Tebas Pungli dengan Keterbukaan Informasi


Jumat, 21 Oktober 2016 - 01:37:40 WIB
Tebas Pungli dengan Keterbukaan Informasi Ilustrasi.

PUNGLI alias pungutan liar makin popular setelah akhir pekan lalu Kapolri lakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) di Ke­men­hub RI. Bahkan TKP pungli itu pun didatangi Presiden RI Jokowi.

Presiden tak ambil hati sindiran banyak pihak terkait turun tangan langsung untuk soal Pungli. Jokowi menga­takan meski 10 ribu rupiah nilai Pungli-nya, kalau mem­beratkan rakyat yang harus dilayani akan saya sikat dan berantas.

PUNGLI sendiri bukan singkatan yang populer pasca OTT. Justru Pungli sudah berlangsung lama hampir di semua institusi resmi negara. Wajar Indonesia One  turun tangan karena sebaran pungli itu luas dan terjadi setiap saat. Memang sih nilai per Pungli kecil tapi kalau dikalikan dengan ratusan juta urusan melayani rakyat se Indonesia setiap hari, sangat mungkin totalnya melebihi total APBD Sumbar yang kisarannya Rp 3 triliun lebih. 

Terjadinya Pungli, juga karena adanya hubungan sim­biosismutualisma antara pu­blik dengan si pelayan publik. Karena tidak mau repot dan antri publik rela merogoh saku lebih untuk urusan tertentu.

Sebenarnya menebas Pung­li di institusi negara pelayan publik mudah yakni terapkan secara kaffah UU 14 tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP). Pa­jang nilai rupiah layanan dengan jelas ke masyarakat yang berurusan, lalu pastikan time limite (batas waktu) pela­yanan yang jelas sehingga tidak terjadi praktek ca­lo yang menyuburkan Pung­li itu. Terpenting lagi, masya­rakat harus berani ber­tanya kenapa harus bayar lebih sementara tarif resmi cuman segitu. Masyarakat juga harus berani memberitahu kepada pimpinan institusi pelayan publik atau ke aparat penegak hukum negara.

Nah, apakah selama ini tarif pelayanan tidak diketahui masyarakat? Sejak UU KIP diberlakukan banyak badan publik atau institusi negara memajang di papan pengu­muman, tarif layanan di insti­tusinya. Misal buat SIM, be­rapa rupiah atau bikin akte kelahiran atau dokumen kepe­ndudukan lainnya. Tapi sela­ma ini pajangan nilai tarif layanan itu sekedar ter­pasang, kolaborasi calo dengan pe­tu­gas mem­buat Pung­li te­tap saja su­bur. Adanya perintah Pre­siden yang ditindaklanjuti oleh Kapolri soal tebas Pungli, mulai bikin ciut para pelaku Pung­li itu. Bahkan banyak kepala daerah membuat eda­ran laporkan ke dia lewat ber­bagai media bisa SMS penga­duan, whatshap, atau tweeter. Pengaduan itu asal ada bukti maka sanksi hukum akan bi­cara. Kalau sejak dulu penin­dakan hukum kepada oknum pelaku Pungli bisa dipastikan overcapasitas penjara terjadi sangat luar biasa.

Dari pada berurusan de­ngan aparat hukum, ayo layani publik dengan terbuka saja jangan tertutup. Karena prak­tek Pungli subur ketika pelaya­nan publik ditutup tutupi atau pelayanan didiskriminasi jika masyarakat bayar lebih proses dipercepat, tapi kalau bayar sesuai tarif yang berlaku diper­sulit. Bahkan loket layanannya dibuat sedikit dan tidak nya­man untuk masyarakat antri.

Ingat! Presiden Jokowi sudah menegaskan untuk me­ne­­bas Pungli meski nilai ru­piah­­nya kecil. Sumbar sebagai pro­vinsi yang gubernurnya ingin menjadi pelayan publik ha­rus berani bertindak cepat. Sa­tuan kerja yang berurusan de­ngan masyarakatnya segera awa­si ketat. Kapan perlu di titik stra­­tegis tempat institusi pela­yan publik itu dipasang CC­TV/kamera tersembunyi, di­pa­­­sang secara diam-diam ja­ngan dikasih tahu kalau ada CCTV. 

