Rais Yatim Sandang Gelar Doktor Kehormatan dari Unand


Kamis, 27 Oktober 2016 - 02:40:44 WIB
Rais Yatim Sandang Gelar Doktor Kehormatan dari Unand Tan Sri Dato’ Seri Utama DR Rais Yatim saat menerima piagam penganugrahan gelar doktor kehormatan bidang hukum dan kemasyarakat dari Rektor Unand Tafdil Husni, di Convention Hall Unand, Rabu (26/10). (HUMAS)

PADANG, HALUAN—Universitas Andalas baru saja menganugrahkan gelar doktor kehormatan bidang hokum dan kemasyarakatan kepada Tan Sri Dato’ Seri Utama DR Rais Yatim, di Convention Hall Unand, Rabu (26/10). Penasehat Sosio-Budaya Kerajaan Malaysia (setingkat menteri) ini berencana men­ja­dikan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di negara ASEAN.

Pendapatnya ini bukan tanpa alasan. Dalam sambutan yang disampaikannya saat menerima gelar doktor kehormatan ini pada rapat senat terbuka, ia menitikkan empat poin terkait pendapatnya tersebut.

Pertama, ia sangat geram seka­li melihat orang timur yang berkiblat ke barat sehingga ke depan, perguruan tinggi di barat­lah yang harus berkiblat ke timur. Kedua, perguruan tinggi di kawa­san ASEAN ini perlu membuat persekutuan dalam Dunia Melayu Islam dan menjadikan budaya Minangkabau sebagai salah satu penunjang budaya Melayu. Keti­ga, menjadikan bahasa Indonesia dan Melayu sebagai bahasa ilmu, perdagangan, perhubungan dan lainnya. Keempat adalah tidak menerima 100 persen pema­ha­man barat tentang hak asasi manusia, sehingga bangsa timur melupakan identitasnya masing-masing.

“Selama ini istilah-istilah dalam dunia teknologi, otomotif, ekonomi dan lainnya selalu meng­gunakan istilah barat. Padahal kita punya bahasa yang sepadan. Jika bahasa tersebut kita gunakan terus, kapan teknologi dan ahli-ahli di dunia timur ini akan dipakai,” terangnya.

Rais yatim juga menyebut, jika bahasa Indonesia dan Melayu ini belum bisa digunakan seluruh ASEAN, setidaknya sudah dimu­lai oleh Indonesia dan Malaysia terlebih dahulu. “Ini setiap kali pertemuan, semua utusan dari negara ASEAN pakai bahasa Inggris, seperti tak punya bahasa lain saja,” selo­rohnya.

Terkait adanya ketegangan antara Indonesia dan Malaysia yang berkaitan dengan budaya, kesenian maupun kuliner, Rais Yatim melihat ini tidak perlu terjadi. Munculnya makanan randang di Malaysia, karena sudah terjadi evolusi budaya Minangkabau itu sendiri. Sebe­lum Indonesia merdeka, sebelum ASEAN terbentuk, suku-suku di Indonesia sudah lebih dulu me­ran­tau ke negara ASEAN dan hidup dengan budaya asalnya. Hal ini mereka wariskan kepada anak cucu, sehingga muncullah di Malaysia randang, reog dan lainnya.

“Jangan dianggap ini sebagai hal yang negatif, tapi jadikan pemersatu,” harapnya.

Rais yatim juga mendorong, pakar-pakar dari perguruan tinggi di Sumatera Barat dan Indonesia untuk menggunakan ilmunya di nusantara. Dan pemerintah perlu mengapresiasi pakar ini seperti dunia barat mengapresiasi mere­ka. Menurutnya, pengaruh barat sudah sangat kuat di kawasan Indonesia dan Melayu dan inilah yang harus didobrak oleh pergu­ruan tinggi. Tidak hanya dalam bidang kelimuan, tapi juga dalam bidang kehidupan sehari-hari.

“Tiap kali mereka mencipta sesuatu, tiap kali budaya kita berubah. Facebook, whatsapps dan lainnya sudah mengubah budaya komunikasi kita. Bahasa sopan dan santun tak ditemukan. Keindahan bahasa beradat, ke­kuatan mufakat, spiritual tinggi tak ditemukan,” ucapnya geram.

Sementara itu, tim promoter Dr Rais Yatim yang terdiri dari Prof Dr Yuliandri, SH, MH, Prof Dr Firman Hasan, dan Prof Dr Yaswirman  saat memberikan usulan gelar doktor kehormatan bidang hukum dan kemasyara­katan ini didasarkan pada dua alasan utama. Pertama, sebagai seorang yang menyadari betapa pentingnya membangun hubu­ngan antar bangsa, maka dalam konteks masyarakat serumpun Indonesia-Malaysia, Dr Rais Ya­tim senantiasa memberikan per­hatian dan dukungan melalui berbagai aktivitas. Memaknai hubungan serumpun, juga ter­ungkap dalam pemikiran-pe­mikiran yang dituangkannya melalui karya tulis, termasuk dalam bentuk pantun.

“Ada ungkapan yang disam­paikan oleh Tan Seri Rais bah­wa ”Sesungguhnya bahasa, budaya dan agama lah yang lebih berupaya menyatukan kita dari segi sebenarnya—bukan politik atau teori-teori kemanusiaan yang lain,” terang Yuliandri.

Kedua, latar belakang pendi­dikan Dr Rais Yatim di bidang hukum dan pengaruhnya dalam membangun karier politik serta menjalankan  tugas-tugas peme­rintahan dalam konteks hubungan Indonesia-Malaysia, telah membe­rikan makna dalam mendukung cita-cita masyarakat serumpun. Melalui berbagai karya, termasuk karya monumental Adat, the Lega­cy of Minangkabau, dapat dijadikan dasar untuk membaca berbagai gagasan Dr Rais Yatim untuk menata dan mengem­bang­kan Adat Minangkabau. Dalam konteks ke Indonesiaan, dapat dimaknai bahwa pengembangan hukum adat merupakan bagian dari pilar pengembangan sistem hukum nasional. 

Rektor Universitas Andalas Tafdil Husni sangat menyambut baik pemberian gelar doktor kehormatan kepada salah satu tokoh berpengaruh dalam hubu­ngan Indonesia-Malaysia ini. Ia berharap ke depan hubungan Unand dengan Malaysia juga semakin baik.

“Universitas Andalas adalah salah satu perguruan tinggi ter­baik di Indonesia, berada pada posisi ke-11 dari 4.000 perguruan tinggi di Indonesia dengan akre­ditasi A. Kami berupaya melahir­kan peneliti-peneliti terampil yang bisa membangun bangsa,” terangnya.

Diketahui, Tan Sri Dato’ Seri Utama DR Rais Yatim merupakan orang Minang tulen. Ayahnya ialah Muhammad Yatim dan Ibunya Siandam, berasal dari Nagari Palupuah, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Pada 17 Desember 2015 Dr Rais Yatim bersama Prof Bagir Manan men­dapat anugrah Bintang Maha­putra Antara (Antara Award) pada acara peringatan ulang tahun LKBN Antara yang ke-78. Tan Sri Rais dianugerahi atas kegiatan dan jasa-jasanya serta semangat­nya yang tinggi dalam upaya membangun hubungan Malaysia Indonesia. (h/adv)

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Ahad, 29 November 2015 - 20:13:59 WIB

    SBY dan Amien Rais: Pilih MK-Fauzi

    Dukungan terhadap pasangan Muslim Ka­sim-Fauzi Bahar terus mengalir. Presiden RI ke-6 dan mantan Ketua MPR RI bahkan m.


KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]