KASUS PENGADAAN TANAH KAMPUS III IAIN IB

Dua Kubu Saksi Saling Klaim


Jumat, 30 September 2016 - 04:23:08 WIB

PADANG, HALUAN — Sidang dugaan korupsi pengadaan tanah Kampus III IAIN Imam Bonjol (IB) Padang di Sungai Bangek kembali digelar Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Padang. Jaksa menghadirkan satu saksi dari Kantor BPN Kota Padang, serta sembilan saksi yang secara umum terbagi atas dua kubu, di mana masing-masing kubu menyatakan sebagai yang paling berhak atas beberapa persil tanah yang menjadi objek perkara dalam persidangan.

Kubu pertama terdiri dari Haji Adrian Asril, Syaflinda, Yusmi dan Yeni Sofian. Keempatnya adalah pihak yang melakukan pelepasan hak tanah kepada IAIN IB Padang pada 2010, dengan dasar alas hak yang mereka miliki. Kubu ini mengaku telah menerima uang ganti rugi atas tanah yang belum bersertifikat tersebut dalam jumlah berbeda-beda.

Adapun kubu kedua terdiri dari Helmi, Dasrizal, Joni Alexander, Syairman dan Iqbal. Kubu yang saat ini mengantongi sertifikat atas objek tanah yang sama dengan yang dilepas haknya oleh pihak pertama kepada IAIN Imam Bonjol Padang pada 2010, namun kubu ini mengaku tidak menerima ganti rugi apapun dari pihak IAIN Imam Bonjol.

Dugaan jaksa dalam dakwaan, soal dilakukannya ganti rugi atas sebagian tanah fiktif oleh Ketua Panitia Pengadaan Tanah Kampus III IAIN IB Padang Profesor Salmadanis, serta rekannya seorang notaris Ely Satria Pilo, didasari oleh kepemilikan sertifikat oleh kubu kedua, sedangkan yang menerima uang ganti rugi pada 2010 adalah kubu pertama.

“Setelah kami mendengar IAIN akan membangun kampus di atas tanah kami, maka kami membuat alas haknya dan ditan­datangani oleh pihak-pihak ber­kepentingan seperti RT, RW, KAN, Lurah dan lain-lain. Setelah itu dilakukan pengukuran oleh BPN. Alas hak dan gambar bidang itu yang kami bawa ke IAIN untuk persyaratan pelepasan hak kepada IAIN,” kata Syaflinda.

Dalam pengurusan surat-me­nyurat hingga akta pelepasan hak, Syaflinda mengaku dibantu oleh pegawai dari notaris Ely Satria Pilo karena ia tidak bisa mengetik di komputer. Adapun bahan-bahan pelepasan hak, ia sendiri yang menyediakan dan mengurus ke pihak-pihak terkait.

“Tanah saya dua bidang, ma­sing-masing sekitar 3.000 meter persegi. Dihargai Rp33 ribu per meter oleh tim apraisal, dan sudah dibayarkan oleh IAIN. Selain itu, satu bidang tanah atas nama istri saya, Yusmi, harganya Rp30 ribu dan juga sudah dibayar. Setelah dilakukan pelepasan hak, kami urus sertifikatnya, tapi tak kun­jung selesai. Kata orang BPN ada permasalahan,” lanjut Syaflinda.

Syaflinda dan Yusmi kemu­dian mengatakan bahwa gugatan dari saksi Joni Alexander kepada pihaknya adalah keliru, sebab tanah yang ia lepaskan haknya kepada IAIN Imam Bonjol bukan tanah yang dimaksud oleh saksi Joni, yang mengantongi sertifikat di kemudian hari.

“Tanah istri saya Yusmi, itu didapatkan dari orangtuanya ber­nama Bakar. Sedangkan tanah Joni Alexander ini dari orang­tuanya, Buyuang Adal. Memang Bakar dan Buyuang Adal adik kakak, tapi tanah yang kami jual itu yang bagian kami,” katanya lagi.

