Konstruksi Sebagai Cermin Peradaban


Kamis, 13 Oktober 2016 - 01:47:45 WIB
Konstruksi Sebagai Cermin Peradaban

Pengantar

Konstruksi (bangunan: rumah, ruko, mal, gedung, jembatan, kanal, dsb), dewasa ini berkembang sangat pesat. Selain pesatnya perkembangan kuantitas (jumlah), juga terjadi perubahan kualitas menuju keanekaragaman yang kompleks. Hal demikian dimungkinkan oleh perkembangan teknologi, dan perkembangan kebutuhan masyarakat modern. Perkembangan teknologi, contohnya; komunikasi, transportasi, dan temuan material baru (logam, polimer, keramik, kaca, serat optik, komposit, dsb).

Konstruksi sebagai proses transformasi aneka material menjadi wujud fisik bangunan yang berguna, mempunyai ri­wayat yang melekat dengan ri­wa­yat peradaban di berbagai pen­­­juru dunia. Perkembangan kon­struksi, tidaklah berdiri sen­diri dan tidak muncul se­ca­ra mendadak, namun erat kai­tannya dengan upacara ke­aga­maan, dan kegiatan per­da­ga­ngan, serta peperangan dan per­damaian yang silih ber­ganti.

Konstruksi Zaman Kuno

Di Kepulauan Indonesia, peradaban Hindu – Budha menyisakan berbagai  ba­ngunan yang hingga kini sebagian masih dapat dilihat. Contohnya; Candi Bo­robudur, dan beraneka candi lainnya tersebar di Pulau Jawa. Di Pulau Sumatera, candi Muara Takus di perbatasan Provinsi Sumbar dan Provinsi Riau merupakan konstruksi yang paling tua yang diketahui. Demikian pula berbagai ba­ngunan; mesjid, atau gereja dan klenteng yang banyak telah berusia ratusan tahun, namun masih berdiri kokoh hingga kini. Selain  itu, juga dapat ditemukan benteng – benteng peninggalan masa lalu, contohnya benteng pe­ning­galan Inggris Fort Marl­bo­rough di pinggiran Kota Beng­kulu yang hingga kini tegak dengan kokoh, meskipun seluruh pesisir barat Pulau Sumatera, termasuk Beng­kulu, sejak dahulu kala dike­nal sebagai kawasan lang­ganan gempabumi.

Rumah – rumah tradi­sio­nal (adat) dari berbagai etnis di Kepulauan Indonesia, juga merupakan konstruksi kuno yg belum sepenuhnya dipa­ha­mi oleh kebanyakan orang In­donesia itu sendiri. Rumah – rumah tradisonal itu, me­miliki keseragaman dalam hal ba­han, yai­tu kayu,  bambu  ser­ta  ijuk, dan biasanya beru­pa rumah panggung (lantai terpisah dari bidang tanah). Na­mun, ben­tuk, aksesori,  dan uku­ran ru­mah – rumah tra­di­sional di Indonesia beraneka ragam.

Di luar Indonesia, lebih ba­nyak dan lebih beraneka ra­gam  konstruksi kuno. Contoh  spek­takuler diantaranya; Piramida Giza di Mesir yang dibangun pada 4600 tahun silam. Pira­mida itu disusun lebih dari 2 juta bongkah batu,  dan  setiap bongkah beratnya 2500 kilo­gram. Pramida Giza tingginya 137 meter. Contoh lain: Tem­bok Cina yang termashur itu, dibangun pada sekitar 3 abad sebelum masehi. Prestasi Cina di bidang konstruksi juga pada galian kanal raksasa untuk irigasi (pertanian). Contoh lain yang juga dahsyat adalah aneka konstruksi peninggalan Im­perium Yunani, dan Romawi kuno di seantero benua Eropa, Afrika dan Asia. Juga pening­galan peradaban Islam di Spa­nyol dan India (Taj Mahal), dan lain sebagainya. Bangu­nan – bangunan kuno itu, berada dibawah perlindungan bagian kebudayaan Perseri­katan Bangsa – Bangsa (PBB).

Konstruksi ZamanTransisi

Para pakar sejarah kon­struksi membuat periodesasi sederhana dengan mem­beda­kan “kuno”, dan “modern”, yang diantarai oleh  periode “transisi” atau “peralihan”. Beracu ke Eropa yg sejak awal peradaban memiliki perhatian dan teknologi termaju di bi­dang konstruksi, maka periode transisi tersebut adalah selama abad ke – 19 M. Konstruksi Menara Eifel di Paris, Perancis dipandang sebagai penciri transisi dari periode kuno ke modern. Menara Eifel dikon­struksi dari batangan – bata­ngan baja sehingga memben­tuk menara setinggi 300 me­ter. Dirancang bangun oleh Alexandre Gustave Eifel yang diorder oleh Pemerintah  Pe­ran­cis untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke–100 Revolusi Perancis (tahun 18­89). Selama abad ke-19 M, dunia mencatat berbagai pres­tasi spektakuler di bidang konstruksi, diantaranya: Bero­pe­rasinya Terusan Suez (18­69), Terowongan Alpine, 12 km (1857), PLTA air terjun Nia­gara (1886), dan konstruksi ja­lan keretaapi Trans Siberia (1890 – 1903).

