Keberpihakan untuk Komoditas Gambir Sumbar


Kamis, 27 Oktober 2016 - 01:08:26 WIB
Keberpihakan untuk Komoditas Gambir Sumbar Ilustrasi.

Berawal dari rentetan cerita demi cerita tentang Sumbar di salah satu group Whatsapp beberapa waktu lalu, setelah pembicaraan  kesana kemari, salah seorang kawan jurnalis Sumbar akhirnya mengangkat topik tentang komoditas gambir di Limapuluh Kota yang katanya belakangan kurang

mendapat perhatian. Konon menurut beliau, komoditas gambir Sumbar menjadi penentu pasokan gambir global. Sehingga cukup realistis jika beliau mencoba mengangkat topik komoditas tersebut sebagai isu.

Saya kira, pemerintah da­erah, baik provinsi maupun ka­bupaten /kota,  memang harus mulai memperlihatkan komitmen yang teguh dan konsisten terkait eksistensi dan ekspansi komoditas gam­bir Sumbar. Bukan saja demi kesejahteraan petani peng­hasil gambir, tapi juga karena keunggulan komparatif (com­parative advantages) yang dimiliki komoditas gambir yang bisa menjadi daya tawar Sumbar di pasar gambir global.

Dari data yang ada, Indo­nesia merupakan negara peng­ekspor gambir terbesar di dunia. Dari data tahun 2012, 80% produksi dan pasar eks­por gambir dunia berasal dari Indonesia dan 80% produksi gambir Indonesia berasal dari provinsi Sumatera Barat. Dari data ini saja sudah jelas terlihat bahwa gambir Sumbar adalah komoditas daerah dengan ke­unggulan komparatif yang harus benar-benar dirawat dan dimajukan.

Bagi sebagian orang, gam­bir identik sebagai bahan pelengkap kunyahan cam­puran sirih dan kapur hasil pembakaran cangkang ke­rang. Namun, bagi kalangan industri farmasi, tekstil, pa­ngan, kosmetik, dan seba­gainya, gambir bak permata. Gambir diimpor oleh negara luar untuk memenuhi kebu­tuhan katekin dan tanin yang dikandung oleh tanaman tersebut. Data menunjukan, produksi gambir paling tinggi di Sumatera Barat adalah Ka­bupaten Limapuluh Kota de­ngan jumlah produksi un­tuk tahun 2012 sebesar 7.833,­92 ton dan konon me­nu­rut jur­nalis kawan saya tadi, saat ini sudah mencapai ang­ka 20.­000 ton per tahun. Pro­duk­si ini terutama disum­bang­kan dari Kecamatan Ka­pur IX dan Pangkalan Koto Baru.

Menurut  Dr Hamda Fauza dari Fakultas Pertanian Unand, pada masa lalu gambir menjadi salah satu primadona Nu­santara. Berdasarkan doku­men De Landbouw­expor­t­ge­was­sen van Nederland Indië (Bidang Pengawasan Tanaman Ekspor Pemerintah Hindia Belanda) yang dikutip Hamda, pada 1939 masih ada delapan perusahaan perkebunan gam­bir. Bahkan, pusat penelitian mengenai tanaman gambir di­dirikan di Tanjung Pati, Ka­bupaten Limapuluh Kota, Su­matera Barat. Dan pada 1892 terdapat perusahaan perke­bunan NV Cultuur Maats­­chappij Indragiri di Riau. Sementara pada 1906 terdapat Perusahaan Perke­bunan Gu­nung Melayu di bawah Plan­tagen Gesselschaft (Swiss) yang beroperasi di kawasan pantai timur Sumatera (Asahan). Gambir juga diupayakan Peru­sahaan Tanah Havea di Sampit, Kalimantan Tengah sekarang.

Masih menurut menurut Hamda, pada masa itu kawasan Selat Malaka, Kalimantan Barat, pantai timur dan pantai barat Sumatera, Bangka, serta Belitung menjadi lokasi per­ke­bunan gambir. Dalam artikel berjudul Menatap Sejenak Era Kejayaan Gambir, Sang Prima­dona di Masa Lalu (Gema Andalas, 2007), Hamda menu­lis, pada 1920-1940 produksi gambir Indonesia mencapai 15.000 ton setiap tahun. Ing­gris, Amerika Serikat, Jerman, Belanda, dan Singapura adalah negara-negara penyerap hasil produksi itu dengan nilai jual 100 dollar AS hingga 400 dollar AS per ton.

