Tahun 2017, Diperkirakan Inflasi di Indonesia Bakal Naik


Kamis, 13 Oktober 2016 - 19:46:27 WIB
Tahun 2017, Diperkirakan Inflasi di Indonesia Bakal Naik

JAKARTA, HALUAN -- Pada tahun 2017 mendatang, laju inflasi bakal naik. Hal tersebut diakibatkan perubahan iklim yang berdampak pada gejolak harga kebutuhan pangan.

Untuk tahun ini saja, dari awal hingga oktober berada di bawah 3,5 persen. Kemudian tahun 2013 dan 2014 inflasi Indonesia berada pada persentase 8,7 persen, serta di 2015 berada pada angka 3,3 persen. Hal tersebut dikatakan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara saat pertemuan wartawan seluruh Indonesia di Jakarta.

Dikatakan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Mirza Adityaswara, inflasi masih didorong naiknya sejumlah barang komoditas terutama bahan makanan dan makanan jadi. Inflasi juga terkait produksi dan kelancaran distribusi barang komoditas, kurs valuta asing yang terus melemah, serta beberapa indikator lainnya.

Mirza menyebutkan, untuk menjaga inflasi tidak terlalu tinggi, tugas BI salah satunya menjaga stabilitas moneter melalui pengendalian inflasi dari sisi suplai. Selain itu, BI memantau ratusan harga sejumlah komoditas untuk mengetahui tingkat perkembangan harga serta inflasi.

Dikatakannya, di Indonesia ada sekitar 800 jenis barang yang dipantau harganya untuk menjaga agar inflasi tidak terlalu tinggi. Kemudian setiap pekannya melakukan survei sejumlah komoditas tersebut, untuk mengetahui perkembangan harganya.

"Komoditas pangan yang sering menyebabkan terjadinya inflasi, yakni beras, cabe, bawang, telur, daging dan lainnya," katanya, pada temu wartawan seluruh daerah Bank Indonesia pada Minggu (9/10) hingga Selasa (11/20).

Berbeda dengan negara-negara maju seperti Amerika, kata Mirza, karena penghasilan masyarakatnya tinggi, sehingga uang mereka yang digunakan untuk belanja bahan pangan atau makanan jadi, hanya sebagian kecil dari penghasilan mereka.

Mirza menjelaskan, untuk menekan inflasi itu, ada tiga langkah yang harus dilakukan kata Mirza, yang pertama, meningkatkan produksi pangan kemudian memastikan kelancaran distribusi pangan dan membuka kran informasi tentang ketersediaan barang dan harga.

"Jika langkah-langkah ini berjalan dengan baik, maka inflasi akan dapat ditekan," ujarnya.

Mirza menceritakan, pada era tahun 50-60 an, inflasi di Indonesia mencapai ratusan persen disebabkan lonjakan harga barang akibat barang kebutuhan tidak tersedia. Kondisi semakin terpuruk, karena pemerintah mengatasinya dengan mencetak uang, sehingga harga justru tambah mahal.

"Mencetak atau menambah uang baru bukan langkah mengatasi inflasi, karena  akan merugikan negara. Seharusnya bukan uang yang ditambah, melainkan barang disediakan," katanya lagi

Dilanjutkan Mirza, untuk meningkatkan produksi dan mencegah inflasi yang tinggi, BI melalui kantor perwakilan yang ada di daerah melakukan pengembangan klaster komoditas pangan. Petani dan peternak diberikan pelatihan dan bantuan modal untuk meningkatkan produksi.

"Saat ini terbentuk 158 klaster ketahanan pangan di seluruh Indonesia. Masing-masing daerah punya klaster padi, cabe, bawang. Harapannya produksi yang dihasilkan bisa menopang kebutuhan pangan," ujarnya.

Selain itu, guna meredam inflasi, setiap daerah juga dibentuk Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) yang bertugas memantau pergerakan inflasi serta melahirkan kebijakan yang bisa menstabilkan inflasi. Bank Indonesia berperan memberikan pendampingan pada 497 TPID yang ada di seluruh Indonesia dengan memberikan analisa dan rekomendasi terkait persoalan inflasi.

Dikatakannya, TPID ini berpedoman pada prinsip 4K (ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, keterjangkauan harga, dan komunikasi strategis dalam mengelola ekspektasi masyarakat), sehingga pemerintah daerah harus berkomitmen dalam memetakan produksi dan ketersediaan pasokan.

Selanjutnya, melakukan pertemuan rutin TPID untuk melakukan pembahasan stabilitas harga dan antisipasi gejolak harga serta melaporkannya ke TPID. Kemudian menyusun database harga komoditas pangan dan komoditas utama, sebagai early warning system terhadap gejolak harga dalam bentuk pusat informasi harga pangan strategis, serta pembentukan roadmap TPID jangka menengah.

Kemudian Bank Indonesia telah memiliki aplikasi pusat informasi harga pangan strategis yang di pasang di sejumlah pasar induk. Langkah itu merupakan  menekan permainan harga pangan oleh pedagang.

"Pusat informasi harga yang ada di daerah nantinya terintegrasi secara nasional, sehingga kita tahu di mana harga komoditi pangan tertinggi. Di mana produksi yang surplus dan di mana yang kekurangan. Dari situ bisa diambil kebijakan secara nasional yang tepat," jelasnya.

Mirza Adityaswara juga menyinggung tentang kurs rupiah. Ia menegaskan, menguatnya kurs rupiah terhadap mata uang asing tidak akan berdampak baik bagi perekonomian dalam negeri. Misalnya saja, saat ini ekspor dan impor Indonesia mengalami defisit dan jika rupiah terlalu kuat, maka yang akan terjadi adalah biaya impor murah, sehingga produksi dalam negeri menjadi turun.

"Impor akan semakin besar dan ekspor menjadi tidak kompetitif. Selain itu, jika rupiah terlalu kuat maka utang valuta asing menjadi kian besar, karena nilainya murah. Yang bagus itu adalah kurs rupiah harus stabil," ujarnya.

Ia mengatakan, pada 2013 ekspor dan impor Indonesia mengalami defisit sekitar 31 miliar dolar AS, 2014 17 miliar dolar AS dan pada 2016 sekitar 21 miliar dolar AS.

Namun, menurutnya, pada kurun waktu tahun 2000 sampai 2010 ekspor dan impor Indonesia sempat mengalami surplus, karena ketika itu harga komoditas sedang bagus.

Ekspor Indonesia didominasi oleh pertambangan dan perkebunan , setelah 2010 harga komoditas tersebut turun sehingga ekspor menjadi defisit.

Sementara itu, Hary S Baskoro, Deputi Direktur Departemen Regional I Bank Indonesia mengatakan, UMKM yang bergerak di sektor pangan yang ada di seluruh daerah harus diperkuat, khususnya perkuatan bantuan modal dan memberikan pelatihan. Dengan begitu, produksi pangan akan meningkat dan inflasi akan mampu ditekan. (h/nas)


Akses harianhaluan.com Via Mobile harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]