Dan bagi ASN, jadikan perintah tebas Pungli Presiden ini untuk intropeksi diri bah­wa mereka diangkat dan di­sum­pah untuk melayani dan mengurus masyarakat. Digaji untuk ngurus rakyat. Jangan tergiur berkolaborasi dengan Calo atau menjadi Calo. Ka­lau tak dihiraukan justru bayangan jeruji penjara cepat atau lambat pasti menanti.

Masyarakat kedepan pasti se­makin cerdas dan semakin kri­tis. Apalagi UU 14 Tahun 2008 memberikan hak kepada ma­syarakat untuk tahu dan be­rani bertanya untuk apa uang­nya dipungut. Karena hak untuk tahu masyarakat itu ada­lah pengejawantahan dari Hak Asasi Manusia Universal dan di­akui konstitusi negara UUD 1945 Oasal 28F.

Tidak ada yang perlu dita­kutkan ter­ha­dap UU 14 tahun 2008, se­pan­jang badan pu­blik melak­sa­nakan ketentuan perun­dang-unda­ngan terkait keter­bu­­kaan infor­masi publik. Me­ru­­pakan tu­juan bersama agar ter­ciptanya penye­leng­garaan pe­me­rinta­han yang baik dan ber­­sih (good and clean gover­nan­­ce) dengan munculnya par­tisipasi dan pengawasan pu­­blik, mulai dari peren­ca­na­an, pelaksanaan dan peman­fa­­atan pembangunan maupun peng­gunaan ke­ua­ngan negara atau daerah.

Memang diakui, mem­boo­mingkan pemahaman dan me­ng­aplikasikan keterbukaan in­formasi masih menjadi ja­lan berliku. Tak hanya badan pu­blik yang oleh UU KIP men­jadi lembaga si pemilik in­formasi publik, juga masih ba­nyak yang lips service da­lam pemahamannya. Terbukti sa­­at pemeringkatan badan pu­blik yang dilaksanakan KI Sum­bar untuk kedua kalinya, me­nemui fakta pemahaman si pemilik informasi publik ma­sih rendah dari harapan sesuai stan­dar layanan informasi pu­blik yang diatur oleh pera­tu­ran Komisi Informasi RI No­mor 1 Tahin 2010. Bahkan ma­sih ada badan publik me­ne­­rap­kan pelayanan informasi pu­­bliknya asa kapeh jadi ba­­­nang, asa banang jadi ka­­­in alias asal jadi atau se­­kedar menjawab tun­­­­tutan UU KIP saja.

Hak ma­sya­rakat untuk ta­hu ber­bagai in­formasi badan publik. Dan ko­misi in­for­masi se­su­ai fungsi dan ke­we­na­ngan­nya juga terus me­la­ku­kan su­­­­pervisi un­tuk badan pu­­­blik agar te­rus ber­be­nah serta men­jadi­kan pe­nge­lo­la­an dan pela­ya­nan in­for­masi pu­­blik se­bagai peng­­­­ha­rus­uta­maan. Ja­ngan biar­kan ke­ter­­­bu­kaan infor­ma­si pu­blik tumbuh ma­sive di ma­sya­rakat. Bila badan pu­blik tidak mempersiapkan diri, di­­­pasti­kan dapat me­nyeret pim­­pinan badan publik du­duk di kursi termohon di pe­nye­le­sai­an seng­keta infor­masi di ko­mi­si infor­masi. Muara­nya, pim­pi­nan badan publik ber­po­ten­si du­duk di kursi pe­sa­kitan di pe­nga­dilan seba­gai ter­dakwa tin­dak pi­dana infor­ma­­si publik sesuai Pasal 52 UU KIP.

Ayo bersama menebas prak­­­­­­tek Pungli, dan dengan UU KIP kita jadikan Sumbar Provinsi Bebas Pungli. (**)

 

ADRIAN TUSWANDI
(Komisioner KI Sumbar)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]