Full Day School Bukan Sistem Baru


Senin, 26 September 2016 - 01:45:57 WIB

Full Day School (FDS) artinya sekolah sehari penuh. Rencana ini dilontarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy.

Full day school berawal pada awal sekitar tahun 1980-an di Amerika Serikat pada jenjang sekolah Taman Kanak-kanak ke­mudian meluas pada jenjang yang lebih tinggi sampai dengan sekolah menengah atas. 

Latar belakang munculnya Full Day Schooll adalah: semakin banyaknya kaum ibu yang memiliki anak berusia di bawah 6 tahun dan juga bekerja di luar rumah serta berkembangnya kemajuan di segala aspek kehidupan, maka banyak orang tua berharap nilai akademik anak-anak mereka meningkat sebagai persiapan untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, juga dapat mengatasi masalah-masalah kemajuan zaman.

Dengan memasukkan anak-anak ke full day school, orang tua berharap anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu belajar di lingkungan sekolah dari pada di rumah dan anak-anak dapat berada kembali di rumah setelah menjelang sore untuk ber­kumpul dengan keluarga.

Gagasan Mendikbud untuk mene­rapkan full day school ditanggapi pro dan kontra oleh masyarakat. Bahkan ada yang menya­takan menolak dengan menan­datangani petisi online di situs change.org. Jumlah yang menandatangani petisi ini puluhan ribu orang.

Penggagas petisi menilai saat ini justru tren sekolah di negara-negara maju adalah mengurangi jam sekolah, tidak ada peker­jaan rumah, serta lebih mengedepankan pembangunan karakter.

Adanya penolakan terhadap rencana FDS tak membuat Mendikbud mundur. Ia mengatakan, sebanyak 500 sekolah di In­donesia akan menerapkan Full Day School  secara nasional dengan sistem piloting (percontohan). FDS ini akan diterapkan mulai tahun pelajaran 2017-2018.

“Penerapan  Full Day School bertujuan untuk pembentukan karakter siswa sekaligus menjadikan sekolah rumah kedua,” kata Mendikbud saat memberikan kuliah umum pada Seminar Nasional Pendidikan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta Padang di Hotel Mercure, Padang Minggu (24/9).

Menurut Mendikbud, FDS ini bukan berarti para siswa belajar selama sehari penuh di sekolah. Program ini memastikan siswa dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter, misalnya mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.

Usai belajar setengah hari, hendaknya para peserta didik (siswa) tidak langsung pulang ke rumah, tetapi dapat mengikuti kegiatan ekstrakurikuler yang menye­nang­kan dan membentuk karakter, kepribadian, serta mengembangkan potensi mereka. Dengan demikian, para siswa dapat terhindar dari pengaruh-pengaruh negatif dan kegiatan kontraproduktif, seperti penyalahgunaan narkoba, tawuran dan sebagainya.

Selain itu, dengan membentuk pendidi­kan berkarakter, siswa juga memiliki ke­terampilan  daya saing yang kuat dalam lapangan pekerjaan.

Full Day School ini bukanlah sistem baru. Se­­kolah-sekolah di Kota Padang sebenarnya sudah ada yang menerapkan full day school. Siswa masuk pukul 07.00 dan pulang pukul 16.00. Pondok pesantren belajarnya bukan hanya sehari penuh, malahan sampai malam. Dengan adanya sekolah percontohan, kita lihat saja hasilnya nanti. Apakah membawa kemajuan atau mendatangkan mudarat. ***

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 08 November 2016 - 23:58:40 WIB

    Apa Kabar Full Day School?

    Sejak Agustus 2016 lalu, Menteri Pen­di­dikan dan kebudayaan Muhajir Effendi telah melempar gagasannya untuk menam­bah kegiatan siswa di sekolah atau yang lebih popular disebut full day school (FDS) atau sekolah seharian p.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]