DUA GURU BESAR DIKUKUHKAN

Pertama Sejak FISIP UNAND Berdiri


Jumat, 24 Juni 2011 - 03:07:00 WIB
Pertama Sejak FISIP UNAND Berdiri

PADANG, HALUAN — Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas (FISIP UNAND) membuat sejarah. Dua dosen FISIP, Prof Dr Bustanuddin Agus MA dan Prof Dr Nursyirwan Effendi dikukuhkan sebagai Guru Besar Tetap Ilmu Sosiologi dan Antropologi FISIP UNAND.

“Pengukuhan kali ini meru­pakan hari yang penuh makna bagi FISIP. Karena sejak FISIP berdiri, setelah pengukuhan Prof Azis Saleh lebih kurang 20 tahun yang lalu, baru kali ini ada pengukuhan dosennya sebagai guru besar tetap. Saat pengukuhan Prof Azis Saleh sebagai guru besar, FISIP masih tergabung dalam Fakultas Sastra,” ujar Rektor Unand Prof Dr H Musliar Kasim MS pada acara pidato pengukuhan kedua guru besar tersebut dalam Rapat Senat Luar Biasa Unand di Auditorium Kampus Unand Limau Manis, Kamis (23/6).

Ditambahkan, Prof Bus­tanuddin adalah dosen senior di FISIP Unand. Yang bersang­kutan telah menjadi dosen sejak awal FISIP berdiri. Karena itu, Rektor Unand berharap, de­ngan dikukuhkannya kedua guru besar tersebut, kajian-kajian tentang sosiologi dan antropologi akan semakin berkembang di Unand.

Baca Juga : Hadiri Wisuda TK dan SMP Adz-Zikra, Wako Padang Hendri Septa Beri 'Reward'

Dalam pidatonya yang dibe­ri judul Integrasi Ilmu dan Agama : Urgensi dan Aspek-aspeknya, Bustanuddin me­nyim­pulkan bahwa integrasi ilmu dengan agama dewasa ini makin penting untuk melepas­kan dunia dan manusia dari ancaman global serta kesera­kahan manusia yang menguasai ilmu dan teknologi dan ingin jadi adi kuasa, ingin jadi Fir’aun-Fir’aun zaman modern, bahkan ingin jadi Tuhan.

Integrasi itu juga penting bagi dunia Timur untuk mene­mukan kembali identitas mere­ka sendiri, untuk mengangkat mereka dari keterpurukan dan untuk menebar rahmatan lil ‘alamin. Yang diintegrasikan bukan hanya niat melaksanakan perintah agama, tapi mencakup segenap aspek ontologis, episte­mologis dan aksiologis dari iptek itu sendiri.

Sementara Prof Dr Nur­syir­wan Effendi dalam pidato pengukuhan yang diberi judul Memahami Konstruksi Budaya Ekonomi Khas Indonesia : Suatu Pandangan Berbasis Riset mengungkapkan bahwa pemahaman tentang budaya ekonomi masyarakat Indonesia sebaiknya mengacu kepada pemahaman tentang kebera­daan pasar tradisional dan pelaku bisnis yang beridentitas suku bangsa.

“Pemahaman ini akan menjadi pintu masuk bagi upaya mengetahui lebih dalam tentang pola dasar ekonomi masyarakat yang asal usul dan perkembangannya sesuai de­ngan karakter masyarakat setempat.

Pemahaman ini juga seka­ligus sebagai orientasi dari berbagai upaya untuk mem­bangun dan memajukan eko­nomi masyarakat,” terang Nursyirwan yang menye­lesaikan Strata 3 nya di Universitat Bielefeld, Deutschland, Ger­many dengan nilai magna cum laude ini.

Akhirnya, Nursyirwan yang juga dipercaya menjadi Ketua Umum Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI) periode 2010-2015 ini menyatakan bahwa budaya ekonomi yang khas Indonesia adalah pasar tradi­sional dan wirausahawan asli atau lokal yang muncul dari lingkungan sosial berbasis kesukubangsaan.

Keberadaan kedua elemen ini dapat dite­mukan diseluruh pelosok Indonesia dan dina­mikanya dari hari ke hari memberikan karakter tersendiri di dalam bangunan ekonomi masyarakat Indonesia secara keseluruhan.

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]