Pendidikan dan Kurikulum yang Terbengkalai


Kamis, 20 Oktober 2016 - 03:13:24 WIB
Pendidikan dan Kurikulum yang Terbengkalai Ilustrasi.

 “Kebijakan yang baik adalah kebijakan yang dapat dijalankan dan dalam proses itulah evaluasi dan perbaikan dapat dilakukan”

Dalam menjalankan pendi­dikan sebagaimana yang di­amanatkan dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendi­dikan Nasional, untuk mewu­judkan proses berkembangnya kualitas generasi penerus bangsa di masa depan, yang diyakini menjadi faktor pe­nen­tu bagi tumbuh kem­bang­nya bangsa dan negara Indo­nesia sepanjang jaman.

Dari sekian banyak unsur sumber daya pendidikan, kuri­kulum merupakan salah satu unsur yang bisa memberikan kontribusi yang signifikan untuk mewujudkan proses berkembangnya kualitas po­ten­si peserta didik. Jadi tidak dapat disangkal lagi bahwa kurikulum, yang dikem­bang­kan dengan berbasis pada kompetensi sangat diperlukan sebagai instrumen untuk me­nga­rahkan peserta didik men­jadi: (1) manusia berkualitas yang mampu dan proaktif menjawab tantangan zaman yang selalu berubah; dan (2) manusia terdidik yang beri­man dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, ber­akhlak mulia, sehat, ber­ilmu, cakap, kreatif, man­diri; dan (3) warga negara yang demokratis dan ber­tanggung jawab.

Untuk itu Pengem­ba­ngan dan pelaksanaan kuri­kulum yang berorientasi ke­pada pe­serta didik yang dapat me­ning­katkan kompetensi meru­pakan salah satu strategi pem­bangunan pendidikan nasio­nal. Kurikulum Mengacu kepa­da defenisi kurikulum yang berasal dari bahasa curere (tempat berpacu). Istilah yang akrab didunia olah raga ini diartikan sebagai jarak yang ditempuh oleh para pelari dari start sampai finish untuk memperoleh medali atau peng­hargaan. Setelah itu istilah kurikulum diadopsi dunia pendidikan dan difenisikan menjadi sejumlah mata pela­jaran yang harus ditempuh oleh siswa sampai akhir pro­gram pelajaran untuk mem­­peroleh ijazah.

Kurikulum adalah pe­nen­tu arah dan ketercapaian tu­juan pendidikan dan penentu ragam kompetensi yang ingin dicapai dari suatu proses pendidikan dan pembelajaran. Kurikulum dibuat harus dapat menjawab tantangan dan kebu­tuhan masyarakat sebagai penguna pendidikan. Jadi kurikulum harus senantiasa diperbaharui namun pergan­tian kurikulum tidaklah boleh terkesan tergesa-gesa. Perlu diingatkan perubahan kuri­kulum hendaknya harus de­ngan kajian dan evaluasi yang mendalam. Setidaknya dalam merubah kurikulum harus memperhatikan beberapa prin­sip. Sukmadinata (2000) men­je­laskan ter­da­pat lima prin­sip pe­ngem­­ba­ngan dan eva­lu­a­si kurikulum yaitu: Prinsip Rele­vansi, fleksibelitas, konti­nuitas, praktis atau efesiensi dan efektifitas.

Jamak terjadi di Indonesia, pergantian mentri pendidikan dan kebudayaan diiringi de­ngan pergantian kurikulum. Di Indonesia tercatat ada dua kurikulum yang berumur pen­dek, mati ditangan rezim baru. Lihat saja, Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) lahir tahun 2004 dimasa Presiden Mega­wati Soekarno Putri mati 2 tahun kemudian setelah Presi­den Susilo Bambang Yudho­yono memulai kerja dengan kabinetnya. Begitu juga Kuri­kulum 2013 yang masih pada tahap percobaan dan sosia­lisasi diawal 2014, harus layu ditangan menteri pendidikan dimasa rezim presiden Joko widodo pada tahun yang sama.

Pemberlakuan kurikulum 2013 secara serentak diren­canakan oleh mendikbud di masa presiden Susilo Bam­bang Yudhoyono pada tahun ajaran 2015/2016 harus ter­hen­ti pada tanggal 5 Desember 2014 melalui kebijakan men­di­bud Anis Baswedan. Selan­jutnya sepanjang 2014 sampai pertengahan 2016 terjadi dua­lis­me pe­ne­ra­pan kurikulum di Indonesia yaitu kurikulum 2006 dan kurikulum 2013. Artinya pada saat itu arah pembangunan manusia In­do­­nesia berada pada jalur dan tar­get yang tidak jelas.

Sejatinya, kurikulum meru­pakan rambu-rambu dalam menjalankan pendidikan. Ana­­­­­loginya, dengan rambu-rambu yang jelas pengemudi akan dapat menjalankan mobil dengan baik sehingga selamat sampai tujuan. Coba bayang­kan pada jalur yang sama terdapat rambu-rambu yang ber­beda, mungkin saja penge­mu­di mobil akan celaka dalam per­­jalanan, dan tentunya tidak akan sampai ke tujaun. Begitu ju­ga kurikulum merupakan pan­­duan dunia pendidikan da­lam mewujudkan manusia In­do­nesia seperti yang ter­tuang da­lam Undang-Undang No. 20, Tahun 2003. Jika ku­ri­kulum yang berjalan le­bih da­ri satu, Bagaimana mungkin pen­­di­dikan di Indonesia men­ca­­pai tujuannya jika panduan­nya tidak mempunyai kejela­san.

