Dilema Gerakan Mahasiswa


Senin, 17 Oktober 2016 - 00:52:31 WIB
Dilema Gerakan Mahasiswa Ilustrasi.

Dalam perjalanannya, mahasiswa yang terdiri dari kaum muda merupakan bagian terdepan dalam sejarah perubahan. Bermula dari berdiriya Budi Utomo 1908, peristiwa Sumpah Pemuda (1928), peristiwa Rengasdengklok (1945) dan Reformasi (1998). Dalam hal ini mahasiswa Indonesia memegang peran sentral sebagai penggerak perubahan.

Seiring menjauhnya peris­tiwa bersejarah itu, kesadaran mahasiswa tentang tugas-tugas­nya sebagai agen perubahan mulai terlupakan. Mahasiswa tidak lagi memupuk kepe­dulian sebagaimana hakikat darah juang untuk memper­juangkan kebenaran. Orien­tasinya hanya terfokus pada nilai tanpa mengharapkan ilmu yang bermanfaat.

Pemuda telah lupa akan tugas dan tanggung jawabnya sebagai salah satu kekuatan politik. Hal ini akibat terja­dinya pergeseran nilai yang dianut oleh pemuda sebelum dan sesudah merdeka. Nilai yang dipahami oleh pemuda kini teleh terhegemoni dengan kecintaannya terhadap dunia (hedonis) semata, sehingga kecenderungannya budaya politik pemuda lebih menga­rah kepada budaya politik apatis yang kurang peduli ter­hadap lingkungan sosial­nya.

Pemuda saat ini tidak lagi tahu apa perannya. Mereka hanya disibukkan oleh kesen­dirian tanpa memikirkan ling­kungan sosial yang seharusnya menjadi tugas utama mereka.

Setidaknya terdapat tiga peran pemuda yang harusnya dipahami oleh mahasiswa, yaitu: Sebagai social control yang akan berimplikasi kepa­da kepemimpinan bangsa ke­de­pan,agent of change  dengan berbagai gagasan cemerlang untuk menyelesaikan per­masalahan bangsa, generasi revolusi bangsa kedepan me­nuju bangsa Indonesia yang mapan dalam dunia politik.

Mahasiswa dan Ideologi

Menurut Arbi Sanit, tin­jauan terhadap intelektual kampus dengan ling­ku­ngan­nya yaitu msyarakat dengan pihak-pihak yang berkepen­tingan membawa kita kepada dua kemungkinan. Pertama, kampus mengambil inisiatif melalui penawaran karya, gera­kan pemberharuan dan per­bai­kan kondisi masyarakat sampai kepada gerakan poli­tik. Kedua, kampus bersikap pasif atau hanya menampung dan memberi reaksi terhadap pihak luar sehingga kampus dijadikan arena pertarungan kekuatan politik ataupun patner yang tidak sederajat (alat) oleh birokrasi negara dalam melaksanakan tugasnya.

Dari dua kemungkinan itu, kemugkinan kedualah yang tumbuh dan berkembang di lingkungan kampus saat ini. Bahkan ada kecendrungan dari pihak kampus untuk mengin­tervensi setiap gerakan maha­siswa dengan membatasi apa-apa yang boleh dikritisi. Hal ini tentu menyebabkan ruang gerak mahasiswa semakin ter­batas di tengah sifat ketidak pedulian yang sedang melan­da mahasiswa.

Dari apa yang saya cermati, boleh dikatan mahasiswa ti­dak lagi memiliki ideologi peru­bahan. Mereka cenderung tunduk dan patuh kepada kemunafikan. Hanya sedikit yang masih memiliki kepe­dulian terhadap lingkungan sosial, itu pun kebanyakan dari mereka terintimidasi politik kepentingan.

Kebanyakan pergerakan mahasiswa kini cenderung mengikuti arahan dari pihak tertentu. Mahasiswa seolah tidak lagi memiliki kemam­puan berpikir yang menye­babkan mereka mudah terinti­midasi oleh kekuatan politik atau kepentingan sekelompok orang. Inilah sejatinya yang menyebabkan mahasiswa kehi­l­angan jadi diri sebagai kaum intelek yang memiliki posisi di antara kekuatan politik dan pemerintahan.

Mahasiswa seolah dilanda kebingungan sebagai akibat dari ketidakcerdasan berfikir dari mahasiswa itu sendiri. seperti halnya mahasiswa yang bernaung di bawah organisasi pergerakan yang memiliki sejarah panjang. Akibat rasa kekeluargaan yang ada sesama mereka (dalam sebuah orga­nisasi) telah menyebabkan kebingunag atas apa yang harus diperjuangkan.

