Makam Tan Malaka Dipindahkan ke Limapuluh Kota


Selasa, 27 September 2016 - 02:57:55 WIB
Makam Tan Malaka Dipindahkan ke Limapuluh Kota SEJARAWAN Belanda, Hary Poeze berfoto usai dialog kebangsaan IV di Gedung Rektorat UNP Sabtu (24/9). Hary Poeze sendiri telah puluhan tahun mengumpullkan sejarah Tan Malaka.

PADANG, HALUAN — Meski masyarakat Kediri tidak me­ngizinkan, namun Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota tetap bersikukuh untuk me­mindahkan makam Tan Malaka dari sana. Rencana ini pun mendapat dukungan Hary Poe­ze seorang sejarawan dari Be­landa yang telah 40 tahun lebih berkutat mencari sejarah Tan Malaka.

Wacana pemindahan ma­kam Tan Malaka dari Kediri ini muncul dalam Dialog Kebangsaan IV yang diadakan di Rektorat Universitas Negeri Pa­dang (UNP) Sabtu (24/9) lalu. Turut hadir dalam kes­em­patan itu Wakil Bupati Li­mapuluh Kota, Ferizal Rid­wan, Sejarawan dari UNP, Mestika Zed, Direktur Tan Malaka Institute Sumbar Yu­dilfan Habib Datuak Monti, pendiri Tan Malaka Institute Ben Ibratama Tanur dan Pre­siden National Press Club of Indonesia, Imelda Sari yang juga sebagai moderator. 

“Pemerintah Limapuluh Kota akan berusaha ba­gai­mana mengembalikan Tan Malaka ke tempat kelahiran­nya. Kami juga akan memugar kembali ke­diaman Tan Ma­laka yang ada di sana,” te­rangnya.

Ferizal me­ne­gas­kan,ba­gaimana pun ca­ranya Pemkab Limapuluh Kota akan te­tap mengusahakan agar Tan Ma­laka bisa kembali tempat kelahirannya di Suliki.

“Bahkan kami telah ber­komunikasi dengan Pe­me­rintah Kediri tentang hal ini,”ungkapnya.

Sejarawan asal Belanda, Hary Albert Poeze, juga me­nyatakan dukungannya ten­tang pemindahan makam Tan Malaka dari Kediri ke Suliki, Kabupaten Limapuluh Kota.

“Saya mendukung pe­min­dahan ini. Pindahkan saja se­tengahnya. Karena Pe­merintah Kabupaten Kediri juga tidak mau makam Tan Malaka di­pindahkan. Jadi, biar adil se­tengah-se­te­ngah,” ung­kapnya.

Ditambahkan Ferizal, se­mangat yang selama ini diko­barkan Tan Malaka diawali dari visi dan misi dan bahkan telah dituangkankannya da­lam RPJMD. “Apa yang selama ini diperjuangkan Tan Malaka telah menjadi awal kami untuk maju di Limapuluh Ko­ta,” tukasnya.

Pemkab Limapuluh Kota juga telah menyurati langsung Presiden Joko Widodo ten­tang hal ini. Kami juga me­minta agar Persiden juga bisa memperingati PDRI di Li­mapuluh Kota. “Dan hal itu direspon pemerintah pusat. Presiden menjadualkan akan datang 19 Desember men­datang,”tukasnya.

Sementara itu, Direktur Institute Tan Malaka Sumbar, Yudilfan Datuak Monti me­nye­butkan, semangat yang selama ini digelorakan Tan Malaka harus menjadi acuan para generasi muda Sumbar ke depan. Apa yang dikatakan Tan Malaka agar tidak ber­kompromi dengan kolonial dalam bidang apa pun harus dipegang teguh.

“Apa yang saat ini kita bahas dalam dialog ini akan terus kita lanjutkan. Sampai diketahui semangat yang se­benarnya ingin disampaikan Tan Malaka,”ujarnya.

Sejarawan UNP, Mestika Zed, dalam pemaparannya menuturkan, bagaimana ba­nyak­nya kontribusi putra Mi­nang­kabau dalam me­ne­gak­kan NKRI. Banyak pemikir yang memang berasal dari Sumbar, seperti M Yamin, Tan Malaka, M Hatta dan pemikir lainnya.

“Pada akhirnya memang dalam membangun bangsa, yang paling penting bukanlah sains dan teknologi, tetapi sebuah jiwa yang merdeka dan penuh martabat,”ujarnya.

Dalam Dialog Kebangsaan yang mengambil tema ‘Kon­tribusi Putra Minangkabau Dalam Mendirikan Negara Kesatuan Republik Indonesia’ diawali dengan monolog yang memukau peserta oleh Joind Bayuwinanda yang berjudul Tan Malaka, Saya Rusa Ber­bulu Mera. (h/isr)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]