Reklamasi danau singkarak Dihentikan, Lokasi Timbunan Diisi Pedagang


Selasa, 04 Oktober 2016 - 00:59:44 WIB
Reklamasi danau singkarak Dihentikan, Lokasi Timbunan Diisi Pedagang Sejumlah tenda pedagang tampak mulai menghiasi area kosong yang sebelumnya ditimbun untuk lokasi pembangunan hotel dan wahana wisata air di sebelah dermaga Danau Singkarak. Proses pembangunannya saat ini dihentikan lantaran pengembang belum memiliki izin. (WANDI MALIN)

SINGKARAK, HALUAN — Sejak proses reklamasi Danau Singkarak dihentikan pemerintah daerah, mayarakat memanfaatkan lokasi ini untuk berjualan yang dimulai Sabtu (24/9), usai aktivitas penimbunan dihentikan. Lokasi yang dulunya akan dibangun hotel bintang empat dan wisata air tersebut kini dihiasai tenda warna-warni oleh pedagang.

Setidaknya terlihat 12 tenda payung ala pan­tai Padang berjejer di sepanjang pinggiran tim­bunan danau yang persis berada di pinggir der­maga apung Singkarak. Disamping lokasinya le­bih luas, jarak pandangpun tak terbatas ke arah si­s­i kanan, kiri danau. Para pengunjung yang bia­sanya hanya bermain di lokasi dermaga,  tampak tertarik menikmati dermaga dari area timbunan.

“Lokasinya bagus. Tapi arena untuk mandi tidak ada, karena airnya terlalu dalam,” kata Rina (32) salah seorang warga Kota Solok yang datang bersama keluarganya ke taman wisata itu, Minggu (2/10).  

Ia memandang, pembangunan dan pengem­bangan area wisata itu memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat sekitar. Namun tentunya harus memandang semua aspek dalam pelaksa­naannya. Terutama keterlibatan masyarakat dan yang terpenting bagaimana membangun wisata tanpa merusak lingkungan yang ada.

“Pengembangan wisata memang sebuah keharusan, jika kita ingin Singkarak menjadi destinasi wisata bagi wisatawan. Namun tentu ini perlu kajian mendalam, terutama Amdalnya,” kata perempuan yang sehari-hari berdagang di Pasar Raya Solok ini.

Terpisah, salah seorang pedagang di kawasan der­maga Singkarak, Erma (42) mengaku men­dukung perluasan tepian dermaga Singkarak yang dilakukan anggota DPR RI dari Solok ini. Na­mun demikian, kata dia, masyarakat sekitar teru­tama para pedagang diberikan fasilitas untuk ber­jualan.

Sebelumnya, kata Erma, dia bersama peda­gang lainnya beranggapan area penimbunan yang memang terletak di tanah hak milik Epyardi Asda akan melarang para pedagang untuk berjualan di lokasi tersebut.

“Ternyata tidak. Justru kami disuruh ber­jualan di sini,” ujarnya.

Namun demikian terlepas dari berbagai polemik yang menggerogoti proyek pem­bangunan fasilitas wisata di pinggir danau tersebut yang dinilai merusak lingkungan dan menyalahi ketentuan yang ada, pembangunan ini sudah menjadi kebutuhan dalam menunjang pariwisata di daerah itu.

 Karena jika berkaca pada pelaksanaan ber­bagai iven berkelas internasional di Kabu­paten So­lok, hotel merupakan kendala utama bagi se­tiap pengunjung yang ingin berlama-lama di Ka­bupaten Solok. Terbukti, pada pelaksanaan iven Tour de Singkarak (TdS) Agustus 2016 lalu, se­mua pebalapnya menginap di Bukittinggi, Pa­dang, Sawahlunto. Padahal, Kabupaten Solok se­bagai pelaksana Grand Opening dan Grand Star.

Hotel merupakan bagian terpenting untuk me­nunjang sarana pariwisata. Sehingga, sangat ba­ik dan patut didukung, jika betul keinginan ang­gota DPR RI itu untuk me­majukan pariwi­sata.

“Saya harap, ketika prosedurnya sudah selesai nanti, pembangunan hotel itu dapat dilanjutkan,”  kata pemerhati wisata Sumbar Zuhrizul Cha­niago dalam sebuah kesempatan.

 Pihaknya juga berharap Pemkab Solok dapat menentukan lokasi Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Sehingga, jika ada keinginan investor untuk berinvestasi, baik itu mendirikan hotel, dan sebagainya, tidak berbenturan dengan aturan dan masyarakat sekitar.

“Jangan dipatahkan semangat ivenstor yang ingin memajukan pariwisata daerah. Mari carikan solusi dan jalan terbaik,” imbuhnya. (h/ndi)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Selasa, 25 Februari 2020 - 18:11:41 WIB

    Reklamasi Batang Agam 2020 Didanai Rp 10 Miliar

    Reklamasi Batang Agam 2020 Didanai Rp 10 Miliar PAYAKUMBUH,HARIANHALUAN.COM- Pemerintah Kota Payakumbuh, akan melanjutan kegiatan penataan Sungai Batang Agam pada 2020 dengan anggaran sebesar 10 miliar dari Pemerintah Pusat..
  • Selasa, 11 Oktober 2016 - 01:38:21 WIB

    Reklamasi Singkarak Diputuskan Setelah Pembahasan

    Reklamasi Singkarak Diputuskan Setelah Pembahasan Arosuka, Haluan — Status reklamasi Danau Sing­karak Kabupaten Solok yang bertujuan untuk pemba­ngu­nan hotel dan resort akan diputuskan setelah adanya pembahasan lebih lanjut..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]