Bahkan hanya karena per­kataan yang sedikit menying­gung keluarga organisasi, mereka rela melakukan perla­wanan terhadap lembaga yang dicintai publik, yaitu lembaga yang berjuang mewujudkan kemerdekaan sesungguhnya. Hal seperti ini tentu menci­derai kesucian gerakan maha­siswa yang seharusnya berpe­gang teguh kepada kebenaran.

Dalam hal ini tentu timbul sebuah pertanyaan tentang apa dan bagaimana ideologi yang dipakai mahasiswa. Sebab mahasiswa dalam hakikatnya merupakan kaum terdidik yang dituntut peka terhadap kebutuhan masyarakat dan memiliki posisi diantara peme­rintahan dan kekuatan politik.

Berpikir, Bergerak

atau Mati di Tempat

Pada dasarnya, mahasiwa itu dituntut untuk berfikir tentang kebenaran. Hal ini bertujuan agar mahasiswa itu cerdas memilah apa yang harus diperjuangkan. Dengan berpikir, kecendrungan maha­siswa untuk “mengamuk” tan­pa alasan tidak akan terjadi.

Setelah memikirkan apa yang hendak mereka perjuang­kan, tentu harus ada sebuah pergerakan perubahan. Namun per­gerakan itu tidak pula semata-mata untuk ke­pen­tingan keloompok semata, tetapi untuk kepentingan bersama, yaitu kepentingan bangsa dan negara Indonesia.

Pada dasarnya, pemuda harus cerdas memililah kebe­naran yang akan disuarakan. Jangan hanya karena kelom­pok merasa dirugikan, lalu hal itu dijadikan alasan untuk mengkritik tanpa mem­pertim­bangkan kepentingan masya­rakat luas. Mahasiswa dituntut untuk berpikir, bergerak atau mati ditempat, Namun hal itu berlaku hanya untuk menyua­rakan kebaikan bersama, bu­kan kebaikan kelompok.

Sebagaimana Tan Malaka berkata “idealisme adalah hal termewah yang dimiliki pemu­da”. Negara Kesatuan Repu­blik Indonesia merupakan bentuk Negara yang lahir dari pengorbanan jutaan jiwa dan perjuangan bangsa sebagai komitmen mempertahankan bangsa.Dan pemuda selalu memengang peran sentral da­lam setiap perubahan yang terjadi, den oleh sebab itu pula, pemuda harus menjaga idealismenya sebagai kelom­pok netral yang jauh dari permainan politik dan kekua­saan negara. ***

 

ANTONI PUTRA
(Aktivis UKM Pengenalan Hukum dan Politik Universitas Andalas)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Sabtu, 23 Juli 2016 - 04:04:09 WIB

    Dilematika Inflasi dan Kemiskinan

    Dilematika Inflasi dan Kemiskinan Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk miskin Indonesia 28,01 juta atau 10,86% pada Maret 2016, ber­kurang dibanding September 2015 yang tercatat 28,51 juta orang atau 11,13%. Jumlah penduduk miskin menurun ka.
  • Jumat, 24 Juni 2016 - 05:23:32 WIB

    THR dan Dilema Perusahaan

    PNS, TNI dan Polri tentunya akan nyaman dari segi keuangan menghadapi Hari Raya Idul Fitri 1437 Hijriah. Pemerintah sudah memastikan para abdi negara ini men­dapatkan Tunjangan Hari Raya (THR) dan ditambah lagi gaji ke-13. G.
  • Kamis, 07 April 2016 - 03:07:56 WIB

    Tiongkok dan Dilema Negara Berkembang

    Tiongkok dan Dilema Negara Berkembang Awal tahun 2016, Goldman Sachs me­ngingatkan bahwa kompleksitas transisi ekonomi yang dilakukan Tiongkok akan terus menekan perekonomian emerging market dalam lima tahun ke depan. Dalam laporan mengenai prediksi ekonomi Chin.
  • Selasa, 23 Februari 2016 - 02:55:44 WIB

    Dilema Utang, Pajak, dan Belanja Pemerintah

    Dilema Utang, Pajak, dan Belanja Pemerintah Neraca keseimbangan primer atau kemampuan pemerintah membayar utang di dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 kembali mencatatkan defisit..
  • Jumat, 29 Januari 2016 - 04:01:40 WIB

    Dilema Aktivisme Mahasiswa

    Dilema Aktivisme Mahasiswa Mengiringi perjalanan kehidupan kampus membawa kita pada titik dimana semuanya serba hambar. Tentu pernyataan ini beralasan, tidak serta-merta muncul dan membumi, walaupun dalam alam pikir penulis saja..
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]