Prostitusi Terselubung di Kota Padang


Senin, 26 September 2016 - 01:48:06 WIB
Prostitusi Terselubung di Kota Padang Ilustrasi.

Malam itu, kami berjalan-jalan di sekitaran Taman Melati guna untuk menenangkan pikiran dari sibuknya kegiatan perkuliahan. Namun tanpa diduga, di saat kami berjalan pelan datang mobil jenis avanza yang memaksa kami untuk berkendara agak menepi.

Awalnya kami kira mobil tersebut akan menyalip, na­mun ternyata tidak. Sungguh di luar dugaan, mobil tersebut menawarkan perempuan ke­pada kami. Kalimat tawaran yang dilontarkan kepada kami pun tak ubahnya seperti ka­limat yang biasa diucapkan pedagang kaki lima diPasar Raya Padang. Sang sopir ber­kata “cewek da”. Kalimat ter­sebut sontak membuat kami penasaran tentang mekanisme Prostitusi di Kota Padang.

Salah seorang dari kami pun mencoba menawar harga dari perempuan-perempuan pekerja seks komersil tersebut. Sungguh di luar dugaan, harga yang ditawarkan pun relatif murah untuk ukuran sebuah harga diri. Awalnya, harga yang mereka tawarkan adalah Rp 500 ribu, namun berkat tawar menawar yang alot selayaknya tawar menawar dengan pe­dagang kaki lima di Pasar Raya, sampailah pada harga terendah, yaitu Rp 200 ribu.

Salah seorang teman ber­niat ingin mencari tahu lebih tentang praktik Prostitusi yang berlangsung setiap malamnya di kawasan Taman Melati ini. Hingga akhirnya ia memu­tuskan untuk ikut ke hotel sembari mencari tahu bagai­mana sistemnya.

Namun keinginan itu urung terjadi. Hal ini dika­re­nakan perempuan pekerja seks dan sopir mobil mulai curiga dengan gelagat kami. Mereka mulai terlihat memperhatikan kalimat-kalimat tanya yang kami lontarkan.

Kegagalan Pemko Padang

Sudah menjadi rahasia umum jika Taman Melati ada­lah kawasan prostitusi ter­selubung di Kota Padang, Su­matera Barat. Meski telah ber­kali-kali pihak Pemko me­la­kukan razia, namun itu tam­paknya tidak berefek ter­hadap terhentinya praktik Prostitusi tersebut.

Bukti nyata dari kegagalan Pemko padang dalam mem­berantas praktik Prostitusi ini dapat dibuktikan dengan ba­nyaknya mobil yang ber­ke­liling di Taman Melati sambil menjajakan perempuan-pe­rem­puan pekerja seks setiap malamnya. Bahkan bila kita cermati lebih cermat, kegiatan itu berlangsung di kisaran pukul 20:00 hingga 05:00 dini hari. Dalam rentang waktu tersebut, kawasan Taman Me­la­ti dan sekitar  akan berganti menjadi tempat transaksi para wanita penghibur dan pria hidung belang.

Tidaklah terlalu sulit un­tuk menandai mobil yang sedang berusaha berusaha mencari pelanggan. Biasanya, mobil yang di dalamnya ter­dapat PSK berjalan pelan dan hanya berputar-putar di seki­taran Taman Melati. Dan ada pula mobil yang berputar-putar dengan memutar musik de­ngan suara keras.

Apabila telah larut malam, maka aktivitas Prostitusi di kawasan ini akan semakin ramai, suasana mulai berubah drastis. Terutama dengan sema­kin ramainya mobil pribadi yang terus berputar-putar di sekitar jalan itu. Sepintas lalu memang tidak aneh, tapi jika diteliti dengan seksama, di dalam mobil itu terdapat wa­nita-wanita seksi yang du­duk­nya di samping sopir dan tertutup kaca film yang gelap.

Bila telah lewat tengah malam, wanita yang berada di dalam mobil kian berani dan tidak sungkan melambaikan tangannya kepada pengendara yang melewati daerah itu. Bahkan mereka tidak segan-segan memanggil pengendara yang berjalan pelan atau te­ngah berhenti.

Merancang Penanggulangan

Perkara Prostitusi terselu­bung di Kota Padang sejatinya bukanlah hal baru, melainkan telah berlangsung sejak lama. Meski berbagai upaya pem­berantasan telah dilakukan Pemko Padang, namun tetap saja praktik Prostitusi tidak ada habisnya.

Artinya, perkara Prostitusi di Kota Padang tidak hanya menjadi masalah Pemko Pa­dang semata, tetapi telah men­jelma menjadi masalah ber­sama. Untuk itu, pembe­ran­tasan Prostitusi harus dilaku­kan secara bersama-sama pula.

Setidaknya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh Pemko Padang guna untuk menertibkan Prostitusi terse­lubung ini. Pertama, Pemko Padang harus menggandeng masyarakat dalam mem­beran­tas Prostitusi ini. Hal ini bertu­juan agar terciptanya sinergi yang baik dengan masyarakat dalam memberantas Prostitusi yang semakin hari semakin dianggap biasa. Sebab, yang tahu masalah utama tentang Prostitusi ini tentulah masya­rakat, karena masyarakat lah yang setiap hari bersentuhan langsung dengan lingkungan yang menyajikan peman­da­ngan maksiat itu.

Kedua,menempatkan petu­gas untuk selalu bersiaga di daerah rawan Prostitusi dari sore hingga pagi hari. Jika itu tidak dilakukan, jangan harap prak­tik kotor itu akan hilang dari Kota Padang. Karena selama ini razia yang dila­kukan tidak pernah menim­bulkan efek jera atau menu­runkan minat pe­laku prostitusi untuk tetap menjalankan usaha­nya.

Selain dua hal di atas, se­ja­tinya ada cara lain yang mung­kin juga dapat menjadi alter­na­tif untuk masalah Prostitusi ini. cara tersebut ada­lah dengan membuat zona khusus (Loka­li­sasi) untuk Prostitusi. Sebab de­ngan de­mikian Prostitusi akan de­ngan mudah diken­da­likan, serta tidak ada lagi Prostitusi sembunyi-sem­bunyi dan me­re­sahkan masya­rakat.

Lokalisasi ini dapat dija­dikan solusi karena beberapa faktor. Pertama, faktor eko­nomi. Rata-rata pekerja seks di Kota Padang melakukan pe­ker­jaanya dilatar belakangi oleh faktor ekonomi. Dapat kita pertimbangan pula, bila Prostitusi dilarang, tentu me­reka yang selama ini meng­gantungkan hidup dari peker­jaan kotor tersebut akan kehi­langan pekerjaannya. Aki­batnya sudah pasti, mereka akan menjadi pengangguran dan kesususahan mencari naf­kah, atau mereka akan terus-menerus bekerja sebagai pe­kerja seks secara sembunyi-sembunyi dengan menge­la­buhi petugas demi untuk me­menuhi kebutuhannya.

Kedua, untuk mencegah semakin meluasnya lokasi Prostitusi. Bila telah ditem­patkan di lokasi khusus, maka kemungkinan akan semakin meluasnya praktik kotor ter­sebut semakin kecil. Sebab mereka telah ditempatkan di lokasi nyaman dan bebas dari ancaman penertiban.

Setidaknya itulah beberapa ususlan yang mungkin dapat menjadi bahan pertimbangan. Sebab, jika persoalan Pros­titusi ini tidak segera di cari­kan solusinya, tidak menutup kemungkinan prakteknya akan semakin meluas dan semakin parah. ***

 

ANTONI PUTRA
(Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]