Cerai di Padang


Rabu, 12 Oktober 2016 - 01:17:54 WIB

Perkawinan merupakan perpauan dua in­san, dalam suatu ikatan untuk menjalani hidup besama. Dalam menjalani samudra kehidupan tidak akan selalu berja­lan mulus, seperti apa yang ada di dalam angan. Akhirnya terjadilah perceraian.

Angka perceraian pasangan suami-istri (pa­sutri) di Kota Padang tergolong tinggi dan me­nunjukkan peningkatan setiap tahun. Ra­ta-rata tiap tahun naik 10 persen. Dari bulan Ja­nuari hingga September 2016 tercatat 938 permohonan cerai di Penga­dilan Agama Padang.

Humas Pengadilan Agama Padang Drs. H. Januar memperkirakan jumlah tersebut akan meningkat sampai Desember mendatang. Angka perceraian di Kota Padang bahkan tertinggi di Sumatera Barat.

Tingginya angka perceraian di Kota Padang bukanlah sebuah prestasi, melain­kan bentuk kegagalan pasutri membina rumah tangga. Sebagian besar pasutri yang memilih pisah adalah pasangan muda berumur antara 20-40 tahun. Kebanyakan yang menggugat adalah istri.

Rasulullah bersabda “Sesuatu yang halal tetapi paling dibenci Allah adalah perceraian”. Ini menunjukkan di satu sisi bahwa terka­dang perceraian itu tidak bisa dihindari sehingga jika ada satu pasangan yang memang tidak ada kecocokan masih dipak­sakan untuk terus, itu akan merugikan semua pihak. Maka dibolehkan perceraian, tetapi diingatkan bahwa perceraian itu halal tapi paling dibenci Allah.

Karena itu, kalau masih bisa hidup bersama tanpa perceraian, maka perta­hankan perkawinan itu. Perkawinan adalah hubungan yang sangat sakral. Pasutri hendaklah mengusahakan kehidupan rumah tangga yang tenang, damai, sakinah, mawad­dah wa rahmah. Alquran meminta kepada suami yang di tangannya diberi wewenang untuk mence­rai istri, bahwa berpikirlah sebelum menja­tuhkan cerai.

Keretakan hubungan sebelum perceraian terdapat tuntunan Quran, QS. An-Nisa (4) ayat 35 : “Hai kamu (yang ada di dalam masyarakat di tengah keluarga) kalau kamu melihat ada sepasang suami istri ada tanda-tanda percekcokan, cepat-cepat turun tangan, jangan biarkan”. Utus seorang dari keluarga istri dan seorang dari keluarga suami, perbincangkan apa yang bisa disele­saikan. “.. kalau memang dua-duanya masih mau, Allah akan beri jalan supaya mereka baik lagi”. Kadangkala suami isteri itu saling gengsi, tapi hati kecilnya masih mau.

Perceraian itu ibarat pintu darurat. Kalau memang sudah sangat mendesak dan tidak ada jalan persesuaian lagi, apa boleh buat. Perlu diingat, perceraian pasutri akan berakibat tidak baik kepada anak.

Banyaknya kasus perceraian pasutri di Padang memang harus menjadi perhatian kita semua. Ninik mamak, keluarga dn sabak saudara lainnya tak boleh tinggal diam jika melihat ada di antara keluarga mereka yang cekcok.

Menurut Humas Pengadilan Agama Kota Padang, peningkatan angka perceraian di Kota Padang disebabkan karena kurangnya peran ninik mamak dalam menyelesaikan masalah rumah tangga atau pertikaian yang terjadi pada anak kemenakannya.

Konflik dalam berumah tangga yang dialami anak kemenakan kita hendaknya diselesaikan dulu melalui perundingan secara kekeluargaan dan kekerabatan sebelum dibawa ke Pengadilan Agama.

Tetapi fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari tidak adanya campur tangan ninik mamak dalam mengani masalah itu, sehingga pasangan suami istri yang lagi bertengkar langsung membawa kasusnya ke Pengadilan Agama. Hal inilah yang mem­pengaruhi peningkatan perceraian di Kota Padang. (*)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]