Dengan alasan yang kuat menteri Anis tetap mem­per­ta­hankan kebijakannya sembari memperbaiki kurikulum 2013. Perbaikan kurikulum di­lakukan pada 4 aspek yaitu penataan kompetensi sikap spiritual dan sikap social, koherensi kompetensi inti-kompetensi da­sar, pemberian ru­ang kreatif ke­pada guru, pe­nataan kom­pe­tensi yang tidak di­ba­tasi oleh pe­­­­­meng­ga­­lan tak­so­­no­mi pro­ses ber­fikir. Perbaikan kurikulum 2013 yang dilakukan oleh Menteri Anis Baswedan, tentu­nya harus diiringi dengan perubahan standar kompetensi lulusan, standar proses, stan­dar isi pendidikan di Indo­ne­sia. Perubahan mendasar pada ku­rikulum 2013 diren­cana­kan Anis Baswedan dapat di­ja­lankan serentak di Indo­nesia pada tahun ajaran 2016-2017.

Belum lama setelah kuri­kulum 2013 selesai di per­baiki, kewenangan Anis Bas­wedan harus dicabut pemi­liknya yaitu Presiden Jokowi. Anis harus diganti dengan Muhadjir Efendi, Pakar sosio­logi pendidikan. Jokowi me­ngu­mumkan nama Muhadjir Effendy sebagai Mendikbud baru di Istana Kepresidenan pada hari Rabu 27 Juli 2016. Tidak lama menduduki kursi mentri Muhadjir mengelurkan wacana Full Day Scholl. Meski mendapat kritikan yang ba­nyak wacana tersebut juga akan dijalankan. Secara tidak lang­sung jika Full day Scholl dijalankan maka rambu-rambu pendidikan atau kurikulum tentunya harus diganti lagi. Jika itu terjadi maka ada 4 kurikulum akan berjalan ber­ba­rengan. Pertama, Full day School dengan konsekwensi perubahan kurikulum, KTSP, kurikulum 2013 lama dan Kurikulum 2013 yang telah diperbarui. Jika itu terjadi disitulah pendidikan Indone­sia tak akan pernah mencapai tujuannya.

Jika pemerintah hari ini mempunyai niat baik mem­perbaiki kualitas pendidikan di Indonesia. Langkah strate­gis yang harus dilakukan oleh mentri pendidikan hari ini adalah, menjalankan kuriku­lum yang telah dibuat dan di­per­baiki oleh mentri sebe­lum­nya. Karena kurikulum yang baik bukan hanya seke­dar diperbaiki tetapi kuriku­lum yang djalankan atau di im­plementasikan. Wassalam. (*)

 

RENO FERNANDES
(Dosen Kependidikan, Jurusan Sosiologi UNP dan Peneliti Revolt Insitute)
 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Kamis, 22 Desember 2016 - 00:52:20 WIB

    Ibu Sebagai Sentral Pendidikan

    Ibu Sebagai Sentral Pendidikan Sebagai agen sosialisasi pertama, seorang ibu memegang peran sentral dalam pendi­dikan, yaitu di dalam keluarga. Dimana keluarga merupakan tempat intensitas nilai yang paling dominan untuk membentuk karakter seseorang anak.
  • Selasa, 13 Desember 2016 - 01:23:26 WIB

    UN Merusak Keadilan Pendidikan

    Para guru di sejumlah daerah se­akan bergairah ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Men­dik­bud) Muhadjir Effendy beren­cana memoratorium ujian nasional (UN). UN akan diganti menjadi ujian sekolah ber­standar nasion.
  • Selasa, 06 Desember 2016 - 01:25:05 WIB

    Industri dan Pendidikan Kita

    Industri dan Pendidikan Kita Bagaimana teknologi dihasilkan? Tentu saja melalui riset. Riset adalah kerja intelektual, tentu saja. Tapi tidak hanya itu. Riset pada saat yang sama adalah “kerja rodi” fisik..
  • Kamis, 01 Desember 2016 - 01:20:58 WIB

    Pendanaan Pendidikan dan Pungli

    Pendanaan Pendidikan dan Pungli Dunia pendidikan galau, pasalnya Ombudsman mengumumkan laporan masyarakat terkait dugaan pungutan liar (pungli) justru banyak terjadi di dunia pendidikan, banyak beredar di media sosial (medsos) informasi 58 jenis pungli di s.
  • Sabtu, 26 November 2016 - 01:20:46 WIB

    Reinventing Masa Depan Pendidikan

    Reinventing Masa Depan Pendidikan Di Hari Guru Nasional 25 November 2016 ini deretan kasus di sekolah terus bermunculan, seolah tak ada hentinya. Saat ini publik dihebohkan oleh dugaan tindakan guru yang menampar dan menendang salah satu siswa di Grobogan Jaw.
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM