Pembangunan Harus Merata


Selasa, 18 Oktober 2016 - 01:18:05 WIB
Pembangunan Harus Merata Presiden, Jokowi bersama rombongan disambut tarian adat Papua saat berkunjung ke provinsi itu, Senin (17/10). Dalam kunjungan itu Jokowi meresmikan sejumlah proyek infrastruktur kelistrikan di Papua dan Papua Barat.

JAYAPURA, HALUAN—Presiden, Jokowi meminta agar proyek pembangunan infrastruktur listrik di Papua dipercepat karena sampai saat ini rasio elektrifikasi di provinsi itu baru mencapai angka 47 persen. Artinya, masih ada 53 persen pen­duduk  Papua belum me­nikmati listrik.

Hal itu ditegaskan Jokowi saat meresmikan sejumlah proyek infrastruktur kelistri­kan di Papua dan Papua Barat, Senin (17/10). Sebe­lum­nya, Direktur Utama PLN, Sofyan Basir berjanji kepada presiden untuk mem­buat semua kecamatan di Papua dan Papua Barat te­rang benderang pada 2020.

“Saya sampaikan, saya tidak mau selesainya pada 2020. Saya minta pada 2019,” ujar Jokowi dalam rilis Biro Pers, Media dan Infor­masi Sekretariat Presiden yang diterima Haluan.

Ia mengakui bahwa mem­bangun infrastruktur di Papua berbeda dengan membangun di wilayah lain di Indonesia karena Papua dan Papua Barat memiliki medan yang sangat sulit.

“Inilah tantangan pro­gram proyek di Papua dan Papua Barat, medannya be­rat. Saya tahu, tapi jangan diundur-undur. Saya minta semuanya dimajukan,” tutur Jokowi.

Pada kesempatan terse­but, Jokowi meresmikan sekaligus enam proyek pem­ba­ngunan pembangkit listrik di Papua. Keenamnya ialah PLTA Orya Genyem 2 x 10 MW, PLTMH Prafi 2 x 1,25 MW, Saluran Udara Tega­ngan Tinggi 70 kilo Volt Genyem-Waena-Jayapura sepanjang 174,6 kilometer sirkit, Saluran Udara Tega­ngan Tinggi (SUTT) 70 kilo Volt Holtekamp-Jayapura sepanjang 43,4 kilometer sirkit, Gardu Induk Waena-Sentani 20 Mega Volt Am­pere, dan Gardu Induk Jaya­pura 20 Mega Volt Ampere.

Satu Harga BBM

Kehadiran presiden di Papua juga untuk meres­mikan harga bahan bakar minyak (BBM) satu harga. Menurut Jokowi, hal itu perlu dilakukan karena selama ini terjadi ketidakadilan harga. “Di Jawa hanya Rp7.000 per liter, di sini ada yang sampai Rp100.000 per liter. Di Wa­mena Rp60.000 hingga Rp70. 000 per liter. Saya tidak bisa seperti itu. Kalau di (wilayah) barat dan tengah (Rp7.000), ya di sini harus­nya sama harganya,” tuturnya.

Upaya untuk menyama­kan harga BBM di Papua dan Papua Barat dengan wilayah lainnya di Indonesia tidaklah mudah. “Dirut Pertamina menyampaikan kepada saya, kalau harga Rp7.000 per liter, ruginya banyak,” kata Jo­kowi.

Ia meminta kepada Dirut Pertamina untuk mencari solusi agar segera diwujudkan harga yang sama untuk BBM di seluruh Indonesia. Ia meng­gambarkan bahwa ma­sa­lah satu harga bukan ma­salah untung rugi, melainkan dampaknya terhadap pening­katan kesejahteraan mas­yarakat. “Harganya harus sama dan diharapkan akan ada pergerakan ekonomi di sini (Papua). (Pasokan) listrik berlebih, harga BBM sama akan terjadi pergerakan eko­nomi,” kata Jokowi.

Pembangunan di In­do­nesia harus merata Jokowi mengatakan, pembangunan tidak hanya dilakukan di wilayah Papua, tapi juga di seluruh wilayah tanah air. Hal tersebut dilakukan untuk memenuhi kebutuhan mas­yarakat yang sangat mende­sak dan untuk menggerakkan roda perekonomian wilayah setempat.

“Saya kira tidak hanya Papua di wilayah Timur (In­donesia), kami ingin mem­berikan perhatian wilayah Timur, Tengah, dan Barat, pada posisi kira-kira sama baik di infrastruktur, pertum­buhan ekonomi, dan nanti di sisi pertumbuhan industri. Saya kira arahnya ke sana,” tuturnya. (h/ril/dib)


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

BERITA TERPOPULER Index »

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM