Warga Saniang Baka Tutup Akses Jalan Truk


Selasa, 11 Oktober 2016 - 01:39:04 WIB
Warga Saniang Baka Tutup Akses Jalan Truk Ratusan warga Nagari Saning Baka, memblokir ruas jalan yang melintasi daerah itu dari aktifitas truk galian C, Senin (10/10).

AROSUKA, HALUAN — Dianggap tidak lagi menjalankan kesepakatan dan komitmen yang telah dibuat dengan masyarakat, ratusan warga Nagari Saniang Baka Kec. X Koto Singkarak, Senin (10/10) kemaren menutup akses jalan terhadap ratusan truck pengangkut  hasil tambang galian C yang melintasi daerah itu.

Rasa geram masyarakat membuncah, menyusul  sema­kin parahnya dampak ling­kungan akibat  aktifitas lalulin­tas truk  tambang yang bero­perasi di nagari Muaro Pingai dan Paninggahan Kec. Junjung Sirih yang diper­kirak­an menca­pai ratusan kali setiap harinya.

Dari informasi yang dihim­pun Haluan di Nagari Saniang Baka, terlihat ratusan warga, tua, muda dan ibu-ibu ber­kumpul di persimpangan jalan masuk ke nagari itu. Namun aksi yang dilakukan warga ini tertap berjalan aman dan da­mai. Sejak pagi tak ada lagi terlihat lalu lalang aktivitas truk galian C yang biasanya saban hari melintasi daerah itu.

“Berdasarkan hasil kese­pakatan pemerintah nagari dengan pemuka masyarakat dan para perantau dalam rem­buk nagari beberapa hari yang lalu, terhitung mulai Senin (10/10) ini, tidak diizinkan mobil tambang, masuk dan keluar melalui nagari Saniang Baka, makanya jalan hari ini jalanan terlihat lengang,” kata tokoh pemuda Saniang Baka, Rahmat Budi Setiawan kepada Haluan.

Sementara itu, salah seo­rang tokoh masyarakat se­tempat, Septrismen Sutan Pu­tih, menyebutkan, akibat akti­fitas mobil tambang galian C yang telah beroperasi sejak sekitar 18 tahun silam ini, telah membarikan dampak yang merugikan dan meresahkan warga Saniang Baka. Selain jalan yang rusak parah, debu jalan yang berterbangan ketika panas dianggap telah meng­ganggu kesehatan warga. Se­dang­kan ketika musim hu­jan, jalan becek dan kumuh menjadi pemandangan lazim di daerah itu.

“Rumah-rumah warga yang berada di sepanjang jalan ini, juga sudah kusam karena tertu­tup debu jalan,” kata Septris­men yang juga Wakil ketua DPRD Kab. Solok ini

Disisi lain,tambah Septris­men, kenyamanan pengguna jalan didaerah itu juga tergang­gu akibat konvoi kendaraan tambang yang keluar masuk setiap hari. Padahal untuk menngatasi persoalan ini, Pe­merintah Nagari dengan difa­silitasi camat sudah berkali-kali membuat kesepakatan dengan  pengusaha tambang, namun tidak diindahkan.

Kesepakatan itu berupa, perbaikan terhadap jalan yang rusak. Menghentikan aktifitas ketika jam sibuk sekolah, waktu salat Zuhur  dan Magrib serta membatasi konvoi agar tidak mengganggu pengguna jalan lain.

“Ini sudah sangat meng­gangu, apalagi kebisingan truk ketika waktu beribadah, sudah tidak ada lagi kenyamanan bagi warga,” terangnya.

Apalagi kata dia, selama berlangsungnya aktivitas galian C di daerah tersebut, peme­rintah nagari setempat tak tak pernah mendapatkan konpen­sasi dari aktivitas tersebut. Selain itu, kata dia, pihaknya memperkirakan dengan ber­lang­sungnya aktivitas tersebut setidaknya ada sekitar satu miliar Rupiah dana pertahun yang dihasilkan dari tambang tersebut. Namun yang masuk ke kas daerah hanya sekitar Rp60 juta saja.  

Menindaklanjuti persoalan ini, pada Minggu (10/10) lalu, Walinagari, KAN, BMN dan Pemuda Saniang Baka me­nyam­­paikan hasil kesepakatan ma­­sya­rakat dalam rembuk na­gari kepada Gubernur Sum­bar. “Kita sudah laporkan per­soa­lan ini kepada Gubernur Sum­bar. Karena jalan ini ter­ma­suk jalan provinsi,” beber­nya.

Kesepakatan itu juga  di­sampaikan dalam bentuk ter­tulis kepada pengusaha tam­bang galian C dan pengusaha angkutan galian C  di Paning­gahan yang juga ditembuskan kepada Bupati Solok, Ketua DPRD dan Kapolres Solok.

“Larangan ini berlaku sam­pai semua kesepakatan bisa dijalankan. Kalau setahun ya kita stop sampai setahun, silah­kan mereka cari jalan lain untuk melansir hasil tambangnya,” kata Walinagari Saniang Baka Ridwan Husein.

Terkait aktifitas tambang galian C itu, Kadis pertam­bangan dan energi kab. Solok melalui sekretaris Disper­tam­ben Deni Prihatni menye­butkan, ada 4 perusahaan yang beroperasi di daerah itu,  yaitu PT Mutiara Perdana, PT Tanah Kayo, PT Tanakai dan PT Epi Tan Kayo dan semuanya me­miliki izin. Pihaknya membe­narkan jika sebelumnya me­mang ada kesepakatan antara pengusaha dengan masyarakat, terkait amdal dan kenyamanan masyarakat di nagari yang dilintasi oleh aktifitas truck tambang ini. “Terkait izin usaha, semuanya lengkap. Na­mun hal ini adalah menyangkut komitmen dengan masyarakat,” kata Deni. (h/ndi)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]