Selera Politik dan Nasi Padang


Sabtu, 08 Oktober 2016 - 02:57:24 WIB
Selera Politik dan Nasi Padang Ilustrasi.

Politik  identik dengan makanan, semakin enak rasa yang diberikan dan promosi yang ditawarkan, maka makanan tersebut memiliki penggemar pasti (tetap). Tapi, pengemar (konstituen) berubah pilihan saat makanan baru datang dengan model, kreavitas yang  baru dan menarik. Hanya makanan yang tetap bisa menjaga selera yang tidak bisa digerus zaman dan promosi. Itu lah “nasi padang”, makanan yang membuat pemerintah terpaksa menaikkan gaji PNS sebesar Rp5.000. Benarkah “nasi padang” menjadi korban bertambahnya pengeluaran negara akibat “nasi padang”.

Menariknya, naiknya gaji PNS efek dari mahalnya harga nasi padang. Secara politik dan kepemimipinan, banyak pelajaran yang bisa diambil dari kemampuan nasi padang menjaga penggemar dari za­man ke zaman. Nasi padang tak terpengaruh dengan upaya negara tetangga menyatakan ini milik mereka. Nasi padang tetap eksis menjaga pasar  “kuliner”. Kehebatan nasi padang seperti keunggulan makanan khasnya “rendang” dipinjam salah satu mie ins­tan. Anda pasti pernah makan mie instan rasa rendang, bukti ketangguhan makanan ini.

Setelah itu Anda pasti per­nah menonton film “ Negeri Lima Menara”, Alif yang be­rang­kat dengan ayahnya dari kampung (Sumbar) menuju Jawa, mereka dibungkuskan rendang oleh “emak” Alif. Ayah Alif mengatakan “Nak, kata orang semakin jauh ren­dang dari daerah aslinya maka pedasnya semakin kurang, untunglah kita dibungkuskan rendang dari emak kau,” ung­kap Ayah Alif.

Dialog antara Alif dan Ayahnya dalam film “ Negeri Lima Menara” benar, saya sendiri yang merasakan bebe­rapa bulan yang lalu menge­lilingi Pulang Jawa selama tiga bulan.  Perbedaan rendang dari daerah ke daerah lain cen­derung berbeda, meskipun labelnya rumah makan pa­dang, nyatanya rasa yang dita­warkan berbeda. Perbedaan rasa “rendang”, misalnya, di luar Sumbar dibandingkan daerah aslinya (Minang). Ba­nyak­nya model bentuk dan rasa yang disajikan rumah makan padang di pelbagai daerah, saya pikir rumah ma­kan padang pengaruhnya sulit dikalahkan KPC, CPC dan , Micdonald. Penyebabnya, rumah makan padang tetap menjaga selera dan brending, wa­jar saja pemerintah menja­di­kan alasan rumah makan pa­dang sebagai tolak ukur naik­nya gaji PNS sebesar Rp­5.000, soal makan dan kuliner “ru­mah makan” tak ada dua­nya.

Membandingkan dengan makanan lain yang dibuat dengan kemasan yang mahal dan kampanye besaran-besa­ran. Tetap menjaga pasar dengan kompetisi (pesaing) yang datang tanpa diduga (kuda hitam), sebab persai­ngan kuliner dewasa ini  ter­gan­tung selera jaman, kebo­sa­nan pelanggan dan trending topic media sosial. Ketang­guhan rendang menjaga rasa dan selera penggemar berefek dengan menjamurnya rumah makan padang. Kata kakek saya” jika boleh saja manusia hi­dup di bulan atau Planet lain se­lain bumi, kakek yakin ru­mah makan padang pertama me­mulai bisnis rumah makan di sana.

Pasalnya, bukan hanya soal rasa dan brending yang tetap dijaga, ketangguhan orang padang lah yang mem­buat masakan padang tetap tangguh dalam bisnis “rumah makan”. Ketangguhan rumah makan padang belum ada politisi yang mampu meniru kekuatan rasa dan selera yang diminati penggemar, sehingga tetap memiliki penggemar dari zaman ke zaman yang grafik­nya terus naik. Politisi seka­rang kemunculannya nya di­ten­tukan selera sesaat akibat membludaknya promosi atau momentum. Menjaga rasa tidak berhubungan dengan momentum dan citra sesaat, tetapi kualitas yang  dijaga bertahun-tahun—ini bisa jadi sindirin terhadap partai politik (parpol) yang gagal men­wa­riskan rasa berkualitas kepada ka­der-kadernya. Maka­nya, saya menganggap kemunculan kepala deaerah di negara ini lebih kepada rasa dan selera sesaat setelah itu mereka ditinggalkan se­telah datang­nya tokoh-tokoh baru dengan rasa yang baru.

