Pemuda Mari Berkarya


Jumat, 28 Oktober 2016 - 00:52:10 WIB

Hari ini, tanggal 28 Oktober 2016 kita mem­peringati Hari Sumpah Pemuda yang ke-88.  Sumpah Pemuda lahir pada tanggal 28 Oktober 1928, suatu pengakuan da­ri Pemu­da-Pemudi Indonesia yang meng­ikrar­kan satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa.

Sumpah Pemuda lahir hasil rumusan dari Kerapatan Pemuda-Pemudi atau Kongres Pemuda II Indonesia. Kongres Pemuda II dilaksanakan tiga sesi di tiga tempat berbeda oleh organisasi Perhimpunan Pelajar Pelajar Indonesia (PPPI) yang beranggotakan pelajar dari seluruh wilayah Indonesia.

Kongres tersebut dihadiri oleh berbagai wa­kil organisasi kepemudaan yaitu Jong Java, Jong Batak, Jong, Celebes, Jong Sumatranen Bond, Jong Islamieten Bond, Jong Ambon, dan sebagainya serta penga­mat dari pemuda ti­ong hoa seperti Kwee Thiam Hong, John Lauw Tjoan Hok, Oey Kay Siang dan Tjoi Djien Kwie.

Atas inisiatif PPPI, kongres dilaksanakan di tiga gedung yang berbeda dan dibagi dalam tiga kali rapat. Rapat pertama, Sabtu, 27 Oktober 1928, di Gedung Katholieke Jongen­lingen Bond (KJB), Waterlooplein (sekarang Lapangan Banteng).

Dalam sambutannya, ketua PPPI Su­gon­­do Djojopuspito berharap kongres ini dapat mem­perkuat semangat persatuan dalam sa­nu­bari para pemuda. Acara dilanjutkan de­ngan uraian Moehammad Yamin tentang arti dan hubungan persa­tuan dengan pemu­da. Me­nurutnya, ada lima faktor yang bisa mem­per­kuat persa­tuan Indonesia yaitu seja­rah, ba­hasa, hukum adat, pendidikan, dan ke­mauan

Rapat kedua, Minggu, 28 Oktober 1928, di Gedung Oost-Java Bioscoop, membahas masalah pendidikan. Kedua pembicara, Poernomowoelan dan Sarmidi Mang­oen­sarkoro, berpendapat bahwa anak harus mendapat pendidikan kebangsaan, harus pula ada keseimbangan antara pendidikan di sekolah dan di rumah. Anak juga harus dididik secara demokratis.

Pada rapat penutup, di gedung Indo­nesische Clubgebouw di Jalan Kramat Raya 106, Sunario menjelaskan pentingnya nasionalisme dan demokrasi selain gerakan kepanduan. Sedangkan Ramelan menge­mukakan, gerakan kepanduan tidak bisa dipisahkan dari pergerakan nasional. Gera­kan kepanduan sejak dini mendidik anak-anak disiplin dan mandiri, hal-hal yang dibutuhkan dalam perjuangan.

Kita salut dengan para pemuda terdahulu yang berpikiran jauh ke depan. Apa yang dicita-citakan Pemuda Indonesia pada tahun 1928 itu tetap relevan dan harus diperta­hankan sampai sekarang.

Kejayaan sebuah bangsa sangat tergan­tung kepada pemudanya. Pemuda sangat berperan mengisi dan melanjutkan cita-cita perjuangan kemerdekaan.

Satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yang diikrarkan dalam Sumpah Pemuda menjadi perekat persatuan dan kesatuan bangsa. Kita tak bisa memba­yangkan apa yang terjadi jika saja tidak ada ikrar pemuda.

Perjuangan pemuda dulu dengan seka­rang tentu ada bedanya. Dulu pemuda ber­juang untuk merebut dan memper­ta­hankan kemerdekaan. Pemuda sekarang ha­rus mengisi kemerdekaan dengan berkar­ya.

Pemuda  harus membuat dirinya bernilai melalui usaha dan kerja keras. Hai pemuda, cetak prestasimu dengan berkarya. Karya yang berguna untuk bangsa dan negara tercinta ini. ***

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]