MANDABIAH KABAU NAN GADANG

Koto Baru Canangkan Turun ke Sawah


Selasa, 18 Oktober 2016 - 01:53:33 WIB
Koto Baru Canangkan Turun ke Sawah Prosesi maarak 147 dulang menjadi bagian dari tradisi Mandabiah Kabau Nan Gadang dalam mencanangkan Plakat Turun Kesawah di Koto Baru, Senin (17/10). (DODI)

SOLSEL, HALUAN — Masyarkat adat  se Kerapatan Adat Nagari Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok Selatan-Sumbar mengawali kegiatan tanam serentak turun ke sawah dengan mandabiah (menyembelih) kabau nan gadang dan doa bersama. Makan bajamba diawali dengan prosesi arakan 147 dulang dan pencanangan plakat turun ke sewah,  Senin (17/10).

Tradisi bermuatan kearifan lokal, pelestarian alam dan kebersamaan itu terakhir terlak­sana pada tahun 2011 silam. Barulah menjelang musim ta­nam tahun ini  hasil musyawarah KAN Koto Baru yang kini memiliki pengurus baru,  mem­bangkik kembali batang taran­dam tradisi mandabiah kabau nan gadang.

Ketua Kerapatan Adat Na­gari (KAN) Koto Baru, Jalalu­din Dt Lelo Dirajo mengatakan, tra­disi ini melibatkan Ninik ma­mak dan masyarakat  pada ti­ga Nagari pada wilayah adat KAN Koto Baru, masing ma­sing Nagari Koto Baru, Pasar Mua­ro Labuah, Bomas dan Ko­to Baru serta Pulakek Koto Baru.

Kerbau yang didabiah terse­but murni sawadaya Datuk, Ninik Mamak dan masyarakat  pada keempat nagari. “Selain itu, tradisi ini kita tumbuhkan kembali untuk mendukung brand image Koto Baru sebagai Nagari Saribu Rumah Gadang yang kini menjadi icon wisata Solok Selatan yang mulai terso­hor ke manca negara,” ujarnya.

Bupati  Solok Selatan Muzni Zakaria yang hadir dal;am perayaan ini kemarin, meng­apresiasi upaya menumbuhkan kembali tradisi tersebut.

Dalam sambutannya, bupati mengatakan bahwa acara seperti ini rutin dilaksanakan di bebe­rapa kanagarian di Solok Sela­tan. Ia mengaku kini pihaknya sedang fokus mengembangkan acara adat ini untuk menggaet wisatawan. Nanti, selain terke­nal sebagai nagari 1.000 Rumah Gadang, Koto Baru juga akan dikenal dengan budaya turun ke sawah, harapnya.

Turun ke sawah serentak perlu terus kita budayakan. Makanan pokok kita adalah nasi. Kita ingin panen berhasil dan dengan hasil yang banyak. Untuk mewujudkan itu perlu kebersamaan. Kebersamaan itu yang kini ditunjukkan. Kekom­pakan ninik mamak dari 11 suku. Sejarah mengatakan bah­wa sejak zaman dahulu Koto Baru terkenal kompak yang ditunjukkan dengan banyak Rumah Gadang,” tuturnya.

Pada kesempatan itu, Kepa­la UPTD Pertanian Kecamatan Sungai Pagu Raswan memba­cakan plakat turun ke sawah yang telah menjadi Keputusan KAN Koto Baru dan diketahui Camat Sungai Pagu. Selain jadwal dan pola tanam serentak, plakat itu juga menentapkan varietas padi padi yang akan ditanam diantaranya anak daro, caredek merah,junjuang, sokan dan batang piaman.

Mendukung Pelestarian

Manajer Kampanye dan Advokasi KKI-Warsi  Rainal Daus mengatakan, tradisi pro­se­si Mandabiah Kabau Nan Ga­dang serta kearifan lokal lainnya perlu diapresiasi semua pihak. Nilai-nilai dalam tradisi masya­rakat adat  seperti Mandabiah Kabau Nan Gadang perju di­kembangkan seperti dalam P HBM yang merupakan basis utama dalam pembangunan kehutanan di Sumatera barat.  Pemerintah Sumatera Barat melalui kelompok Kerja PHBM yang dimotori Dinas kehutanan Sumbar dan WARSI sudah mengidentifikasi lebih dari 110 nagari yang berpotensi untuk mendapatkan hak kelola dengan skema-skema yang sesuai de­ngan masyarakat setempat. Pengelolaan hutan berbasis masyarakat ini, merupakan salah satu langkah mengem­balikan kedaulatan masyarakat atas sumber dayanya.

Apa lagi Sumbar, kata Suk­ma Reni Kabid Humas Warsi,  telah menargetkan 500.000 ha pengelolaan PHBM untuk lima tahun sejak2012 lalu,hingga 2017. Target ini merupakan pengelolaan hutan oleh ma­syarakat yang terluas di Indo­nesia. Untuk mewujudkan ini Sumbar telah memiliki arah kebijakan dalam pengelolaan hutan, yaitu aktivitas kehutanan berbasis nagari, mengutamakan partisipasi dan bagi manfaat, meningkatkan tanggung jawab masyarakat lokal dan mem­berikan jaminan kelola hutan jangka panjang. Sehingga akan menjadikan Sumbar menjadi provinsi terkemuka dalam pe­ngelolaan sumber daya alam berbasiskan kearifan lokal.

Terget ini akan di capai dengan skema Hutan Nagari, HKM dan HTR. Saat ini ter­dapat 44.149 Ha kawasan Hutan yang sudah mendapat SK Pene­tapan Areal Hutan Nagari dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dan masih ada 34.869 ha yang masih berpro­ses. Sedangkan dengan skema Hutan Kemasyarakatan, yang sudah mendapatkan legalitas seluas 4.098 ha dan sedang proses 15.185 ha sedang proses pengajuan izin ke Kementrian LHK. “Dengan kondisi ini Su­matera Barat masih harus be­kerja keras untuk mewu­judkan pengelolaan hutan ber­basis masyarakat sesuai dengan ko­mitmen yang sudah di buat se­belumnya,” pungkasnya. (h/dn)

Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]