Dari sumber yang sama disebutkan, pada 1830 indus­tri cat di Inggris mulai meng­gunakan gambir. Pada 1839, ekspor gambir ke Inggris men­capai 5.213 ton dan terus meningkat. Bahkan, proses produksi gambir saat itu masih lebih canggih jika diban­dingkan dengan proses yang dilakukan petani gambir seka­rang. Perdagangan gambir yang meng­geliatkan Nusantara ter­se­but direkam William Mars­den dalam Sejarah Sumatra yang dimuat dalam edisi ketiga buku tersebut pada 1811 dan diterbitkan ulang Komunitas Bambu (2013). Marsden me­nye­butkan, kala itu gambir merupakan komoditas dagang penting di Siak, Kampar, Indragiri, dan kawasan timur Sumatera. Hamda menduga, maraknya gambir di kawasan tersebut kemungkinan karena ko­moditas itu berasal dari ka­wasan Semenanjung Mala­ya.

Kembali ke cerita jurnalis kawan saya tadi, masalah saat ini terletak kepada harga jual petani yang sangat rendah dibanding harga pasar. Selain itu, banyak cerita off the record yang beliau sampaikan terkait dinamika komoditas gambir di Limapuluh Kota yang menurut saya sangat memerlukan perhatian khusus pemerintah daerah, terutama pembenahan tata niaga gambir di level kabupaten penghasil dan pembukaan akses seluas-luasnya bagi petani gambir kepada harga pasar. Bahkan dari cerita yang saya terima, koperasi pun tidak ada, se­hing­ga petani atau kelompok petani tidak menemukan opsi lain untuk menjamah pasar alias sangat bergantung kepa­da tengkulak, pengepul, dan pemain-pemain yang cen­drung monopolistik di sana.

Saya kira, selain berinisiatif menunjuk badan usaha atau BUMD untuk menangani pe­nam­pungan produksi petani, pemda harus pula mendorong terbentuknya  pelaku usaha lain  selain aktor-aktor besar yang cendrung memonopoli, yakni kelompok tani dan ko­pe­rasi. Kelompok tani dan koperasi tersebut sejatinya bisa menjadi tameng petani untuk menembus pasar nasio­nal dan global jika harga yang dimainkan pelaku utama ter­la­lu rendah. Bahkan tidak menutup kemungkinan kope­ra­­si dan kelompok tani terse­but diupayakan untuk me­ngua­­sai kompetensi digital se­hing­ga mendapat banyak in­fo­marsi pasar gambir dunia dan mempunyai pengetahuan un­­tuk memanfaatkan pasar ma­­ya  demi peningkatan per­min­­taan dan penjualan dari luar daerah.

Selain itu, pemda juga harus terus memperjuangkan agar komoditas gambir masuk resi gudang. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Ko­mo­diti (Bappebti) harus di­ajak bersinergi dan diingatkan terus menerus agar gambir masuk resi gudang. Usulan semacam ini pernah saya de­ngar datang dari Pemprov kepada Bappebti tahun lalu, namun sampai hari ini saya belum mendengar kabar ter­ba­runya.  Dan berdasarkan berita yang sempat saya pantau, gudangnya di Limapuluh Kota bahkan  sudah selesai.

Padahal mendaftarkan gam­­bir ke pasar berjangka dan forward trading sangat­lah pen­ting karena selain menjadi ko­moditas unggul sumbar, juga sangat ber­pe­ngaruh ter­hadap stabilitas harga. Lihat saja data terbaru dari Dinas terkait, Sumbar merupakan penghasil gam­bir terbesar di dunia dengan pemenuhan kebutuhan men­capai 90%. Dari jumlah itu, 67% berasal dari Kabupaten Limapuluh Kota. Bukan kah data sema­cam ini sudah cu­kup untuk menggambarkan betapa stra­tegis dan pen­tingnya komo­ditas gambir bagi Sumbar. Bahkan boleh jadi komoditas gambir ada­lah salah satu ko­mo­ditas yang seharusnya mem­buat kita bangga menjadi orang Sumbar karena faktor ke­unggulan komparatifnya ba­gi daerah. ***

 

RONNY P SASMITA
(Staf Ahli Komite Ekonomi dan Industri Nasional Republik Indonesia)
 


Akses harianhaluan.com Via Mobile m.harianhaluan.com

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]
APP HARIANHALUAN.COM