Merujuk kepada sejarah pemimpin Indonesia kita me­nge­nal Soekarno, tokoh yang identik dengan julukan “singa podium”. Lahir dalam eranya kebutuhan agitator dalam era pergerakan Indonesia, saat massa rakyat membutukan tokoh yang membakar perla­wanan. Kehadiran Soekarno sampai 1965, sebelum digan­tikan Soeharto. Membaca sejarah di luar kasus/rekayasa 1965 yang masih menjadi perdebatan banyak sarjana dan aktivis.

Kehadiran Soeharto seba­gai tokoh pembangunan yang fokus bukan membangun ide­o­logi massa rakyat, tapi hadir membangun infrastuktur ne­gara. Sebagai negara yang baru merdeka kebutuhan Soeharto di­anggap berjasa dimasa itu karena ia lebih fokus bicara ekonomi, efeknya sejah­­tera­nya rakyat dalam memenuhi kebutuhan hidup. Setelah 32 tahun menjabat, rakyat pun bosan dengan Soeharto. Habi­bie yang menjadi wakil presi­den menggantikan Soeharto pasca-reformasi. Kehadiran Habibie hanya untuk melan­jutkan jabatan Soeharto, seba­gai ilmuan yang dikenal ma­syarakat sebagai “tokoh pesa­wat terbang Indonesia”, menu­rut saya tak cocok ia dengan iklim politik yang tidak sede­tail analisa mate­matika, efek­nya Golkar lah yang menolak LPJ-nya, partai­nya sendiri.

Selanjutnya, kehadiran Gus Dur yang diusulkan poros tengah setelah PDI-P mendo­minasi pasca-reformasi. Perta­rungan Golkar dengan PDI-P yang secara politik dan parpol juga mengarah kepada dendam dinasti. Gus Dur hadir dengan karakternya yang unik, ia jenaka dengan kata-kata “gitu aja kok repot”. Keseriusan era Soeharto yang membuat ma­sya­rakat takut berbicara, Gus Dur membuat kita kembali bergairah tertawa—merdeka menyatakan pendapat. Gus Dur saat itu membaca selera politik yang dibutuhkan ma­sya­rakat. Gus Dur tidak lama membuat masyarakat tertawa, ia diturunkan parlemen setelah ia menyatakan DPR sama dengan “anak TK”—menurut saya ucapan itu ada benarnya, tapi secara politik parlemen terganggu dengan ucapan itu.

Megawati yang menjadi Wakil Presiden menggantikan Gus Dur, perempuan pertama Indonesia yang menjabat pre­si­den, puteri Soekarno. Mega­wati saat itu juga sedang berada pada posisi memahami “selera politik” masyarakat. Sosok keibuan Megawati men­ja­dikan ia pemimpin yang me­wakili kaum perempuan, me­mimpin banyak meng­gu­na­­kan perasaan. Impaknya, Megawati tidak menaruh curi­ga saat SBY berhenti dari Men­kopohukam Kabinet Go­to Royong, pada akhirnya SBY me­menangkan Pilpres tahun 2004 setelah cepat memulai start.

Karakter SBY yang santun, penuh kebapakaan, mampu menjadi antitesis presiden sebelumnya. SBY lebih demo­kratis, merangkul semua kala­ngan. Ciri khas yang dimiliki SBY bisa membangun citranya sangat baik, ia berhasil men­jabat presiden Indonesia sela­ma dua periode: 2004-2009 dan 2009-2014. Selesainya SBY menjabat sebagai presi­den selama dua periode, Joko­wi hadir dengan “ciri khas rakyat” dengan slogan “Jokowi adalah kita”. Gaya blusukan Jokowi menjadikan ia bisa menjawab selera  masyarakat yang sudah bosan dengan pemimpin yang keibuan dan kebapakan.

Pilpres DKI Jakarta  2017 su­dah menjadi gambaran sele­ra politik yang sedang dimi­na­ti masyarakat, sehingga Pil­pres 2019 memunculkan rasa yang diinginkan masya­rakat (kon­stituen). Munculnya Ahok, Ridwan Kamil, Dedi Mul­­yadi, Agus, Anies, Sandi S. Uno, Yoyok, Risma dan lain-la­in. Ini menjadi perun­tungan Jo­­kowi menjaga selera (kons­ti­­tuen) agar terpilih lagi pada pil­­pres 2019. SBY menu­run­kan Agus sebagai penerus ciri khas po­litik­nya: santun, cerdas dan kharismatik. SBY sedang me­nguji selera politik masya­rakat dengan menguji strategi poli­tik­nya untuk tetap berta­han dari zaman ke zaman, ia harus banyak be­lajar dengan ke­tangguhan  “nasi padang” yang tidak berhenti beroperasi se­telah dua generasi. Sekian. (*)

 

ARIFKI
(Analis Politik/Political Commentator/Kolumnis Selasar.com)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]