Konstruksi

Zaman Modern

Akumulasi dari perkem­ba­ngan teknologi elektrikal dan mekanikal selama abad ke – 19 M, membawa perubahan besar pada teknik konstruksi di abad – 20 M, terutama pada konstruksi bangunan ber­tingkat atau pencakar langit. Penggunaan besi cetak (1851) dan penggunaan baja pertama pada bangunan (1877) secara cepat diadopsi oleh para insi­nyur bangunan di seluruh Eropa dan Amerika untuk membangun gedung–ge­dung bertingkat. Di awal abad ke–20M, mekanika tanah (soil mechanics) sebagai sains eksakta ditemukan oleh Karl Anton von Terzaghi (1883–1961) sangat bermanfaat un­tuk merancang berbagai kon­struksi berat. Terzaghi meru­pakan Kepala Proyek Ben­du­ngan Aswan di Mesir sampai de­ngan tahun 1959. Hingga kini, “Soil mechanics” dan “rock mechanics” merupakan “brainware” untuk urusan konstruksi. Salah satu proyek konstruksi raksasa yg akan segera diimplementasikan adalah “Terusan Kra”, di tanah genting antara Thailand Sela­tan dengan Semenanjung Ma­laya. Kabarnya, proyek Terusan Kra, akan dibiayai oleh Repu­blik Rakyat Tiongkok (China Daratan). Jika Terusan Kra itu terwujud, maka diperkirakan berakhirlah  masa keemasan Selat Malaka sebagai jalur transport laut paling strategis di Asia Tenggara.

Di Indonesia

Alamsemulajadi (origin) peradaban di Kepulauan Indo­ne­sia (Nusantara) tidak me­nge­­nal beton, batu, atau semen dan baja pada konstruksi. Hin­du Jawa sebagai peradaban ter­tua di Nusantara tidak me­ngenal rumah yang dikon­struksi dari batu. Bangunan – ba­ngunan batu pada berbagai can­di kuno di masa yg lebih ke­mudian,  merupakan kreasi orang India (Hindu) yang da­tang ke pulau–pulau di Nusan­tara.

 Untuk zaman kolonial Be­lan­da,  menurut catatan orang Be­landa yang pertama men­da­rat di Banten pada akhir abad ke–16M, satu–satunya ru­mah batu di Kesultanan Ban­ten berada di Pecinaan. Ahli ba­ngu­nan batu orang Belanda per­tama ialah Hendrik Lucas­zoon Cardeel yang mengabdi ke Sultan Banten pada sekitar ta­­hun 1675 M. Pekerjaan Car­deel antara lain: membangun an­jungan kecil, membuat kin­cir air di Batavia (Jakarta), mem­buat penggergajian, mem­­­buat peti–peti, dan mem­per­­baiki saluran air yg rusak, ser­ta memproduksi arang un­tuk mesiu.

Di abad berikutnya, abad –18M dan ke–19M, untuk mem­­perkuat adminsitrasi pe­merintahan kolonial, orang Belanda membangun berbagai gedung yg hingga kini dapat dilihat, diantaranya; kantor pos, stasiun, pelabuhan, bank, dan kantor–kantor peme­rintah ser­ta hunian Gubernemen (is­tana) di Jakarta. Unsur–unsur bangunan kreasi Belanda itu menggunakan kolonade, pedi­men, kerangka dari besi cor, dan kaca. Gaya bangunan krea­si Belanda itu, yang paling terkenal disebut gaya “lan­dhuis”, yaitu suatu bangunan beton di pedesaan. Rumah bergaya “landhuis” adalah rumah besar dari batu, ber­tingkat, dengan tinggi pagu mencapai 4 meter, tanpa lo­rong dalam. Di depan dan kerap di sekeliling bangunan utama ada beranda luas. Un­tuk meng­antisipasi hujan lebat, rumah bergaya landhuis meng­gu­na­kan atap genteng yang curam. Dinding diplester tebal dan dikapur putih, lantai tegel, jendela tinggi dengan kaca–kaca segi empat pada bingkai kayu berukir. Bangu­nan hunian krea­si Belanda itu, banyak di­tiru oleh para bang­sawan pri­bumi untuk mem­bangun kra­ton atau hunian bangsawan di berbagai daerah di Nusantara.

Pasca Kemerdekaan, di Era Orde Lama (Presiden Soe­karno) putra bangsa Indonesia membangun sendiri beberapa ba­ngunan,  yang terkenal dian­ta­ranya: Hotel Indonesia, dan Toserba Sarinah, kemudian mesjid raksasa Istiqlal, dan Wisma Nusantara (disele­sai­kan di zaman Orde Baru), dan Ge­dung DPR–MPR, semua­nya  di Jakarta. Dewasa ini, perkembangan  dari konstruksi sudah sangat pesat (gedung pencakar langit, jembatan dan jalan layang, jalan tol, pela­buhan udara & laut, serta rumah  & toko aneka gaya di berbagai kota bahkan di desa–desa di Indonesia).

Penutup

Konstruksi telah berubah, dan akan terus menerus beru­bah menjadi lebih maju, na­mun bisa juga mundur. Ter­gantung dari berbagai faktor. Perkembangan konstruksi ter­kait erat dengan perkem­ba­ngan teknologi, dan perda­ga­ngan, serta pertumbuhan  pen­du­duk secara umum. Namun, konstruksi pada dasarnya  bu­kan­lah sesuatu yg selesai. Ba­ngu­nan apapun, bersama de­ngan waktu, secara alamiah se­lalu mengalami kerusakan dan menuju kehancuran. Ru­sak oleh berbagai sebab; pela­pu­kan, getaran gempabumi, ban­jir dan longsor, dirayapi te­tum­bu­han (lumut, pakis), dan ter­tim­bun oleh abu gu­nung­ api. Un­tuk mengurangi da­ya rusak ter­hadap bangunan, ma­ka di­perlukan perawatan, con­toh­nya dengan melapisi cat ke atap dan dinding, mem­ber­sih­kan dari lumut, dan men­jaga te­bing disekitar ba­ngu­­nan ti­dak longsor ke arah ba­­ngunan, dan lain seba­gai­nya. ***

 

SYAFRIZAL HARUN

 


Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]