Membangun Ekonomi Desa/Nagari


Selasa, 27 September 2016 - 02:39:08 WIB
Membangun Ekonomi Desa/Nagari

Masyarakat desa yang selalu diper­sep­sikan sebagai masyarakat yang udik, miskin, kolot dan tidak maju harus segera dihapus. Desa memiliki potensi ekonomi, terutama di sektor pertanian. Desa harus kita bangun. Masyarakat desa harus sejahtera. Mereka berhak menikmati apa saja yang diperoleh oleh masyarakat kota.

Perekonomian masyarakat desa harus kita bangun. Masyarakat desa tak boleh lagi terbelakang dalam bidang apa saja. Kita berharap, nantinya yang membedakan antara masyarakat desa dengan masyarakat kota hanya masalah tempat tinggal saja.

Pemerintah sekarang memberikan pe­luang bagi setiap desa atau nagari untuk berkembang. Melalui Kementerian Desa,  Pembangunan Daerah Tertertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), masyarakat desa/nagari didorong untuk mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag).

Untuk merealisasikan itu, dana desa yang diterima masing-masing desa dengan rata-rata Rp 670 juta dapat dialokasikan untuk membentuk dan menggerakkan badan usaha tersebut. Artinya, masyarakat tak perlu pusing-pusing memikirkan permodalan.

Badan usaha yang dibentuk tentunya di­sesuaikan dengan potensi yang terdapat pa­da desa/nagari tersebut. Jika ada potensi pari­wi­sata, potensi inilah yang akan dikem­bang­kan. Jika potensinya di bidang peri­kanan, tentunya usaha perikanan pula yang diba­ngun.

Di Sumatera Barat, satu persatu nagari dan desa sudah mulai mendirikan badan usa­ha. Seperti di Kota Sawahlunto, 24 desa  di­per­siapkan mendirikan BUMDes tahun 2017.

Kepala Kantor PMPKB Sawahlunto, Adri Yusman kepada Haluan, Senin (26/9) menga­takan, pendirikan BUMDes harus melalui kajian yang mendalam. Kajian terhadap potensi sekaligus kajian dari sisi ekonomi. Sehingga, BUMDes yang didirikan membe­rikan dampak terhadap perkembangan ekonomi masyarakat setempat.

Usaha yang dikembangkan BUMDes ja­ngan sampai berbenturan dengan usaha yang te­lah ada. Sehingga tidak terjadi perebutan po­tensi yang menjadi sasaran. Bisa saja ren­ca­na pendirian BUMDes atau BUMNag me­libatkan masyarakat kampung yang berada di ­rantau. Badan Musyarah Nagari (Bamus) mi­nta pemikiran-pemikiran usaha yang co­cok dikembangkan pada daerah bersang­kutan.

Dengan melibatkan perantau, sekaligus pe­rantau bisa pula dirangkul untuk mena­nam­kan investasinya di kampung. Karena itu, ki­ta tak perlu mengundang investor dari luar. Ar­tinya, dari nagari untuk nagari dan di­man­faatkan untuk kesejahteraan anak nagari.

Kita tak ingin lagi melihat ekonomi masyarakat desa yang serba kekurangan dan terbelenggu rentenir. Pekerjaan sebagai petani tidak lagi dipandang sebelah mata atau diidentikkan dengan kemiskinan.

Kita ingin petani-petani seperti petani di Amerika dan Australia yang kaya, bahkan pendapatan mereka jauh melebihi pen­dapatan dari para profesional yang lain.

Petani yang sejahtera bukan tidak mung­kin bisa kita wujudkan. BUMDes dan BUM­Nag adalah salah satu wadah untuk me­wujudkan kesejahteraan itu. Adanya badan usa­ha milik desa jangan sampai terjadi di luar ha­rapan. Kita berharap BUMDes dan BU­M­Nag ini nantinya bisa memjadi pemer­sa­tu ma­sya­rakat dan tempat konsultasi bagi ma­sya­rakat yang membuka lapangan usada di desa.

BUMdes maupun BUMNag harus menja­di contoh bagi masyarakat lainnya bagai­mana bekerja dengan sungguh-sungguh. Sa­lah satu faktor kemiskinan di desa adalah ke­malasan. Karena itu mari kita perangi ke­malasan dan bekerja dengan sepenuh hati. (*)

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]