Atlet Maraton Bertumbangan


Kamis, 29 September 2016 - 02:38:35 WIB
Atlet Maraton Bertumbangan

BANDUNG, HALUAN — Sejumlah atlet yang me­ngikuti lomba maraton pada Pekan Olahraga Nasional (PON) XIX/2016, Rabu, ber­tumbangan saat menjalani perlombaan hingga harus menjalani perawatan medis di ruang kesehatan, Stadion Pakansari, Cibinong, Ka­bupaten Bogor, Jawa Barat. Pelari Sumbar, Hamdan Sya­fril berhasil meraih medali perunggu dengan catatan waktu 2:28:09 detik.

Dokter penjaga ruang kesehatan cabang atletik PON XIX Stadion Pakansari, Atrika Kartika Sari menye­butkan, total ada 10 atlet yang mendapatkan perawa­tan di medical room. Terdiri atas tiga atlet putri dan tujuh atlet putra. “Rata-rata kelu­han mereka kram, nyeri di kaki, dan betis, efek dari kelelahan,” kata Atrika.

Ia mengatakan, ada dela­pan ambulan disiagakan di sejumlah titik di sepanjang rute maraton. Para atlet yang kelelahan langsung men­datangi ambulan dan dibawa ke ruang kesehatan untuk mendapatkan perawatan. “Untungnya tidak ada kelu­han berat, hingga tidak harus dirujuk, penanganan hanya cukup di ruang kesehatan, setelah itu atlet sudah bisa pulang lagi,” katanya.

Wakil Direktur Pertan­dingan cabang atletik, Ika Kartika Wati mengatakan, maraton merupakan olah­raga terberat bagi para atlet karena harus menaklukkan diri untuk bisa berlari sejauh 42,195 kilometer. “Maraton masuk kategori olahraga sangat beratm tidak semua bisa melakukan karena harus melampauan kapasitas orang norma, berlari sejauh 42,195 kilometer yang memakan waktu dua sampai tiga jam,” katanya.

Menurut Ika, banyaknya atlet tidak mampu menun­taskan lintasan, salah satu penyebabnya adalah karena faktor kelelahan. Selain itu, spek jalan yang dilalui atlet berbahan beton, bukan aspal sehingga atlet mendapat tantangan berat. “Aturan mainnya, lintas harus lapa­ngan keras, tidak masalah itu aspal atau beton. Tetapi, yang menjadi masalah topografi jalan yang naik turun, se­hing­ga medan cukup sulit bagi atlet,” katanya.

Ia mengatakan, sebelum pertandingan dimulai, pani­tia sedikit kesulitan mencari rute yang cocok untuk lom­ba maraton, dengan memper­timbangkan rute dan juga arus lalu lintasnya. “Jalur yang cocok itu hanya di Cibinong dan Pakansari ini, terkait topografinya yang naik turun serta jalurnya beton sudah diketahui oleh para atlet,” katanya.

Peraih medali emas no­mor maraton putra, Agus Pra­yogo mengakui, jalur be­ton yang dilalui para atlet cu­kup berat, sehingga resi­ko­nya banyak atlet yang me­ngalami kram dan nyeri di ka­ki. “Cua­ca disini juga ti­dak cocok, kelembaban ting­gi, jadi kita agak kesuli­tan, di­tambah jalannya be­ton, bu­­kan aspal. Efeknya kaki agak sakit di­hen­takkan saat ber­lari dalam waktu lama,” katanya.

Lomba maraton diikuti 11 atlet putri yakni Triya­ningsih (DKI), Supriati Suto­no (Jabar), Maya (Babel), Olivia Sadi (NTT), Inarotul Caritiah (Riau), Yulia­ning­sih (Jatim), Rumini (Banten), Juni Ramayani (Sumbar), Osidah Widiawati (Jabar), Erni Ulatningsih (Jateng), dan Odekta Elvina Naibah (DKI).

Sedangkan untuk putra yang berlomba adalah Ranto (Jateng), Sutikno (Jatim), Andrizal Kurniawan (Sum­bar), Wilder Karolis (Aceh), Hamdan Syafril Sayuti (Sum­bar), Asma Bara (Jabar), El­dak Kafolaman (NTT), Ya­hu­za (Babel), Agus Prayogo (Jabar), Lamek Yunias Banu (NTT), Nurshodiq (DI Yog­yakarta), Noce Matital (Ja­teng), Nicolas Albinus Silia (Bali), Ari Swandana (Ja­teng), Alim Alim (Jabar), dan Surianto (Sulsel).

Atlet yang masuk ruang pe­rawatan usai berlomba ka­rena kelelahan yaitu tiga putri Ina­rotul Caritiah (Ri­au), Su­priati Sutono (Jabar), dan Oli­via Sadin (NTT). Dan tujuh atlet putra, Ari Swan­dana (Jateng) Lamek Yunias Banu (NTT), Eldak Kafo­laman (NTT), Noce Matital (Jateng), Nurshodiq (DI Yog­­yakarta), Surianto (Sul­sel). (h/san)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]