KEMARAU PANJANG PUKUL PETANI

1.530 Ha Sawah Terancam Gagal Panen


Jumat, 14 Oktober 2016 - 01:26:20 WIB
1.530 Ha Sawah Terancam Gagal Panen Memprihatinkan, padi yang berusia kurang sebulan di Kecamatan Harau tidak tumbuh sempurna. Lahan yang semula subur kini sudah terlihat retak-retak karena kekeringan. (ZUL)

LIMAPULUH KOTA, HALUAN — Ribuan hektare lahan sawah di hampir 79 nagari di kabupaten Limapuluh Kota, terancam gagal panen.

Pasalnya, yang kekeri­ngan itu mengalami rusak berat dan ringan, bahkan banyak sawah yang sedang ditanami padi sudah retak retak, bagi petani yang sudah panen musim turun kes awah terkendala.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Limapuluh Kota, Afrizul Nazar, yang dikon­firmasi lewat telepon selu­lernya, Kamis (13/10) kema­rin mengakui kekeringan sawah semakin meluas. Se­dikitnya 1.530 hektare sawah yang kekeringan tersebar pada sejumlah kecamatan.

“Jika tidak turun hujan dalam seminggu ini, lahan yang kekeringan akan se­makin luas dan bertambah parah, sehingga gagal penen semakin mengancam petani. Memang hujan turun Rabu sore tapi sebentar, tidak memadai dan tidak merata. Dalam pekan ini kita meng­harapkan agar turun hujan, sehingga sawah yang sudah retak retak normal kembali,” sebutnya.

Pantauan Haluan ke se­jum­lah nagari beberapa hari yang lalu, kekeringan ter­parah, selain beberapa nagari di Kecamatan Harau, Warga Jorong Buluh Kasok, Kena­garian Sarilamak, juga dilan­da kekeringan. Masyarakat setempat selain sulit men­dapatkan air bersih, juga air untuk sawah.

“Sudah hampir dua bulan ini air yang ada semakin menipis dan sekarang sungai mulai kering kerontang. Be­gitu juga dengan sumur galian airnya semakin menipis dan sebagian sumur warga sudah tidak ada lagi airnya,” ujar pemuka masyarakat se­tem­pat, Dt Bosa Nan Putiah.

Tak hanya itu, di Keca­matan Bukik Barisan dan Gunung Omeh tak luput dari kekeringan Selain itu terdapat di sejumlah di Na­gari Sita­nang, Batu Payung, Balai Panjang, dan nagari lainnya di Kecamatan Lareh Sago Hala­ban. Sebagian lagi tidak diolah menunggu pa­sokan air.

Tak hanya di Limapuluh Kota, Kota Payakumbuh juga terkena imbasnya, mimpi 15 petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Bakuang Jaya di Kelurahan Koto­panjang Dalam, Kecamatan Latina, Kota Payakumbuh, untuk menikmati hasil panen padi mereka, pupus sudah. Seluas 5,9 hektare sawah milik petani setempat, gagal panen, akibat musim kema­rau panjang.  

Ketua Keltan Bakuang Jaya Benni Mulianto, be­berapa hari yang lalu menye­butkan, harusnya Agustus 2016, anggotanya sudah panen. Tapi, karena musim kemarau panjang yang hingga kini masih berlangsung, mem­buat padi jenis junjung dan Batang Piaman, itu tidak tumbuh subur dan mati se­belum berbuah.

“Hingga sekarang, sudah empat bulan kami tidak turun ke sawah. Dapat diba­yang­kan, bagaimana nasib kami mengepulkan asap dapur,” ungkap adik kandung Camat Latina, David Bachri ini.

Untuk sementara, tam­bahnya. anggota keltan kerja serabutan, dicoba menanam sayur-sayuran dan tanaman lain, tanah garapan sudah reta-retak, karena tak disiram hujan. Diharapkannya, pem­bangunan saluran irigasi yang dilakukan pemerintah tahun ini, segera selesai. Tapi, menurutnya, saluran irigasi yang dibangun, masih belum menyelesaikan masalah, ka­re­na belum semua sawah milik Keltan Bakuang Jaya yang teraliri. Solusinya, Ba­kuang Jaya akan membuat dua sumur bor di kawasan persawahan mereka.

Dikatakan, Bakuang Jaya punya mesin pompa air, ma­sih bantuan pemko. Tapi, mesin pompa itu biaya BBM-nya terlalu tinggi. Air yang masuk ke dalam sawah, cepat hilang, karena resapan ta­nahnya yang terlalu cepat. “Kemungkinan, sawah kami berada di tepi Sungai Batang Lampasi,” katanya. (h/zkf)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]