PN PADANG PROSES 17 KASUS KEKERASAN ANAK

Predator Seks Gentayangan di Sumbar


Selasa, 11 Oktober 2016 - 02:38:16 WIB

PADANG, HALUAN — Selama tahun 2016 berjalan, Pengadilan Negeri (PN) Padang telah memproses 17 kasus terkait pelanggaran UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Baik itu kasus eksploitasi anak, kekerasaan terhadap anak, dan pelecehan seksual terhadap anak. Relasi kuasa yang timpang ditengarai masih jadi faktor utama tingginya tingkat kekerasan terhadap anak, terutama kekerasan seksual.

Pejabat Humas PN Pa­dang, Estiono, kepada Haluan menerangkan, dari 17 kasus yang tercatat, tujuh kasus dengan tujuh pelaku telah diputus oleh PN Padang de­ngan hukuman beragam, mu­lai putusan terlama selama 10 tahun penjara, hingga pu­tusan tersingkat selama 2 tahun 8 bulan. Dan dari 17 kasus tersebut, 11 di antaranya be­ru­pa kasus pelecehan seksual seperti eksploitasi seksual, pencabulan serta sodomi.

“Yang terbanyak itu ka­sus pencabulan, ada sem­bi­lan kasus, lima di antaranya sudah diputus dengan putu­san beragam, yaitu 10 tahun, tiga kasus diputus 5 tahun dan satu kasus diputus 8 tahun. Sementara empat kasus lainnya masih tahap persidangan. Selain itu ada satu kasus eksploitasi sek­sual jenis lain yang sudah diputus 2 tahun 9 bulan dan satu kasus sodomi yang diputus 8 tahun. Jadi total ada 11 kasus yang sudah diputus,” jelasnya.

Selain pelecehan sek­sual, terdapat lima kasus lain yang masih dalam tahap persidangan, terdiri dari dua kasus kekerasan terhadap anak, dua kasus per­da­ga­ngan anak dan satu kasus eksploitasi anak jenis lain.

Koordinator Bidang La­ya­nan Woman Crisis Cen­tre (WCC) Nurani Perem­puan, Rahmi Meri Yanti, menilai terjadi lonjakan kasus yang mengkhawatirkan pada ta­hun ini. Jika selama 2015, Nu­rani Perempuan mela­ku­kan pendampingan ter­ha­dap 30 korban kekerasaan ibu dan anak, maka tahun ini jumlah pendampingan pada anak saja sudah mendekati angka yang sama dengan total kasus pada 2015.

“Pendampingan pada anak ini umumnya memang kasus kekerasan seksual. Kami melihar relasi kuasa yang timpang masih jadi faktor utama penyebab ting­ginya angka kasus ini dari tahun ke tahun,” tutur Rahmi.

Rahmi menerangkan, relasi kuasa yang timpang menjadi dalam hal ini dinilai dari ketimpangan umur yang sangat berjarak antara kor­ban dengan pelaku, di mana pelaku rata-rata berumur jauh lebih besar diban­ding­kan korban, sehingga de­ngan kuasanya mampu mela­kukan tindak kekerasan sek­sual pada korban yang masih anak-anak.

“Rata-rata orang dewasa yang menjadi pelaku me­miliki kebebasan men­da­pat­kan tontonan atau bacaan berkonten pornografi, yang kemudian memancing me­re­ka untuk melakukan tindak kejahatan. Ini berbanding terbalik dengan korban yang rata-rata masih anak-anak, di mana mereka tidak leluasa mendapatkan pengetahuan, dan cenderung menuruti kemauan orang dewasa,” katanya lagi.

Rahmi mencontohkan, pada beberapa pen­dam­pi­ngan yang dilakukan Nurani Perempuan terhadap korban, ditemukan bahwa anak-anak cenderung menuruti ke­mauan orang dewasa karena berbagai tipu daya yang mereka dengar dari orang dewasa tersebut.

“Ada anak-anak yang me­ngaku awalnya cuma di­ajak main-main oleh pelaku, lalu ada yang diiming-imi­ngi makanan atau uang, lalu ada pula yang diancam sete­lah pelaku melakukan keja­ha­tannya. Mengapa kepada anak, karena pelakunya ini umum­nya orang dewasa yang berada di sekitar anak itu sendiri, bisa tetangga, ayah tiri, bahkan ayah kan­dung. Para pelaku ini punya hasrat, tapi tak mau rugi, makanya dilampiaskan ke anak-anak di sekitar mereka,” tutupnya.

Disdik Perangi Predator Seks

Kepala Dinas Pendi­di­kan (Kadisdik) Kota Padang, Habibul Fuadi, mengecam adanya pelecehan seksual terhadap pelajar dan anak di bawah umur. Perilaku tidak terpuji tersebut, kata Ha­bibul, bisa merusak masa depan anak. “Kita termasuk pihak yang memerangi pele­cehan terhadap anak,” ujar Habibul kepada, Senin (10/10).

Pelecehan terhadap anak di bawah umur dalam be­berapa tahun terakhir marak ter­jadi di Kota Padang. Ka­sus terakhir Kasirun alias Kamer (33) warga Padang Sarai, Koto Tangah dibekuk Polsek Koto Tangah Jumat (7/10) karena menyodomi seorang pelajar SMA. “Pe­laku kejahatan tersebut mes­ti dihukum seberat-beratnya. Saya yakin itu ada unsur kesengajaan apalagi keja­diannya berulang-ulang,” kata Habibul melanjutkan.

Habibul pun mengim­bau kepada seluru anak-anak agar waspada dan tidak ter­jebak oleh bujuk rayu pe­laku. Begitu juga kepada orang tua diminta untuk mengawasi anak-anaknya. Di samping itu, masyarakat juga diharapkan ikut me­ngontrol pergaulan anak-anak.  “Semua pihak harus bekerja sama karena ini tang­gungjawab kita semua,” ujarnya.

Kemudian, Habibul me­nga­takan tidak ada tindakan khu­sus dari pihaknya me­nang­gapi adanya kejahatan seksual tersebut. “Ada tidak ada kejahatan itu, kita selalu mengajak dan mendidik anak untuk menjadi orang baik,” pungkasnya. (h/isq/mg-sas)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]