Adapun saksi lain, Yeni So­fian, mengaku bahwa tanahnya seluas 32.000 meter persegi, yang diganti rugi oleh IAIN IB sebanyak 914 juta, merupakan tanah pem­berian orangtuanya, Almarhum Sof­yan Jamaludin. Namun di kemudian hari, datang gugatan atas tanah tersebut setelah dilaku­kan pelepasan hak kepada IAIN IB.

“Sejak 2006 saya sudah berla­dang di situ, tentu saya tahu tanahnya. Waktu pengukuran pertama sebelum dilakukan pele­pa­san hak, saya tidak ikut ke lapangan, tapi diwakilkan kepada Pak Syaflinda karena beliau tahu yang mana tanah saya, karena beliau ini sering diminta orangtua saya membersihkan ladang itu dulu,” kata Yeni.

Saksi lain, Haji Adrian Asril, juga mengaku memberi kuasa kepada Syaflinda untuk mengu­rus pelepasan hak kepada IAIN IB. Sebab, pada 1997 orangtuanya membeli tanah tersebut kepada Syaflinda, sehingga Syaflinda tahu batas-batas tanah tersebut.

“Sahirman dan Iqbal meng­gugat tanah saya pada 2015 dan mereka punya sertifikat. Saya juga telah mengurus sertifikat itu setelah pelepasan hak pada 2010 kepada IAIN IB, tapi tidak keluar sampai sekarang karena kata BPN ada masalah, ada yang menggu­gat,” jelas Adrian.

Pada keterangan dari saksi kubu kedua, Penasihat Hukum (PH) kedua terdakwa, Fauzi Noval­di dan Septi Cs, sempat menga­jukan keberatan karena menilai saksi kubu kedua yang dihadirkan jaksa tidak relevan. Seperti saksi Dasrizal yang mengaku kemena­kan dari mamaknya selaku pemi­lik sertifikat atas objek perkara.

Selain itu saksi Iqbal juga dikritisi, karena berposisi sebagai penerima kuasa dari kubu lain yang juga memiliki sertifikat. Namun, Majelis Hakim yang diketuai Yose Ana Rosalinda dengan anggota Perry Desmarera dan Emria tetap memberi ke­sempatan kepada kedua saksi tersebut untuk memberi kete­rangan di persidangan.

Salah satu saksi dari kubu kedua, Joni Alexander, mengaku memang tidak menggugat saksi Yusmi pada 2010 lalu, saat dila­kukannya pelepasan hak kepada IAIN IB Padang. Namun ia tetap mengurus alas hak dan sertifikat atas objek tanah tersebut pada 2011, hingga BPN Kota Padang mengeluarkan sertifikatnya.

“Saya sudah katakan pada 2010 bahwa itu ada tanah saya yang terbawa dalam pelepasan hak. Tapi tidak dibenarkan oleh saksi yang melepaskan hak (Sya­flinda). Akhirnya memang saya urus sertifikatnya ke BPN, dan terbit. Karena itu, kami yang merasa dirugikan ini mengajukan ke IAIN IB untuk diberi ganti rugi,” katanya.

Adapun saksi Alfathas Paid selaku Kasi Hak Tanah dan Pen­daf­taran Tanah, Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kota Padang, membenarkan masuknya permo­honan penerbitan sertifikat ke BPN Kota Padang pada 2010 dari pemohon Syaflinda, Yusmi, Adrian Asril dan Yeni Sofian.

“Permohonan masuk ke BPN Kota Padang diajukan secara perorangan. Ada yang langsung mengajukan permohonan, ada pula yang memberikan kuasa kepada pegawai notaris Ely (Satria Pilo), bernama Karmenita,” jelas Alfathas.

Lebih lanjut dikatakannya, pengajuan permohonan tidak bisa langsung diselesaikan oleh BPN Kota Padang karena terjadi perma­salahan, di mana ada pihak lain yang memiliki sertifikat atas objek tanah yang diajukan per­mo­honan sertifikatnya tersebut. (h/isq)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]