BERKUNJUNG KE HUTAN NAGARI PULAKEK DAN KOTO BARU (2)

Menolak Sawit, Mencegah Bencana Ekologi


Ahad, 30 Oktober 2016 - 15:23:28 WIB
Menolak Sawit, Mencegah Bencana Ekologi Tak mudah menuju kawasan Hutan Nagari Pulakek Koto Baru

Menolak Godaan Sawit, Mencegah Bencana Ekologi  

BESARNYA memanfaat kelestarian hutan, itulah  yang mendasari warga bersama KKI Warsi berjuang mendapatkan hak pengelolaan  hutan sejak tahun 2009.

 

Perjuangan panjang itu akhirnya membuahkan  hasil dengan terbitnya Surat Keputusan Menteri Kehutanan No SK 855/Menhut-11/2013 tanggal 2 Desember 2013. Kemudian dilanjutkan dengan Surat Keputusan Gubernur No. 522.4-241-2015 yang menentapkan  kawasan Hutan Nagari Pulakek Koto Baru seluas  4.265 hektare,  terdiri atas hutan lindung 2.255 hektare dan 2.010 hektare berada dalam hutan produksi terbatas.


Manajer Advokasi dan Kebijakan KKI Warsi, Rainal Daus mengakui, kesetiaan masyarakat Jolok  Sungai Sirah  menjaga kelestarian hutan, sangat pantas diapresiasi.

 

" Meskipun status kawasan hutan  merupakan hutan produksi terbatas, namun rakyat  sepakat untuk menjaganya. Mereka sudah sadar  bahwa fungsi hutan sebagai sumber air, tempat berlindung satwa dan penghasil oksigen serta pencegah bencana  ekologi," jelas Rainal Daus.
 

Telah berulangkali datang tawaran dari perusahaan perkebunan,  agar hutan  digarap jadi perkebunan sawit. Tapi masyarakat sepakat menolaknya, mereka tidak  terperdaya oleh godaan yang amat menggiurkan itu.

 

"Karena masyarakat sangat sadar, kalau perusahaan sawit  masuk,  pasti hutan bakal dibabat habis, dan  berganti dengan 'hutan' sawit yang rakus air dan tidak menyimpan air," jelasnya.
 

Kini, agar hutan tetap lestari tetapi masyarakat   tidak termarginalkan,  maka KKI Warsi  juga melaksanakn pemberdayan ekonomi.

 

"Dengan pola berjuang bersama, belajar bersama, dan melaksanakan bersama warga, kita mendampingi warga memanfaatkan  sumber daya berbasis kearifan lokal dan pelestarian alam," jelas Riche Rahma Dewita, Koordinator KK Warsi Sumbar.

 

Diantaranya, kata Riche   dengan pelatihan pengolahan hasil hutan bukan kayu,  seperti pelatihan kerajinan anyaman rotan dengan berbagai anek produk turunanya. Mulai dari kursi rotan hingga cendramata dan asesoris menarik lainnya dari rotan.

 

"Juga penanaman kopi  dan kapulaga sebagai solusi dari  makin terpuruknya harga karet yang  selama ini menjadi sumber pendapatan  sebagian  besar warga," jelasnya.

 

loading...
Akses harianhaluan.com Via Smartphone harianhaluan.com/mobile

[ Ikuti Terus HarianHaluan Melalui Media Sosial ]

TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
  • Senin, 19 Desember 2016 - 01:25:01 WIB

    Menolak Warga Asing Berorganisasi di Indonesia

    Nyaris tak ada yang setuju, Warga Negara Asing (WNA) membuat orga­nisasi di Indo­nesia. Penolakan terjadi, dan akan terus terjadi. Karena, keberadaan WNA di Indone­sia, jelas akan membaut masalah saja. Tidak dibolehkan saj.
  • Selasa, 24 Mei 2016 - 05:03:41 WIB

    Menolak Kebangkitan Komunis

    Gencarnya gerakan dan per­nya­taan sikap menolak idiologi ko­munis dan kebangkitan PKI be­lakangan ini, kita nilai memang sudah sangat wajar..
  • Sabtu, 16 Januari 2016 - 03:26:50 WIB

    Menolak Nalar Gafatar

    Menolak Nalar Gafatar Publik tanah air kembali gempar oleh aksi or­ga­ni­sasi Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar. Organisasi yang di­dekla­rasikan 21 Januari 2012 dan berlogo matahari bersinar ini, mengklaim bergerak dalam bidang sosial dan.

KANTOR PUSAT:
Komplek Bandara Tabing,Jalan Hamka Padang,Sumbar
Email: [email protected]