BERKUNJUNG KE HUTAN NAGARI PULAKEK DAN KOTO BARU (1)

Hutan Terjaga, Terbitlah Terang


Ahad, 30 Oktober 2016 - 15:19:16 WIB
Hutan  Terjaga, Terbitlah Terang Leni, gadis desa memanfaatkan air bersih dari Hutan Nagari Pulakek Koto Baru

BERKUNJUNG  KE  HUTAN  NAGARI PULAKEK DAN  KOTO BARU  (1)

Hutan Terjaga, Terbitlah Terang


SENJA mulai temaram di kampung Jolok  Sirah. Kicauan burung-burung  yang pulang ke sarang, bagai senandung indah yang menyambut hangat kedatangan kami.

 

Namun  tidaklah mudah untuk sampai ke perkampungan yang berada dalam Hutan Nagari Pulakek Koto Baru, Kecamatan Sungai Pagu, Kabupaten Solok  Selatan, Sumatra Barat  (Sumbar) ini.

 

Setelah melewati  Kawasan Seribu Rumah Gadang yang menghadirkan sejuta pesona  itu, perjalan dari kota Padang masih  dilanjutkan di jalan yang cukup mulus sekitar  setengah jam  lagi. 

 

Hanya saja,  jika menumpangi mobil perkotaan, perjalanan harus berakhir di simpang  Sungai Sirah. Dari sini perjalanan cuma dapat dilanjutkan dengan berjalan kaki, karena yang terbentang belasan  kilometer ke dalam  hutan hanya  jalan  beraspal tanah. Aspal yang  mencair menjadi kubangan lumpur ketika diguyur hujan.

 

Beruntung para jurnalis  peserta Media Touring yang dilaksanakan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI, selama dua hari, Minggu dan Senin  itu, disediakan mobil  jeep offroad.  Dengan angkutan   double gardan itulah  perjalanan menyusuri  jalan berlumpur dapat dilanjutkan. Tentu,   dengan suasana  hati yang  ngeri-ngeri asyik.

 

Tak terbayangkan, perjalanan di tengah hutan itu  akan  berujung  pada  sebuah perkampungan terpencil dengan  rumah-rumah  kayu, surau  tua, dan bahkan  gubuk-gubuk  peladang yang sudah  diterangi  cahaya  listrik.

 

"Walau   tinggal di kampung terpencil yang tidak pernah dijamah kabel listrik  PLN, namun kami  telah  menikmati penerangan listrik sejak  enam  tahun silam. Inilah salah satu nikmat yang tak ternilai dari kesetiaan kami  menjaga  dan membela kelestarian  hutan,"  kata Roslina ketika berdialog dengan para jurnalis.

 

Perempuan yang keseharian bertani padi sawah dan sedikit ladang cabe rawit ini kemudian berdiri. Empu jarinya menunjuk ke arah sungai di bawah sana yang ditutupi rimbunnya pepohonan.  Sungai itu  masih mengalir deras, sekalipun di puncak musim kemarau.

 

"Itulah sumber cahaya terang kami Itulah  yang membuat anak-anak kampung di tengah hutan ini, tetap bisa belajar dan mengaji di malam hari,"  tutur Roslina.

 

Di rumah perempunan yang bersuamikan penyadap karet ini, tersedia sebuah televisi 14 inci. Memang  bukan  televisi layar datar, bukan  pula tv kabel.  Sebuah  antene  parabola seperti kuali besar,  tertancap di pekarangan rumahnya. Itu sudah  cukup untuk menangkap siaran.

 

" Dari tayangan di   televisi itulah saya jadi kenal wajah bu Siti Nurbaya, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Walau pun saya berdomisili  di tengah  hutan dan belum  pernah bertemu langsung dengan beliau," ujar ibu dua  anak ini bangga.

 

"Tetapi, sesekali saya juga nonton sinetron,"  kata Roslina,  perempuan desa tidak tamat SMP  ini.

 

Sumber energi terbarukan di tengah  hutan  itu berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hydro (PLTMH)  yang dibangun tahun tahun 2010 silam. 

 

"Sumber tenaga listrik  dari  energi terbarukan ini adalah aliran  sungai di tengah lebatnya  hutan. Air sungai di sini  tidak pernah kering  di musim kemarau. Karena kawasan  hutan terus terjaga  dengan baik,"  jelas Yasriana, Sekretaris pengelola PLTMH Koto Birah.

 

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
Logo Bawah
KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing, Jalan Hamka Padang, Sumbar
Email: [email protected]