BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau


Sabtu, 15 Oktober 2016 - 23:06:17 WIB
BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau Rajo Lelo

“Kok tidak landang jo landi, dimano kiambang diam. Kok indak utang dibayia, dimano dagang ka tajua”

 

Baca Juga : Kenaikan Tarif PPN: Kontradiksi Opsi di Tengah Pandemi

Bulu kuduk penulis berdiri saat Syamsir Rajo Lelo melafazkan dua kalimat mantra tersebut,. Darah berdesir. Hati terkesiap. Kakek 26 cucu itu terus menggumam. Kata-katanya tidak terlalu jelas tertangkap telinga. Matanya terpejam. Serasa ada nuansa magis nan menguar di petang itu. Petang nan tak biasa di rumah Rajo Lelo yang terletak di pedalaman Kota Padang. Nama daerahnya Taruko Rodi, Kelurahan Limau Manih Selatan, Kecamatan Pauh, Kota Padang, Sumatera Barat. Daerah pinggiran yang belum sepenuhnya tersentuh roda pembangunan. Rumahnya agak tersuruk dari nan lainnya. Dari jalan lintas Padang – Solok, belok kiri ke arah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) HB Saanin. Terus ke atas. Sampai di RSJ, belok kiri, ke arah pemukiman. Rumah Rajo Lelo di sana, persisnya di jalan tembus ke Unand. Sebagian jalan masih berkerikil.

 

Baca Juga : Profesi Pelayanan Publik, Harus Jadi 'Role Model' Pelaksanaan Protokol Kesehatan

Di rumah itulah Rajo Lelo berdiam. Lelaki tua nan punya segudang pengalaman hidup. Dia perapal mantra nan handal. Salah satu mantranya, kalimat di atas. Itu bukan kalimat biasa. Ada nuansa balas dendam dari setiap abjad. Sarat makna. Dimana, siapa saja yang berhutang, bagaimanapun caranya mesti membayar setimpal. Tidak ada cerita menunda, apalagi melupakan.

 

Tapi, mantra yang dibaca lelaki tua berjenggot putih, dengan usia lebih dari 80 tahun itu tidak ditujukan kepada manusia. Tapi, terhadap sesuatu yang menakutkan. Binatang buas bernama harimau (panthera tigris sumatrae). Penguasa rimba Sumatera, yang oleh tetua Minangkabau dipanggil inyiak. “Itu lafaz pemanggil inyiak. Jika tak datang, dia (inyiak) itu akan tewas dengan sendirinya atau dibunuh oleh inyiak lain. Itu sudah perjanjian lama, tak bisa ditawar,” tutut Syamsir Rajo Lelo. Ungkapannya memerkuat aroma ketakutan dari apa yang dibacanya.

PAWANG TERAKHIR DI KOTA PADANG

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]