Mendikbud: Terjadi Kesenjangan di Bidang Pendidikan


Senin, 26 September 2016 - 01:52:37 WIB
Mendikbud: Terjadi Kesenjangan di Bidang Pendidikan FOTO bersama Mendikbud Muhadjir Efendi dengan Rektor UBH Niki Lukviarman dan dosen usai seminar di di Hotel Mercure, Padang, Sabtu (24/9). (RINA SYAFITRI)

PADANG, HALUAN—Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy berkunjung ke Sumatera Barat, Sabtu (24/9). Kunjungan ini dalam rangka mem­berikan kuliah umum pada Seminar Nasional Pendidikan (Semdik) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Bung Hatta di Hotel Mercure, Padang.

Pada kesempatan ini, Me­n­dikbud menjadi keynote speaker yang didampingi oleh Rektor Universitas Bung Hatta Niki Lukviarman pada se­­minar Profesi Guru dan Tan­tangan Mengahadapi Ma­sya­rakat Ekonomi Asean (MEA). Kunjungan Men­dik­bud ke Sumatera Barat me­rupakan yang pertama kalinya.

Dalam kegiatan tersebut Muhadjir menyebutkan, bah­wa kesenjangan di bidang pen­didikan saat ini terbagi tiga, yakni kesenjangan stru­ktural yaitu ketidaksanggupan untuk sekolah, kesenjangan kultural yaitu budaya me­nga­nggap sekolah tidak penting, dan kesenjangan spasial ka­re­na tempat yang jauh dan terpencil.

Sementara untuk bisa me­­ru­bah ketiga kesenjangan ter­sebut, presiden mem­beri­kan tiga fokus kepadanya sebagai menteri, yakni pada pen­di­di­kan vokasi, Kartu Indonesia Pintar, revolusi mental.

“Kartu Indonesia Pintar inilah cara kita membantu agar masyarakat miskin atau ku­rang mampu untuk dapat bersekolah,” ucap Mendikbud.

Selain itu, pendidikan vokasi atau keterampilan sangat berpengaruh penting dalam memajukan dunia pen­didikan itu sendiri. Dimana, struktur tenaga kerja di Indo­nesia seperti piramida tegak, dengan tenaga kerja yang tidak memiliki keterampilan sangat banyak. Oleh sebab itu pemerintah mendorong pen­didikan vokasi agar pen­didi­kan terampil dapat me­ning­kat, sehingga dapat mening­katkan daya saing.

Faktor lemahnya daya saing disebabkan karena tidak ada pendidikan ber­karakter. Oleh sebab itu revolusi mental merupakan cara membentuk karakter bangsa. Pendidikan ber­kara­kter itu sendiri difokuskan di SD, SMP, SMA/MA dan SMK, sehingga guru menjadi kunci penting dalam mem­bangun karakter bangsa.

Penting membuat guru menjadi sebuah profesi yang profesional. Secara tunjangan untuk profesi guru sudah 80 triliun rupiah untuk 2 jutaan guru, namun aspek pro­fesio­nalisme masih belum  ada,” ucap Muhadjir.

Dengan keprofesionalan guru, katanya, masalah pen­didikan dapat dikatakan 50 persen telah teratasi, sehingga dapat menghasilkan generasi bangsa yang berkarakter baik. Apalagi dalam meng­hadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA), dimana tan­tang­an dalam dunia pen­didikan akan semakin kompleks. (h/mg-ina)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]