BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau


Sabtu, 15 Oktober 2016 - 23:06:17 WIB
BAGIAN SATU: Rajo Lelo, Pewaris Terakhir Tuah Penakluk Harimau Rajo Lelo

Bakat langka Syamsir Rajo Lelo bukan didapatnya dengan mudah. Tidak datang dengan sendirinya. Butuh perjuangan, hingga kemudian dia bisa mengamalkan ilmu itu. “Saya mendapatkannya dari mamak (paman-red). Dia penangkap harimau ulung. Tak terhitung harimau yang bertekuk dihadapannya. Semuanya turunan,” paparnya.

 

Lelo, pertama kali ikut menangkap harimau dengan mamaknya pada tahun 1952 di daerah Batu Busuak, Padang. Ada dua ekor yang berhasil ditangkap waktu itu. “Menjinakan harimau merupakan panggilan bagi keturunan kami,” tutur Rajo Lelo, yang terpaksa meninggalkan bangku pendidikan karena Sekolah Rakyat (SR) tempatnya menuntut ilmu di tengah Kota Padang ditutup paksa tentara Belanda pada 1941.

Baca Juga : Hakikat Pendidikan

 

Yakin dengan pilihannya, Rajo Lelo yang kala itu masih berumur delapan tahun, akhirnya diantarkan sang mamak ke Ulakan, Padangpariaman tepatnya di pusat pengajian Syech Burhanuddin. “Saya disuruh dulu memperdalam ilmu agama, menyucikan diri dan membuang segala amarah berlebihan di diri oleh mamak. Kalau tak begitu, katanya tidak bisa menjadi pamikek harimau. Saya diantarkan ke Pesantren Syech Burhanuddin. Dulu santri di sana ramai,” kenang Rajo Lelo.

 

Di Pesantren Syech Burhanuddin, Rajo Lelo ditempa ilmu tarekat selama tujuh tahun. Selama itu pula dia giat belajar. Bermacam nan dihapalnya. Namun, Rajo Lelo tak mau membuka cerita pada bagian itu. “Lewat tujuh tahun, baru saya naik tingkat dan diajarkan secara khusus cara mamikek harimau. Selain dari mamak, putuih kaji saya juga di pesantren. Ada pula selama tujuh tahun, baru saya bisa mamutuih kaji,” beber lelaki yang gemar membangun mushalla itu.

 

Boleh dikatakan, Rajo Lelo adalah orang pilihan. Dari 37 orang yang mengaji ilmu pikek harimau di masanya, hanya dua orang yang lulus. Dia dan satu temannya dari Aceh. Nan terpatri di hati Rajo Lelo saat dia mamutuih kaji, adalah cara sang guru menentukan, siapa nan pantas mengemban ilmu tersebut. Kala itu, seluruh santri diberi pisau yang sangat tajam. Saking tajamnya, rambut saja jatuh, jadi terbelah dua.  “Jangankan dipegang, melihat mata pisau itu saja, bergidik. Pisau itu diberikan satu-satu kepada para santri. Saya juga dapat. Kata guru, pergunakan pisau sebaik mungkin. Itu saja,” cerita Rajo Lelo.

 

Berbeda dengan teman-temannya yang langsung menggunakan pisau, untuk pekerjaan, dan dibanggakan kepada orang lain, Rajo Lelo malah menyimpannya. Menurut hematnya, belum saatnya pisau pemberian guru digunakan. Sekali saja, tak pernah dia keluarkan pisau tersebut. Beberapa pekan setelah itu, seluruh santri dipanggil dan disuruh membawa pisau. Sang guru lalu melihat satu per satu pisau yang terpegang. Banyak mata pisau yang sudah tumpul. Hanya dua nan masih tajam. “Ternyata, yang lulus pengajian adalah santri yang pisaunya masih tajam. Saya lulus dan akhirnya diberi kaji terakhir. boleh mamikek harimau,” sebut Rajo Lelo mengenang.

 

Sejak saat itu, Syamsir Rajo Lelo melanglang buana

Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]