit tersebut akan diberikan uang Rp10 ribu sampai Rp25 ribu untuk kerja seharian.

Anak ketiga dari 12 bersaudara ini ingin sekali melihat kampung halamannya kembali. Namun, keterbatasan yang ia miliki tidak kunjung membuat mimpi itu terwujud. Padahal kedua orang tuanya masih hidup. Apalagi orang tuanya tahu dia pergi merantau, bukan menjadi terlan­tar seperti itu. Orang tuanya mengizinkan pergi untuk meran­tau ke Jakarta. “Saya ingin pulang lagi ke Kampung halaman. Tapi tidak punya uang. Orang tua saya tahunya saya pergi merantau ke Jakarta,”papar Zainudddin.

Herlin yang pernah ber­te­tangga dengan Zainuddin me­nuturkan,  “Kasihan kita melihat kondisi apak ini. Saya sudah kenal dengan dia selama dua tahun lebih, katanya dia dari Jambi. Dia mau pulang kampung tapi tidak ada uang. Saya juga sulit. Kadang dia kerumah menjual hasil kebun­nya seperti ubi jalar sedikit, ikan, pisang yang dia tanam di dekat pondoknya itu,” terang Herlin.

Yang sangat disayangkan de­ngan kondisi Zainuddin sudah tiga tahun berada di Pasaman Barat tanpa identitas  dan  tidak ada yang peduli. Entah sisi atau rasa kemanusian yang mulai berku­rang atau kehidupan yang se­makin sulit di masyarakat. Mulai dari perangkat jorong, nagari, kecamatan hingga dinas sosial. Padahal sebagai orang asing yang masuk ke suatu wilayah harus melapor atau dilaporkan kepihak yang berwenang. “Saya rasa Pem­da tidak tahu soal ini. Sebab, sudah tiga tahun tidak ada yang peduli. Sayapun takut untuk melaporkan,” urai Herlin.

Herlin lah yang menyam­paikan kepada Haluan bahwa ada seorang Bapak yang terlantar. Berangkat dari rasa itulah Haluan mencoba melihat kondisi Zai­nuddin secara langsung.

Bak gayung bersambut, kebe­tulan ulang tahun polisi lalu lintas (Lantas) jajaran Satlantas Polres Pasbar tertarik memberikan bantuan sembako kepada Zai­nuddin.

Sementara itu, Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Transmigrasi Pasaman Barat ketika dikonfir­masi Haluan kemarin (22/9)  me­ngatakan tidak mengetahui kon­disi tersebut. Namun, jika ada yang melaporkan kondisi tersebut pasti akan ditindaklanjuti. “Saya baru tahu itu, ada warga kerinci yang terlantar di sini. Saya akan tindaklanjuti,” jawabnnya.***

 

Laporan: OSNIWATI

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]