Dispernakbunhut: Ribuan Hektare Lahan Kritis Tak Tergarap


Sabtu, 24 September 2016 - 03:17:43 WIB

PADANG, HALUAN—Ribuan hektare lahan kritis di Kota Padang tidak tergarap secara maksimal. Padahal lahan tersebut berpotensi untuk dijadikan perkebunan rakyat, terutama untuk tanaman-tanaman produktif.

Menurut Kepala Dinas Pertanian, Perternakan, Per­kebunan, dan Kehutanan (Dispernakbunhut) Dian Fak­ri, Jumat  (23/9), masyarakat Kota Padang banyak yang berpikir tidak mungkin ada perkebunan di Kota Padang. Perkebunan seperti kebun sawit, hanya milik kabupaten dan kota.

“Mereka lupa atau me­reka tak kenal Kota Padang, betapa luasnya lahan per­bukitan yang kritis, pohonnya entah sejak kapan ditebang. Lihat saja di Sungkai, Batu Busuak, Guo dan banyak perbukitan yang lainnya. Itu bukan kawasan hutan, artinya tanah ulayat yang baru sedikit diusahakan untuk menjadi ladang, dan kebun campuran. Sedangkan kondisi ke­miri­ngan­nya sangat rawan long­sor dan menyebabkan banjir, sehingga perlu ditanami po­hon,” ucap Dian Fakri.

Ia menyarankan, lahan-lahan ini ditanami dengan tanaman yang produktif se­perti tanaman perkebunan yang bisa dipanen dalam beberapa bulan. Jika ditanami pohon besar, produktifitasnya sangat lemah, karena mem­butuhkan waktu bertahun-tahun untuk bisa diman­faatkan.

Dian sendiri hingga saat ini, tidak memiliki data angka pasti berapa luas lahan kritis ini di Kota Padang. Termasuk lahan yang kritis yang sudah menjadi kawasan per­ke­bu­nan.

“Tapi dari perjalanan selama ini, luasnya sampai ribuan hektare yang perlu dijadikan perkebunan rakyat dan butuh investasi yang sangat besar. Sebaiknya, perkebunan rakyat ini dicam­pur dengan peternakan se­perti sapi, kambing maupun ayam. Pada areal yang ada aliran air juga bisa berternak itik,” tambahnya.

Untuk mencari investor yang mau memanfaatkan area perkebunan rakyat ini, Dispernakbunhut menggu­nakan sistem pembinaan melalui paket-paket bantuan APBN, APBD, dan CSR untuk kelompok-kelompok perkebunan.

Untuk saat ini, di Kota Padang terdapat  81 kelom­pok yang tersebar di Keca­matan Bungus 25 kelompok, Lubuk Begalung terdiri atas 4 kelompok, Lubuk Kilangan 4 kelompok, Padang Selatan 12 kelompok, Nanggalo 5 kelompok, dan Kuranji 9 kelompok, Pauh 15 ke­lom­pok, dan Koto Tangah 7 kelompok.

“Rata-rata satu kelompok 10 orang, tapi bervariasi. Tidak ada syarat minimal jumlah anggota dalam keten­tuan pembentukan kelompok. Umumnya luas lahan untuk satu kelompok perkebunan 20 Ha,” tutur Dian Fakri.

Untuk Anggaran perke­bunan memang mengalami perkebunan dari tahun sebe­lumnya. Jika di tahun 2015 sebanyak Rp 600 juta tahun 2016 menjadi Rp500 juta. Menyikapi situasi keuangan ini, pihaknya mengajukan proposal-proposal untuk mendapatkan anggaran CSR dari perusahaan. . (h/mg-mel)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]